teman, travelling

Trip Ke China (2) – Yang Kami Lihat

Pengen berbagi pengalaman seru saat mbolang ke Beijing dan Shanghai kemaren. Posting kali ini aku bagikan hal umum yang aku temukan/lihat selama berada di Beijing dan Shanghai bulan lalu.

Waktu Trip: 14-22 Juli 2017 (musim panas)

Jumlah Peserta: 2 orang

Duo nande karo. Debi & Ndepur

# Kota yang Bersih

Menurutku Beijing dan Shanghai adalah kota yang bersih, terlihat di berbagai tempat yang kami datangi tidak ada sampah yang bertebaran. Jalan-jalan protokolnya lebar-lebar dan tertib.

kawasan rumah penduduk di jalan yang kecil (gang). Bersih kan?

# Sepeda

Sangat banyak para orang muda (orang tua juga ada sih..) di Beijing dan Shanghai yang mengayuh sepeda untuk membawa mereka ke tempat tujuan, dan sepertinya bisa parkir di mana aja. Aku ngga tahu apakah mereka membayar parkir atau gratis, namun selama di sana tidak pernah melihat ada petugas parkir. Sepeda tersusun dengan rapi di depan area pertokoan, area luar stasiun kereta, area perkantoran, area taman/publik. Kerennya lagi sepeda-sepeda ini dikunci dengan aplikasi lock yang ada di handphone, jadi ketika mau membuka lock-nya, cukup dengan men-scan QR code yang ada di masing-masing sepeda. Dengan cara ini kecil kemungkinan sepeda akan dicuri karena alarm akan berbunyi bila ada perlakuan yang tidak semestinya terjadi pada sepeda.

Sepeda terparkir dengan rapi di depan pertokoan

# Sepeda Motor

Sepeda motor di China ga kedengaran suara mesinnya. Jadi beberapa kali kami kaget karena tiba-tiba sudah ada aja motor lewat di samping kami. Katanya motor di China ini menggunakan tenaga listrik atau dynamo, makanya ga ada suaranya ketika dijalankan. Banyak orang tua yang mengendarai motor ini, biasanya mereka pakai untuk pergi belanja, antar jemput anak sekolah. Mungkin karena lagi musim panas (summer) banyak juga pengendara motor ini menambahkan pengaman untuk tubuh mereka biar tidak terlalu kena sinar matahari. Kadang-kadang terkesan lebay lihat outfit tambahan mereka ini 😀

Oh ya, tidak ada yang pakai helm ketika mengendarai motor ini.

# kereta bawah tanah (Subway/Metro)

Nah, kalo yang ini adalah transportasi massal local di China. Di Beijing disebut subway, sementara di Shanghai disebut Metro. Selama di sana, kami hanya menggunakan ini sebagai sarana transportasi ke berbagai tempat dalam kota. Di Beijing kami menggunakan kartu Yikatong yang bisa dipakai berhari-hari selama pulsanya masih ada dan sisa pulsa bisa di-refund, sementara di Shanghai kami membeli One Day Card seharga 18 yuan yang bisa dipakai berkali-kali dalam satu hari. Ongkos naik kereta ini mulai dari 2 yuan – 9 yuan, tergantung jarak tempuh.

Untuk mengetahui banyaknya subway/metro line di China dan informasi stasiun, bisa cek di https://www.travelchinaguide.com/cityguides/beijing/subway-map.htm (Beijing)

https://www.travelchinaguide.com/cityguides/shanghai/transportation/subway.htm. (Shanghai)

Di Beijing kami nyasar parah hanya sekali ketika pertama kali nyampe stasiun Dongsi. Nah, entah kenapa selama di Shanghai kami berdua agak sering nyasar di metro line, hahha.. dan akibatnya kami bisa habiskan waktu 30 menit berjalan kaki di dalam stasiun metro karena nyasar ini. Kok lama banget bisa sampai 30 menit? Karena jarak antar line di satu stasiun cukup jauh, begitu pun jarak ke pintu exit-nya ketika kita keluar dari subway/metro.

Pengawasan terhadap barang bawaan cukup ketat di dalam stasiun kereta. Di Beijing, sebelum kita melewati mesin untuk men-tap kartu kereta, seluruh bawaan kita harus dimasukkan ke dalam mesin pemindai (seperti yang di bandara-bandara itu loh). Sangat disarankan untuk memasukkan air minum ke dalam tas, karena apabila terlihat kita menenteng air minum, maka petugas akan meminta kita untuk menghabiskan minuman itu, kalau tidak maka air minum itu akan ditahan petugas. Tapiii.. ada juga yang lolos bisa tetap menenteng air minumnya. Ternyata, bisa bargain ke petugasnya dengan cara air minum tersebut ditimbang dan di-cek kadarnya di alat ukur yang ada dekat mesin pemindai. Kalau hasilnya ok, maka air minum tersebut tidak akan ditahan oleh petugas. Kami tentu saja tidak bisa melakukan itu karena kendala bahasa, hahaha..

Agak berbeda dengan di Shanghai, pengawasan terhadap barang bawaan sedikit longgar. Kalo kita membawa tas yang agak kecil, petugas ga memaksa kita untuk meletakkan ta situ ke dalam mesin X-ray. Termasuk air minuman bisa kita tenteng saja.

di luar shanghai station. Luasss..

 

# No Facebook, Google and Instagram

Di China ada beberapa web/media sosial yang tidak bisa diakses seperti Facebook, Instagram, Blogspot, Google dan turunannya. Pemerintah China mengembangkan sendiri aplikasi media sosial dan searching engine mereka seperti webo (semacam facebook), baidu (searching engine), we chat (seperti Whatsapp). Jadi selama di sana kebutuhan untuk eksis di medsos tidak terpenuhi, hehhe.. Untungnya Whatsapp belum diblokir, jadi masih bisalah chatting dengan teman-teman di Indonesia via WA.

Ada cara untuk bisa mengakses web/medsos yang di-block itu dengan menggunakan VPN ataupun lantern. Aplikasi ini harus di-donlot dulu sebelum berangkat ke China sehingga sampai di China tinggal menggunakan saja.

# Bahasa Inggris

Kami sudah dengar kabar kalau susah menemukan penduduk China yang bisa berbahasa Inggris. Dan betul saja, kami harus menggunakan banyak bahasa tubuh untuk bisa menyampaikan pertanyaan kami. Bahkan kemampuan berbahasa Inggris petugas bagian informasi di bandara  Peking dan Shanghai Railway Station yang seharusnya sudah bersifat ‘Internasional’ sangat terbatas. Cara paling tepat/efisien sebenarnya menunjukkan tempat/lokasi yang kita ingin tuju dalam aksara/tulisan China, jadi sebaiknya sebelum berangkat ke China kita sudah menyiapkan tulisan-tulisan tersebut.

Untungnya pegawai resepsionis di tempat penginapan kami di Beijing maupun Shanghai cukup mumpuni  kemampuan berbahasa Inggris sehingga bisa memberikan informasi yang kami butuhkan. Well, di Negara ini bahasa inggris kami yang abal-abal pun terlihat jadi sangat meyakinkan, hahaha..

di halte bus. Papan rute bus dalam aksara China semua. Lost in translation 🙂

# Toilet

Nah ini hal horor yang selalu kudengar selama ini tentang China. Horor maksudnya jorok dan bau. Toilet di China (termasuk kamar mandi di hotel) tidak menyediakan air untuk berbasuh setelah pipis atau pup, jadi terbayanglah gimana aromanya. Mungkin karena musim panas, untungnya aku jarang ingin buang air selama berada di lokasi wisata, cairan sudah terbuang melalui keringat, hehhe..  Selama di sana aku hanya menggunakan toilet di Bandara, di Railway Station dan di satu mall. Di ketiga tempat tersebut semua toiletnya bersih, paling aromanya saja yang agak asam 😀

Oh ya, aku juga pernah melihat ibu-ibu yang tidak menutup pintu toilet ketika buang air. Tentu saja aku kaget dengan kepedean mereka ini. Ternyata, tidak menutup pintu toilet adalah hal biasa di China.

Tips: Jangan buang botol kosong bekas air minum. Botol ini bisa dipakai untuk menampung air untuk berbasuh.

# Cara Pembayaran

Selama di Beijing dan Shanghai aku perhatikan penduduk setempat melakukan pembayaran tanpa uang tunai, tapi dengan e-money melalui aplikasi yang ada di handphone, baik itu transaksi di toko, stasiun kereta bahkan pedagang kaki lima. Dengan cara ini bisa meminimalkan peredaran uang palsu dan juga pencopetan. Di sisi lain, bila kita membayar dengan uang tunai maka petugas akan bolak-balik men-cek keaslian uang kita. Pernah uang 50 yuan ku ditolak oleh kasir toko karena menurutnya uangku itu lusuh. Rada sebel karena aku dapat uang itu juga ya dari pengembalian pembayaran dari toko yang lain.

Pembayaran dengan kartu kredit juga bisa. Untuk penginapan di Beijing dan Shanghai kami bayar dengan kartu kredit punya Debi. Tapi pernah juga gagal saat kami mau bayar tiket bullet train Beijing-Shanghai. Akhirnya terpaksa bayar dengan uang tunai dan bolak balik lah uang kami itu masuk mesin pemindai uang 😀

# Model Pakaian

Mungkin karena musim panas maka rata-rata perempuan muda di Beijing/Shanghai memakai hot pants, kalau perempuan paruh baya pakai celana selutut. Aku tidak melihat ada kesan ingin menunjukkan keseksian ketika mereka menggunakan hot pants. Rasanya pantas dan normal saja dengan gaya berpakaian mereka. Model pakaiannya pun oke-oke banget di badan mereka, ga terkesan lebay. Bentuk tubuh mereka langsing-langsing sih, jadi semua mode pakaian cocok mereka pakai 🙂  Untuk para pria juga biasa aja, ga ada model pakaian yang aneh. Normal aja semua.

Kami perhatikan juga bahwa perempuan di Beijing/Shanghai jarang yang menggunakan make-up, lipstick aja pun ngga. Jangan-jangan pake bedak pun ngga juga, hahah.. Mungkin karena kulit mereka dah halus dan mulus dari sono-nya jadi tanpa polesan yang berlebih sudah tampak segar. Alis juga kayaknya jarang nemu yang dibentuk/bentuk gitu 🙂

Selama di sana aku ga pernah menemukan iklan produk pelangsing badan, hihihi..

— // —

Segini dulu deh yang bisa dibagikan. Nanti di-update lagi kalo ada hal lain yang diingat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s