Dandan Dulu

Standard

Semalam pas makan malam, temanku (sebut saja A, perempuan) cerita kalo beberapa waktu yang lalu dia sempat ‘marah-marah’ di salah satu bank BUMN di kotanya. Ceritanya A datang ke bank tersebut untuk menyetorkan uang sebesar 45 juta rupiah ke rekening ayahnya. Berhubung ayah A merupakan nasabah lama bank tersebut dan si A juga dah sering menyetorkan uang ke bank tersebut, jadi saat itu si A menyetor tanpa membawa buku tabungan.

Uang setoran dihitung oleh seorang Teller Wanita (TW),  disaksikan oleh A dan jumlahnya pas 45 juta rupiah. Selesai transaksi, A diberikan slip bukti setor dengan jumlah 45 juta rupiah. Setelah itu A pulang ke rumah.

Ketika tiba di rumah, ayah A bilang ada sms e-banking yang menyatakan ada penyetoran sebesar 35 juta rupiah. Ayah A bertanya mengapa yang disetor cuma 35 juta. A heran kok bisa jadi 35 juta. A tunjukkan ke ayahnya slip setoran yang jelas-jelas menunjukkan jumlah setoran 45 juta.

Segera A balik lagi ke bank, kali ini dengan membawa buku tabungan. Sampai di bank, A ke TW yang sama dan minta buku tabungan tersebut di-print. Dalam buku tabungan tersebut tercatat penyetoran sebesar 35 juta rupiah. Waa… mulai lah A mempertanyakan kok bisa berbeda jumlah di slip setoran dengan di buku tabungan.

TW berkilah jumlah yang disetor memang cuma 35 juta karena tadi si A sudah mengambil lagi 10 juta. A tentu saja ga terima dan dia lihat ada CCTV di ruangan tersebut. A minta rekaman CCTV diputar untuk membuktikan apakah memang benar dia ada mengambil kembali uang 10 juta. TW mengajak si A ke lantai atas karena ruang CCTV ada di sana. Tiba di lantai atas, TW bilang kalo CCTV bank tersebut sebenarnya lagi rusak.

A lalu minta dipertemukan dengan kepala unit bank tersebut. TW bilang kepala bank nya lagi tidak ada di tempat. A langsung ngomong  keras-keras (teriak kali yaaa…) ‘wahhh… gimana sih bank sebesar ini kepala unit nya bisa ga ada di tempat, jalan-jalan melulu..’. Kerasnya omongan si A ini sampai terdengar oleh dua satpam dan juga kepala unit bank tersebut yang sebenarnya ada di kantor.

A akhirnya ketemu dengan kepala unit dan A langsung cerita apa yang terjadi. Rekaman CCTV diputar (yang ternyata ga rusak) dan terbukti tidak pernah A mengambil kembali uang 10 juta. Kepala unit bank tersebut berkali-kali minta maaf pada A, bahkan sampai minta ampun. Bagaimana dengan nasib TW? A dah ga terlalu peduli, mungkin dipecat kata A.

Kok bisa ya slip setoran bisa keluar senilai 45 juta tapi di buku tabungan cuma 35 juta? Apakah ada slip setoran sementara? Kemudian, apakah karena tampilan A ketika datang menyetor agak gembel (istilah A untuk tampilan pakai celana pendek selutut, sandal jepit, ga pake bedak, bawa sepeda motor biasa) sehingga si TW merasa A seperti orang yang bisa dibodoh-bodohi?

Pelajarannya adalah:

  • Usahakan membawa buku tabungan setiap melakukan transaksi di teller. Pastikan jumlah di slip setoran/penarikan/transaksi lainnya sama dengan di buku tabungan.
  • Bila lupa membawa buku tabungan, jangan langsung membuang slip setoran/penarikan tersebut. Baru dibuang bila sudah confirm nilainya sama dengan di buku tabungan (bisa cek via ATM atau print buku tabungan di keesokan hari-nya)
  • Mengaplikasikan e-banking (opsional)
  • Dandan dulu sebelum datang ke bank🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s