Kesempatan

Standard

Tanggal 25 Maret kemaren aku interview untuk sebuah pekerjaan. Terakhir aku interview sebelum kemaren adalah Desember 2005. Yes, nyaris 10 tahun yang lalu. Sejak masuk axis, aku ga ada apply kemana-mana lagi, walau beberapa kali pernah dihubungi pencari kerja karena lihat profile/cv ku di situs semacam karirdotcom. Namun, seingatku tidak ada yang aku oke-kan untuk berlanjut ke interview.
Aku bersyukur. Tawaran kerja justru datang ketika aku sedang tidak berusaha untuk mencari dan sudah punya kerja. Well, aku hanya pernah cerita ke beberapa orang kalo aku pengen jadi pengajar di bidang perpajakan. Ternyata aku bercerita ke orang yang tepat😀
Beberapa teman di kantor dulu mengatakan kalo aku itu cocok jadi pengajar. Jenjang pendidikan yang kupunya saat ini memenuhi kriteria untuk jadi pengajar *dan aku akan berpikir beribu kali bila disuruh lanjut sekolah lagi*
Untuk pekerjaan mengajar inilah interview kemaren dilakukan. Aku belum meng-iya-kan tapi sudah beri beberapa ‘syarat’ bila mereka ingin aku bergabung. Mari kita tunggu benefit yang akan mereka tawarkan dengan syarat yang aku berikan🙂
Selesai interview aku balik ke toko a*e hardware yang berada pas di sebelah lokasi interview karena di tempat ini aku parkir si Beaty. Lagi asyik melihat-lihat barang, aku teringat harus menghubungi Mrs. Kumar untuk menanyakan apakah kami bisa pergi ke daerah Darjeeling saat trip ke India di bulan enam nanti.
Dari satu topik ke topik lain, kami tiba di topik pekerjaan. Mrs. K bilang kalo dia ada rencana juga untuk buka toko. Aku membagikan beberapa hal tentang pengalamanku terkait dengan toko. Aku kagum dengan kegigihan Mrs. K menjemput rejeki. Bagaimana dia bisa membagi waktunya sebagai konsultan, dosen, tutor di kursus yang dia buka? Dan sekarang dia mau buka toko juga? Ck..ck..saya kagum bukk..
Aku jadi merenung lagi akan keinginanku untuk menjadi dosen. Tujuan utamaku apa ya? Yang pasti bukan rupiah-nya, meskipun aku pasti mempertimbangkan benefit yang akan mereka tawarkan.
Bila aku jadi dosen, aku akan kehilangan waktu berenang pagiku yang sekarang lagi rutin kujalankan. Aku akan menghabiskan wiken ku di toko. Aku akan semakin susah untuk bertemu dengan teman-temanku.

Bila aku jadi dosen, maka pengalaman hidupku bertambah, ilmu bisa di-update dan dibagi, berjiwa muda karena bertemu dengan anak-anak muda dan bisa membagikan value hidup kepada mereka, networking bertambah luas (manatahu ketemu jodoh, hehehe…). Bila ber-status dosen, mungkin kesempatan mendapatkan visa Amrik akan lebih besar  *boleh ya mimpi ke Amrik?*

Sepertinya sisi pro-nya lebih bernilai ya?
Aku masih belum yakin, walaupun sudah interview, masih terus menantikan konfirmasiNya.

image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s