Biarlah Kamu Marah

Standard

Hari Minggu  (19.Apr.2015) aku ibadah minggu di GKI Kp. Keling. Sendirian seperti biasa🙂 Sampai di dalam gereja, sudah tidak ada bangku kosong yang terlihat mata. Padahal ibadah baru akan dimulai 10 menit lagi. Tumben banget bagian dalam bisa penuh secepat ini. Dengan terpaksa aku mengambil tempat duduk di luar/teras gereja.

Aku kurang suka ibadah di luar karena bagiku tidak nyaman. Semua kegiatan ditampilkan melalui layar televisi. Suasana ibadahnya ga terasa, banyak distorsi, khususnya dari suara kendaraan bermotor karena lokasi gedung gereja yang berada di tepi jalan besar/protokol kota.

Ketika tiba pada bagian ‘petunjuk hidup baru’, pembacaan diambil dari Mazmur 4 dan dibaca secara responsoria. Dari Mazmur 4 tersebut, ada satu ayat yang langsung begitu menghentak seakan menampar aku.. Iya, karena pada saat itu aku lagi kesal banget dengan seseorang.

Mazmur 4:2

Mazmur 4:5

Sepanjang hari itu sampai dengan tulisan ini dibuat, ayat tersebut masih terus melekat di pikiranku. Pulang gereja aku janjian lunch dengan Dian di Bavarian Haus di kompleks Tasbih. Aku membagikan ayat ini dan bertanya apa ya kira-kira yang dimaksud dengan ‘berbuat dosa’ dalam ayat ini? Menurut Dian, kalau lagi marah biasanya kita cenderung melakukan sesuatu dengan tujuan orang tersebut juga merasakan kekesalan hati kita. Benar juga. Kalau versiku, kalau lagi marah kita biasanya mencari-cari dan akhirnya mengungkit-ungkit kesalahan orang tersebut yang sebenarnya tidak relevan dengan masalah yang sebenarnya.

Selasa malam, aku share lagi ayat ini dengan Irma. Aku bagi  pemahaman lain tentang ‘berbuat dosa’ dalam ayat yang kupikirkan dari sejak lunch dengan Dian. Menurutku, membuat status di medsos bahwa kita lagi marah dan menuliskan dengan detail kenapa kita marah itu bentuk lain berbuat dosa. Ketika curhat ke orang lain sebagai pihak yang lagi marah, biasanya kita ingin dibenarkan dan tanpa sadar mungkin menceritakan keburukan orang tersebut kepada pihak lain. Ujung-ujungnya gosip.

Irma bilang ayat ini cocok untuk pasangan suami istri (pasutri). Kalau pasutri lagi bertengkar, ga boleh ada pihak yang tidur di ruang tamu. Kalau menurut aku, malah ga boleh ada yang tidur kalau marahnya belum reda. Siapa juga yang bisa tidur ya kalau lagi marahan sama suami/istri?😀

Irma juga bilang kalau hari itu dia juga sedang marah banget sama seseorang, jadi pas banget ayat ini untuknya. Aku yakin tidak ada yang kebetulan dalam kontrol-nya Tuhan. Sama seperti aku yang juga mendapatkan ayat ini ketika sedang dalam situasi marah kepada orang lain.

Kesimpulannya: kalau lagi marah sama orang lain, ngobrol aja sama bantal, heheheh…

Semoga kalian yang membaca tulisan ini sedang tidak lagi marah dengan seseorang. Pun kalau iya, semoga ayat ini bisa menguatkan kalian.

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s