Cerita Bening (1)

Standard

Hari Senin. Sudah jam 6 pagi. Bening tahu hal ini tanpa harus melihat ke jam unik yang ada di dinding kamar tidurnya. Lagi pula, tak ada gunanya untuk melihat ke jam dinding itu. Benda itu sudah berhenti berdetak dari beberapa bulan yang lalu, dengan jarum pendek berhenti di angka 9 dan jarum panjangnya di angka 12. Bening tidak tahu jam itu berhenti berdetak di jam 9 pagi atau jam 9 malam. Bening malas mengganti baterai jam dinding itu.

HP-nya masih terus membunyikan alarm penanda jam  6 pagi yang sudah beberapa bulan ini tersetel di HP-nya. Dengan malas Bening menyibakkan selimut dari tubuhnya, menggulingkan badannya ke ujung tempat tidur untuk meraih HP yang ada di atas meja rias.

Begini setiap pagi. Badannya menolak untuk segera turun dari tempat tidur ketika alarm berbunyi. Seakan ada gravitasi dari kasur yang memaksa Bening merebahkan kembali badannya dan menutup matanya. Itu sebabnya Bening harus juga menyetel alarm pada jam 6.20 pagi untuk jaga-jaga apabila dia ketiduran lagi.

Jam 6.20 HP-nya berbunyi lagi.. tuh kan, ketiduran lagi, Bening bergumam sendiri. Susah payah dia menegakkan badannya,  lalu menatap wajah dan separuh badannya di dalam cermin. Muka berminyak dan tebal. enndddut.. Bening tersenyum dan mengucapkan ‘selamat pagi cantik..’ kepada dirinya sendiri.

Bening membuka pintu kamarnya. Ruang tamu tampak gelap. Bening menarik ke arah kiri tirai jendela yang ada di ruang tamu. Seketika sinar matahari pagi menerobos masuk melalui jendela dan membuat ruangan agak terang. Bening berjalan malas ke dapur yang jaraknya hanya enam langkah dari ruang tamu, merebus segelas air minum yang akan diberi perasan jeruk nipis. Ritual yang sehat kalau konsisten dilakukan.

Tinggal sendirian di flat ini membuatnya tampak hebat di mata teman-temannya. Kok lo berani sih tinggal sendirian, Ning? Gitu rata-rata pertanyaan mereka. Bening bingung juga apa yang harus ditakutkan. Ada Mas security yang menjagai di lantai dasar, tidak sembarang orang bisa keluar masuk tower flat mereka. Kalo makhluk halus? hmm.. Bening bersyukur ga punya kemampuan untuk merasakan kehadiran atau pun melihat mereka.

Segelas air dengan perasan jeruk nipis hangat membelai dalam perutnya. Saatnya mandi. Bening lagi-lagi bersyukur setiap pagi masih bisa lancar nyetor ke toilet yang dilakukannya sambil membaca novel tebal yang sengaja dia letakkan di kamar mandi. Kalau tidak begitu, daftar buku belum terbaca tidak akan pernah memendek. Saat ini yang sedang dibaca adalah novel terjemahan lebih dari 1000 halaman, hadiah ulang tahun dari seorang mantan calon pacar 8 tahun yang lalu. Judulnya ‘Rumah untuk Tuan Biswas’, sebuah novel yang memenangkan penghargaan sastra. Sudah satu bulan novel itu jadi penghuni kamar mandi, dan Bening baru sampai di halaman 243. Ga boleh mandek lagi, tekad Bening.

Pagi ini Bening ada janji ketemu dengan seorang calon klien yang dikenalnya dari Menur, sahabatnya saat kuliah di Yogya. Menur bilang, manatau dari klien jadi soulmate. Ini kadang susahnya jadi perempuan usia kepala 3 dan masih single, semua orang berusaha untuk menjadikan aku double, bisik Bening.

Finising touch. Bening memoleskan lipstik merah muda ke bibirnya. She is so ready to beat the Monday.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s