enlightened, kisah

Maksud Baik

Selasa kemaren (22 Agustus) ketika tiba di kampus, Chief Marketing (CM) bertanya padaku apakah bisa membantu marketing sebagai tim kedua untuk seleksi dan wawancara calon mahasiswa baru di Pakpak Barat pada tanggal 24-25 Agustus? Tim satu akan berangkat tanggal 23 Agustus dan tim kedua akan berangkat keesokan harinya. Dengan pertimbangan beberapa hal secara cepat di kepala, aku meng-iyakan permintaan dinas ini. It would be my first out of town in duty and my first time being at Pakpak.

Sore harinya, Ria, teman satu rumah di Bekasi jaman baheula, memberi kabar kalo dia akan berada di Medan pada hari Kamis (24 Agustus). Aduhh, kok bisa bersamaan dengan jadwal dinas ke Pakpak? Ajak ketemuan pas wiken, Ria bilang mereka akan main ke danau toba pada saat wiken. Sayang banget kalo ga ketemuan. Terakhir kali kami bertemu sekitar 3.5 tahun yang lalu saat aku menjenguk bayi Kania (anak kedua Ria) yang baru lahir.

Rabu (23 Agustus) siang di kampus, tatkala tim satu sedang bersiap-siap untuk berangkat, aku mendengar kalau jumlah calon mahasiswa yang akan diseleksi hanya sekitar 50% dari target semula. Akhirnya aku menanyakan kepada CM apakah tim kedua tetap akan berangkat. CM menjawab kemungkinan besar tidak jadi berangkat tetapi konfirmasinya akan diberitahu paling lambat Rabu malam. Ternyata Rabu sore sudah dapat konfirmasi tim dua tidak jadi berangkat. Agak kecewa juga karena sebelumnya sudah membayangkan akan menginjakkan kaki di daerah yang baru dengan cara abidin (atas biaya dinas), hehehe..

Kamis (24 Agustus) pagi aku mengirimkan pesan pada Ria kalau kami bisa bertemu malam ini karena aku batal ke Pakpak. Kami berjanji untuk makan malam bareng sekitar jam 7 malam. Aku akan menjemput ke penginapannya di Asrama Haji. Pas dengan rute pulang dari kampus.

Kamis sore aku pulang dari kampus diiringi dengan angin yang sangat kencang walaupun belum turun hujan. Situasi jalan menuju Asrama Haji cukup lancar, namun 1 km menjelang tempat tujuan hujan turun dengan saat derasnya. Satu level di bawah badai *lebay*.

Aku belum pernah masuk ke kawasan Asrama Haji, jadi aku memutuskan untuk menepikan mobil dulu lalu menghubungi Ria. Telepon ga diangkat, WA ndak terkirim. Akhirnya sms. Ada sekitar 20 menit aku menunggu sampai akhirnya Ria balas melalui WA bahwa dia lagi keluar untuk beli makan malam karena  ga ada gofood yang mengambil order di tengah badai seperti ini. Setelah mempertimbangkan beberapa hal, aku bilang untuk ketemu dengan Ria besok pagi saja sekalian melihat Moza (anak pertamanya) berlomba sepatu roda. Deal.

Aku mengarahkan mobilku ke Pemda dan mampir ke toko untuk ketemu Mamak dan Bi Uda. Kakakku ke Yogya tadi sore dan Bi Uda akan menemani mamak selama kakak di Yogya. Ngobrol sana sini dan akhirnya pamit pulang jam 9 lewat. Mampir sebentar di warung beli martabak telur dan bandrek susu. Ketika tiba di komplek rumah ternyata PLN padam, padahal di Jl. Setiabudi terang benderang.

Dengan bantuan emergency lamp dan senter ala kadarnya, aku menikmati martabak dan bandrek susu. Aku leyeh-leyeh di sofa ruang tamu dalam kegelapan dan sangat berharap  PLN segera nyala karena daya baterai hp-ku tinggal 15%. Jam 10 lewat dikit terdengar suara sms masuk dan ketika kubuka ada sms dari bi uda yang bilang ‘Ima, besok tolong panggil tukang kusuk ya. Barusan mamak jatuh dekat rak susu’. Dadaku langsung berdebar sangat keras.

Setelah menenangkan diri sejenak aku telepon Bi Uda menanyakan apa yang terjadi. Bi Uda cerita, ketika mamak bangkit dari tempat duduk dan berjalan untuk mengambil plastik untuk menutupi barang-barang, tiba-tiba aja Mamak seperti kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke belakang. Mamak bilang lantai licin sementara setelah di-cek tidak ada yang basah di lantai. Mamak dah dibawa ke atas, katanya.

Aku minta Bi Uda untuk memastikan mamak berbaring di tempat tidur, meminyaki kepalanya yang terbentur, memberi makan dan meminumkan obat rematik (Mamak bilang sebelumnya tangannya mulai menunjukkan gejala rematik akan kumat). Aku bilang akan datang ke toko untuk men-cek. Aku kirim WA dan sms ke Bapak Gia. Aku mandi supercepat dalam kegelapan, pakai baju dan celana yang warna dan modelnya ga matching sama sekali (karena toh aku akan balik ke rumah lagi), dan ngebut balik ke toko.

Mamak sudah tidur pas aku datang. Bi Uda menceritakan lagi apa yang terjadi dan menunjukkaan tempat di mana Mamak jatuh. Ketika aku masuk ke kamar dan duduk di tepi tempat tidur, sepertinya Mamak sadar ada orang. Mamak membuka mata dan ngomong berbahasa karo karena dipikirnya aku adalah Bi Uda. Beberapa saat kemudian baru Mamak ngeh kalo itu aku karena aku menyapanya dengan bahasa Indonesia. Ketika kutanyakan bagaimana keadaannya, Mamak bilang merasa badannya dingin, terutama kedua tangannya . Aku raba tangan dan leher Mamak, hangat kok. Aku nanya A, Mamak jawab B, ga ada yang nyambung. Sepertinya mamak masih shock.

Sudah hampir tengah malam dan sepertinya ga mungkin kalo ga nginap di toko. Akhirnya mobil diantar ke rumah kakak dan balik ke toko dengan berjalan kaki. Kawasan rumah kakak ternyata juga lagi mati PLN. Baru kali ini jalan kaki di tengah malam tanpa penerangan lampu jalan. Untung ada satu pegawai toko kakak yang menemani. Tapi tetap aja rasanya gimana gitu 😦

Sepuluh menit setelah tiba di toko, Mamak memanggilku. Katanya dia mau pipis minta tolong badannya ditegakkan. Ternyata rematik di tangannya kumat dan kedua kakinya mulai susah digerakkan. Untuk membuka celana aja kakinya ga bisa digerakkan. Akhirnya kubilang ‘pipis aja Mak’. Ya basahlah pakaian bawah mamak dengan pipisnya.

Selesai pipis aku bersihkan kaki Mamak, mengganti bawahannya  dan membaringkannya kembali ke tempat tidur. Ketika mau meminyaki tangan dan kakinya, baru aku lihat ada tanda merah agak panjang di lengan kirinya. Aku bilang sama Mamak, kalau nanti Mamak mau pipis lagi, panggil aja kami ya. Iya, katanya.

Aku menyingkirkan pakaian Mamak yang basah dan keluar  dari kamar. Ngobrol lagi bentar dengan Bi Uda lalu aku bilang mau tidur dulu karena sudah ngantuk, sudah hampir jam 1 pagi juga. Aku tidur di kamar kakakku. Lampu sengaja tetap kunyalakan biar tetap setengah terjaga.

Sepertinya aku baru saja jatuh tertidur ketika aku dengar suara Bi Uda memanggilku. Aku buka pintu dan Bi Uda bilang Mamak jatuh lagi. Hah.. kok bisa? Terbirit ke kamar Mamak dan melihat badan Mamak sudah tertelungkup di lantai. Kepalanya masuk ke dalam kolong tempat tidur. Kata Mamak ‘dah lama aku di lantai ini, dah ada satu jam. Ga ada kalian yang dengar aku panggil. Balikkan badanku..’.

Aku lihat selimut mamak ada di lantai, sarungnya juga. Semuanya basah. Hmm.. berarti mamak tadi coba pipis lagi. Pelan-pelan aku bilang ke Mamak kalo kami akan balikkan badannya tapi Mamak harus tahan sakit sedikit. Perlu sekitar 5 menit untuk bisa membalikkan badannya. Baju mamak juga sudah basah. Jadi sebelum ke tempat tidur kami ganti dulu bajunya dengan daster biar nanti lebih enak tidur.

Perjuangan berikutnya adalah membawa mamak ke atas tempat tidur. Mamak ngomong terus minta dibawa ke tempat tidur. Aku dan Bi Uda ga bisa gotong Mamak, jadi kami bilang Mamak harus bisa berdiri dan pelan-pelan jalan ke tempat tidur. Hanya perlu 3 langkah kecil untuk bisa sampai ke tepi tempat tidur, tapi Mamak sangat sulit melangkahkan kakinya. Dia peluk bi uda di depannya, aku pegang mamak dari belakang. Tetap Mamak ngomong ‘jangan lepaskan aku.. Mau jatuh aku..’.

Setelah 20 menit penuh perjuangan, mamak pun mendarat di kasur. Mamak masih meracau ga jelas. Aku selimuti Mamak, memberi satu guling untuk di peluk dan satu guling lagi untuk menahan tubuhnya.

Di luar kamar, Bi Uda cerita ‘aku tidur jam 1 nya tadi. Aku terbangun karena batuk dan baru dengar suara Mamak memanggil. Langsung dingin badanku pas lihat mamak di lantai. Jadi, ga mungkinlah mamak itu dah lebih 1 jam di terjatuh di lantai kan?’.

Dah hampir jam 3 subuh ketika aku dan Bi Uda balik ke kamar. Pintu kamarku ngga aku tutup. Jam 3.30 aku bangun untuk men-cek mamak, begitu seterusnya di setiap 1 jam berikutnya. Ternyata bi Uda melakukan hal yang sama di jam 4 dan seterusnya setiap jam sampai pagi. Jadi sebenarnya setiap 30 menit kami selang seling melihat ke kamar mamak. Dan setiap kami cek tampak Mamak tidur cukup lelap.

Jam 7 pagi aku lihat ada WA dari Bapak Gia yang bilang nanti jam 8 pagi dia akan antar Mak Surip untuk kusuk Mamak. Aku masuk ke kamar Mamak, tanya bagaimana keadaannya. Kata Mamak ‘dah bisa aku gerakkan pinggangku.. tanganku juga dah ga terlalu sakit’. Puji Tuhan. Lalu aku bilang kalo nanti jam 8 Mak Surip akan datang untuk kusuk. Mamak mengangguk.

Balik lagi ke kamarku, sambil cek sana sini, tiba-tiba terdengar suara cetekan kompor gas dinyalakan. Oh, Bi Uda mau masak sesuatu, pikirku. Menjelang jam 8 aku ke kamar Mamak lagi dan kaget lihat selimutnya udah terlipat rapi dan Mamak ga ada di kamar. Loh, ke mana Mamak?

Aku lari ke kamar mandi sambil panggil-panggil Mamak, ga ada jawaban. Sampai depan pintu kamar mandi aku panggil lagi lebih keras, baru Mamakku jawab sambil buka pintu. Aku mau mandi biar lebih sehat, kata Mamak. Aduh Mak, bikin jantungku mau copot aja. Ternyata Mamak tadi yang menyalakan kompor karena mau mendidihkan air minum.

Enam jam yang lalu, Mamakku bahkan ga bisa melangkahkan kakinya. Sekarang dia berjalan dengan normal seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa. Mamak masih tidak bisa mengingat apa yang sebenarnya terjadi hingga dia sampai tertelungkup di lantai jam 2 subuh tadi.

—//—

Aku merenung, seandainya aku jadi dinas ke Pakpak, tak  terbayangkan responku menerima kabar mamakku jatuh.  Bagaimana keadaan Bi Uda di toko dengan situasi seperti itu kalo aku tidak ada di Medan? Kata ‘jatuh’ menjadi kata yang sangat menakutkanku karena almarhum Bapakku ditemukan tak sadarkan diri karena jatuh and no one knows ‘till two hours later.

Ada maksud baik Tuhan di setiap ‘keinginan’ yang belum dikabulkan. Tuhan menjagai, Tuhan berdaulat. Terima kasih Tuhan.

aku dan mamak (73 thn) di acara ndungi adat di Munte (Agustus 2017).

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s