hari-hari

Melewatkan Kesempatan

Hari ini aku makan siang terlambat, hampir jam 4 sore ketika aku tiba di warung makan langganan, warung Soendari.  Aku pesan nasi + ayam goreng (ku suka dengan sambal pedas warung ini) dan segelas teh manis dingin. 

Di tengah asiknya menikmati menu sembari tangan kiri sibuk pencet-pencet tombol hp, datang seorang pria (mungkin umurnya sekitar 25 tahun) menawarkan barang dagangan yang lagi ditentengnya, yaitu lemari plastik gantung yang bisa dipakai untuk menyimpan sepatu atau kosmetik. Secara cepat aku menggeleng untuk menolak barang dagangannya itu. 

Lalu pria ini berkata ‘dari tadi pagi belum ada laku daganganku ini kak.. haus aku. Boleh aku minta teh manis kak?’. Minta maksudnya dibelikan teh manis. 

Cuaca di Medan hari ini memang panas banget, wajar kalau dia kehausan. Tampilan pria ini ga ada yang mencurigakan, tas ransel yang dibawanya tampak seperti banyak isinya. Dia melepaskan jaket yang dipakainya, dan duduk di sudut depan paling kiri , diagonal 2 meja dari tempat aku duduk. 

Aku panggil kakak penjaga warung, minta dibuatkan satu lagi teh manis dingin untuk pria ini. Lalu aku tanyakan kepada pria ini: ‘mau sekalian makan ga?’. Pasti dia lapar kalo belum makan siang. Dijawabnya ‘jangan kak, nanti kakak terlalu rugi..’.

Aku tidak memaksakan dan juga tidak bilang kalo sebenarnya aku ingin membayar makanannya kalo memang dia mau makan. Dalam hati aku berniat ntar pas bayar akan minta ke mbak warung untuk menyediakan makan bagi pria ini.

Aku tidak berusaha untuk membuka obrolan dengan pria ini, padahal aku juga udah tidak terlalu konsen dengan hp ku. Ketikan minumannya datang, tidak langsung diminumnya. Dia melihat ke aku seakan minta ijin untuk minum. Aku bilang ‘silahkan diminum teh nya..’. 

Ga hitungan lama segelas es teh manis itu berpindah tempat. Lalu, pria ini seperti akan bersiap-siap untuk pergi. Sekali lagi aku tanya: ‘yakin ga mau makan dulu?’ Dia menggeleng, bilang ‘saya ga selera makan kak, karena belum ada laku barang dagangan ku ini. Nanti kalo sudah laku, baru saya makan. Terima kasih ya, kak’. Dan dia pun ke luar dari warung makan.

Aku juga sudah selesai makan. Aku merasa seperti melewatkan kesempatan untuk menolong pria ini. Sempat terpikir kenapa ga kubeli aja lemari gantung itu? Aku ada bawa uang 75rb di kantong. Tapi aku memang ga memerlukan lemari plastik ini. Hatiku bertanya lagi, kenapa tadi tidak kau ‘paksakan’ saja dia untuk makan? Aku tidak tahu, tadi itu aku tidak merasa harus memaksanya untuk memesan makanan.

Pun begitu, pria ini seakan menunjukkan bahwa dia masih punya harga diri ketika menolak tawaranku untuk makan. Dia hanya meminta apa yang dia butuhkan saat itu (segelas teh manis dingin di tengah udara yang sangat panas, dan mungkin ini pun karena sudah terpaksa banget) dan tidak mengambil tawaran seporsi menu makan siang yang bisa dinikmatinya gratis. 

Aku jadi sedih dan malu. Sepertinya aku kurang peka. Sepertinya aku melewatkan kesempatan yang sering aku minta dalam doa: ‘.. jadikan aku saluran berkatMu, ya Tuhan’.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s