enlightened, kisah

Karet Kabel dan STNK

16.Sep.2017 Sabtu sore, di tengah hujan rintik yang turun di kawasan Jl. Cirebon, aku berjalan cepat menuju toko aksesoris langgananku. Kemaren sebenarnya aku sudah datang ke toko ini untuk belanja, tapi sore ini aku punya misi yang lain.

Pegawai toko yang biasa melayaniku menyapa dengan hangat. Sambil senyum aku bilang aku bukan mau belanja karena kemaren sudah belanja, tapi mau ‘complaint’ struk belanjaku beberapa minggu lalu yang nggak sesuai.

Koko Er, begitu dia disebut oleh pegawai toko yang lain, menanyakan apa yang salah. Lalu aku bilang ‘ini loh Ko, liat harga no 8 dan no 11 di struk ini. Keduanya itu barang yang sama cuma beda motif, karet kabel. Yang no 8 harganya Rp135.000, yang no 11 harganya cuma Rp13.500.. Kurang satu nol-nya. Jadi ini aku mau bayar kurangnya..’

Koko Er bengong dan terdiam sesaat. Setelah tersadar dia menjawab ‘ya ampun kak, makasih banget ya.. jarang ada yang jujur kek gini. Orang jujur disayang Tuhan’.

Selesai membayar Rp121.500,- aku langsung pamit. Sekali lagi Ko Er mengucapkan terima kasih dan mendoakan semoga tokoku laris manis 😀

—//—

24.Sep.2017 minggu pagi jam 8 lewat aku bersiap-siap untuk menjemput Mamak. Yes, kami mau ibadah minggu ke GBKP Jl. Bahagia. Ketika ambil kunci mobil, dompet kunci kok terasa kempes ya.. Aku buka dompet, ada SIM, tapi STNK-nya kok ga ada ya? Dadaku langsung deg-deg-an.

Sambil menunggu mesin mobil panas, aku mulai mencari-cari STNK di sekitar ruang tamu, sambil mengingat-ingat kapan aku terakhir kali membuka/memasukkan/mengeluarkan benda dari dompet kunci. Seingatku terakhir bulan Juli yang lalu. Aku cek ke dompet uang, ga ada STNK. Mulai sedikit panik.

Aku  kirim SMS ke kakakku apakah dia ada mengeluarkan STNK dari dompet kunci ketika terakhir kali dia pakai mobil. Balasannya ‘ga ada, coba nanti cari lagi di rumahmu’. Perjalanan ke gereja jadi terasa lama dan aku kurang konsen mendengar cerita Mamak. Dalam pikiranku, kapan dan di mana STNK itu terjatuh? Aku terakhir buka dompet kunci itu 2 bulan yang lalu. Ke mana harus dicari?

Sepanjang ibadah berlangsung di kepalaku sibuk memikirkan STNK itu. Masih berharap STNK tercecer di rumah, aku SMS Ibu yang bersih-bersih rumah apa ada lihat STNK Mobil. Aku WA sepupu di toko, minta tolong nge-cek lantai dua dan minta tolong pegawai toko melihat di lantai 1, manatau ada yang nemu. Suara Ibu pendeta br. Ginting yang begitu semangat berkhotbah hanya sesekali menarikku untuk mendengar khotbahnya. Maafkan aku, Tuhan 😦

Aku merencanakan sepulang dari gereja akan ke doorsmeer tempat  aku mencuci mobil minggu lalu, manatau tercecer di situ. Kalo ndak ada berarti mulai hari Senin aku harus menelpon atau mendatangi toko-toko tempat aku biasa belanja di Pusat Pasar selama satu bulan ini. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menggoogle ‘cara mengurus STNK hilang’. Membaca artikel-artikelnya bikin makin pusing. Teringat cerita kakakku beberapa bulan lalu yang sungguh repot mengurus STNK motornya yang hilang. Sekarang aku jadi benar-benar panik.

Ibadah minggu selesai. Aku memegang tangan Mamak sambil antri untuk bersalaman dengan Ibu pendeta dan pelayan Tuhan. Terasa ada getaran di tas-ku. Aku mengabaikannya. Paling ada pesan atau notifikasi masuk di HP. Setelah bersalaman, aku sempatkan untuk beli beberapa makanan di bazaar yang diadakan oleh Moria Sektor VI.

Sambil berjalan menuju mobil, aku buka HP. Terlihat ada 4 missed calls dari Mak Gia. Tiba-tiba ada telpon, nama kakakku muncul di layar telepon. Suara kakakku terdengar di ujung sana ‘Ko lagi di mana? dari tadi Bapak Gia telpon. Itu STNK mu sudah ketemu. Daritadi Bapak Gia telpon, katanya ngga ko angkat. Coba lah ko hubungi Pak Gia’.

Tentu saja aku ga bisa angkat telpon karena tadi masih berada di dalam gereja. Masih setengah bingung bagaimana bisa STNK ku ada di rumah Gia, aku pun menelepon Abangku.

Ceritanya:

tadi jam setengah sebelesan, ada cowok pakai jaket Gojek datang ke rumah. Dia bilang mau mengantarkan STNK Ima. Aku juga bingung kok STNK mu ada sama mereka. Aku sempat curiga ini penipuan.  Aku coba telpon Ima tapi ga diangkat. Jadi aku telpon Rahma. Ternyata dia bilang memang STNK mu hilang.. Menurut Bang Gojek itu, temannya yang nemu STNK itu di Jl. Sutomo. Jadi dimintanya Bang Gojek itu yang cari alamat yang ada di STNK dan mengantarkannya. Jadi, tadi aku kasih uang Rpxxx.xxx,- ke mereka, kurang sih kayaknya, tapi cuma segitu aku lagi ada uang di dompet. Tapi itupun dah senang banget kok Bang Gojeknya. Tapi, aku lupa minta nomor HP-nya, karena dia pun juga kayaknya lagi buru-buru. Ima ke sini lah jemput STNK nya.

Oh Tuhan, betapa baiknya Engkau *merona*

Siang hari aku menceritakan secara ringkas kejadian STNK hilang ini di akun fesbuk-ku. Betapa masih ada orang baik yang masih peduli dengan orang lain. Comment beberapa temanku bernada sama ‘kebaikan berbalas kebaikan’.  Aku berpikir satu lagi kebaikan yang kuterima yang harus aku teruskan kepada orang lain.

—–//—–

Mungkinkah Tuhan membalas ‘kejujuran’ di  tanggal 16 September dengan kebaikan Bang Gojek di tanggal 24 September? Aku ndak tahu, tapi mungkin kebaikan berbalas kebaikan memang benar adanya.

Pay it forward.

Masih menjadi misteri bagaimana STNK bisa terjatuh dari dompet ini
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s