Jangan (terlalu) menawar

Standard

Beberapa waktu yang lalu gw membaca satu postingan di fb tentang seorang (yang kayaknya) kaya yang menawar habis-habisan harga ikan hias pada seorang pedagang ikan. Menurut pemilik cerita, minta diskonnya keterlaluan. Inti ceritanya adalah mengapa kebanyakan orang yang secara materi berkecukupan sering banget minta diskon harga ke pedagang-pedagang di pasar, pedagang kaki lima, di tempat-tempat yang sederhana, namun sepertinya legowo membayar sejumlah uang cukup besar untuk secangkir kopi di café dalam mall? Demi sebuah prestise?

Ada lagi gw liat di fb foto pedagang kaki lima yang menjual kemoceng, gembok, dll dan diberi caption ‘jangan terlalu banyak menawar, toh mereka bukan mengemis’.

Hari Sabtu kemaren (26.Sep.2015) gw ke Pajak /Pasar Sore mau belanja sayur, bumbu dan kawan-kawannya. Biasanya Gw sering komen ‘wah mahal..’ atau ‘kok mahal ya..’ untuk harga yang diberikan pedagang, meskipun gw malas nawar dan akhirnya beli juga, heheheh.. Nah kemaren itu gw menahan diri tidak berkomentar ‘mahal ya..’ dan juga tidak menawar karena harganya masih masuk akal.

Di salah satu lapak, gw membeli cukup banyak jenis bahan makanan, salah satunya jeruk nipis (jenip). Si Ibu pedagang bilang 3 buah jenip harganya dua ribu rupiah. Gw memilih 6 buah jenip dan menyerahkan ke Ibu pedagang. Ntah kenapa si Ibu malah menimbang jenip tersebut, lalu bilang ‘kita buat empat ribu aja ya..’ sambil menambahkan satu buah jenip lagi. Jadi gw dapat 7 jenip dengan harga empat ribu. Gw jadi mikir mungkin para pedagang di pasar ini pun hitung-hitungan (kebaikan) juga dengan pembeli yang nggak main tawar, mungkin mereka juga ga berniat ambil lebih banyak margin. Bisa jadi malah mereka lebih banyak ambil untung (karena gusar) dari pembeli cerewet yang minta diskon mulu.

Di Medan ada satu swalayan yang menjadi favorit orang-orang untuk belanja sayur, buah-buahan, dll. Namanya merupakan salah satu kampung pariwisata di Tanah Karo. Favorit karena penataan barangnya baik, bersih, cahaya lampu cukup terang, sejuk karena pake AC, dan harganya kadang lebih murah dibandingkan harga di pasar. Sudah saatnya para pedagang di pasar belajar dan berbenah dalam penataan barang dan harga, agar konsumen tidak makin lari ke modern market.

Pulang dari pasar sore menuju rumah, gw sengaja ambil rute melewati jalan ringroad, mau beli buah yang sekarang lagi trend dijual di mobil pick up yang parkir di pinggir jalan. Gw berhenti di pedagang yang jual nenas madu. Ada yang besar ada yang kecil. Yang besar harganya 12 ribu untuk dua buah dan 10 ribu untuk lima buah nenas yang kecil. Nenas ukuran kecil ini ga mini-mini banget size-nya ya, jadi menurut gw itu harganya murah. Nyaris aja gw komen ‘mahallll..’, tapi untung ga jadi terlontar, hahah.. Gw pengen nawar 10rb untuk dua buah nenas besar karena kalo beli satu buah harganya tetap 6 ribu, tapi gw jadi ingat cerita fb di atas, gak jadi nawar deh.

Saat pedagang nenas dalam proses memilih-milih nenas buat gw (karena gw ga pintar milih buah, jadi minta tolong ibu pedagangnya aja yang pilih), datang sepasang suami istri yang sudah agak sepuh dan menanyakan harga nenas. Si pedagang menjawab dan respon si Bapak pembeli ‘aduh..aduh..mahal sekali’. Hati gw langsung kecut mendengar komen si Bapak (soalnya komen beliau mirip kayak gw). Trus si Bapak pembeli lanjut nanya itu nenas dari mana, manis apa ngga, dan minta kurangi harga. Gw ga tau jadi dikasih diskon apa ngga sama si pedagang, karena gw sudah selesai transaksi dan tidak berminat mendengarkan pembicaraan itu.

Kalo kita bisa ikhlas bayar Rp30.000,- untuk secangkir cappuccino di coffee shop di mall, please jangan ngotot minta diskon harga besar-besaran ama pedagang di pasar, pedagang kaki lima, pedagang keliling. Toh, mereka tidak mengemis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s