(Nyaris) Kena Tilang

Standard

04.Feb.2016 Hari itu aku berjadwal belanja barang –barang dagangan ke Pusat Pasar. Hampir jam 10 pagi aku sudah parkir manis di dalam Pusat Pasar. Tiga jam kemudian aku keluar dari Pusat Pasar, mengarahkan mobilku ke Jl. Pandan melalui Jl. Sutomo.

Dari jauh aku melihat perempatan Medan Mall cukup ramai. Dengan tenang aku melewati perempatan itu dan kemudian melihat seorang Bapak polisi (Bapol) dengan masker penutup hidung di tengah jalan memberi gerakan untuk menepi. Aku yang merasa tidak melakukan pelanggaran apa-apa, mengarahkan jari telunjukku ke diriku sendiri seakan bertanya apakah perintah menepi itu ditujukan kepadaku, dan Bapol itu mengangguk. Apa lagi ini?

Kutepikan mobil ke sebelah kiri (sebelum Jl. Bawean). Kubuka jendela, Bapol mengucapkan salam dan menanyakan dokumen (SIM & STNK) apakah ada. Aku bilang ada, menyerahkannya kepada Bapol ketika diminta. Bapol memastikan STNK sesuai dengan nomor polisi mobilku. Aku pikir ini hanya pemeriksaan biasa, jadi seharusnya aku sudah bisa jalan lagi. Lalu Bapol ngomong ‘bisa Ibu turun? Saya mau jelaskan apa kesalahan Ibu’. Lalu, Bapol langsung menyeberang menuju pos polisi yang ada di situ, meninggalkan aku yang kebingungan dengan apa yang terjadi.

Dengan perasaan kesal aku matikan mesin lalu keluar mobil menyusul Bapol ke Pos Polisi. Tas, dompet dan HP sengaja aku tinggalkan di mobil. Di dalam pos polisi sudah ada satu pasangan yang sepertinya dihentikan juga oleh polisi lain dan tampaknya urusan mereka sudah selesai dengan cara damai.

Aku dipersilahkan duduk dan Bapol bermasker tadi mengatakan pelanggaranku adalah menerobos lampu merah. Respon pertamaku adalah ‘haaahh’?. Aku bilang lampu lalu lintas masih hijau ketika aku melintas. Muka ku dah ketat aja. Bapol nya keukeuh kalau aku menerobos lampu merah. Dia buka tirai jendela ruangan dan menunjukkan kepadaku mengapa aku dianggap menerobos lampu merah.

Aku juga tetap keukeuh bahwa saat aku melintas lampu lalu lintas masih hijau. Kami juga sama-sama menyaksikan bahwa mobil yang ditunjuknya menerobos lampu merah (saat menunjukkan kesalahanku) tidak dihentikan oleh petugas polisi. Bapol itu akhirnya bilang ‘tilang saja ya Bu’.. Bapol yang lain yang ada dalam ruangan itu juga menyemangati untuk ditilang sebelum dia keluar untuk merokok.

Ampun dahhh… kejadian deh ditilang polisi. Aku mencoba mengingat-ingat kertas tilang warna apa yang harus aku minta kalau pengemudi tidak merasa melakukan pelanggaran lalu lintas. Warna merah atau biru ya? Buku tilang yang sudah diisi Bapol tersebut berwarna merah. Denda maksimum nya 500 ribu rupiah. Bapol menanyakan dokumen apa yang akan ditahan, SIM atau STNK. Aku jawab STNK aja. Muka ku rasanya makin ketat saja dan pengen nangis😦

Bapol tersebut berkali-kali mencoba menggiring aku untuk ‘berdamai’ tapi aku cuekin. Ga rela rasanya memberikan uang untuk menebus suatu pelanggaran yang tidak dilakukan. Aku tetap ngotot tidak bersalah. Sudah lebih dari 20 menit berlalu sampai si Bapol kesal dan akhirnya menyodorkan buku tilang untuk aku tandatangani.

Dia membuka maskernya dan menyalakan rokok nya. Aku reflek mengibas-ngibaskan tangan ketika asap rokok itu lewat depan mukaku. Makin kesal aku. Buku tilang itu aku bolak-balik, membaca apa yang tertera di dalamnya. Bapol bermasker makin bete lihat gayaku. Dia tanya mau cari apa Bu? Aku jawab ‘saya mau cari pernyataan bahwa saya tidak mengakui pelanggaran karena merasa tidak bersalah’. Lalu aku minta ijin sebentar ke mobil untuk mengambil HP. Dia tanya lagi mau telepon siapa? Aku jawab mau telepon siapa saja, mau tanya apa yang sebaiknya saya lakukan dalam kondisi seperti ini. Tiba-tiba Bapol mengambil STNK dan SIM ku yang terletak di meja dan menyerahkannya kepadaku, sambil bilang dengan agak keras ‘sudah Bu, ambil ini STNK dan SIM nya. Lain kali jangan menerobos lampu merah lagi ya..’.

Sedikit kaget dengan tindakan Bapol itu, aku menerima kedua surat itu. Lalu aku bertanya siapa nama Bapol tersebut (nama di seragamnya agak tertutup sehingga tidak terbaca). Dengan curiga dia bertanya untuk apa. Aku jawab ingin mengucapkan terima kasih. Dia menyebutkan satu marga yang aku tidak yakin itu marganya yang sebenarnya. Sambil berdiri aku bilang ‘terima kasih Pak Si********k’ dan keluar dari pos polisi.

Tanpa berjabat tangan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s