Celengan

Standard

image

Banyak hal yang sering mengingatkanku pada almarhum Bapak. Salah satunya celengan. Kayak tadi siang pas aku memberi label harga di celengan yang akan dijual di toko, aku jadi ingat Bapak.
Dulu, saat Bapak dinas di Lhokseumawe dan kami tinggal di Medan, kedatangan Bapak adalah saat yang ditunggu-tunggu olehku. Biasanya Bapak datang paling cepat sekali dalam 2 minggu.
Pada satu hari, Bapak datang dan membawa 3 buah celengan kaleng, masing-masing satu untuk anaknya. Ketiga celengan itu sudah terisi penuh uang, siap untuk dibongkar. Kami bertiga (aku, kakak dan Abangku) berebut memilih yang paling berat karena mikirnya yang berat yang lebih banyak uangnya, hehehe.
Aku ga pernah nanya ke Bapak berapa lama beliau nabung sampai 3 celengan itu penuh dan anak-anaknya yang menuai hasilnya. Saat kami bertiga membongkar celengan pilihan kami dan menghitung uangnya, ternyata jumlahnya hampir-hampir sama. Bapak ternyata sudah memastikan jumlahnya mirip biar kami ga jadi iri-irian, hehhehe… Sukacita wajah anak2nya saat membuka celengan itu mungkin menjadi moment berharga bagi Bapak yang terpaksa melewatkan hari-hari pertumbuhan kami karena tugas Negara yang membuat kami hanya bertemu sekali dua minggu.
Jadi berkaca-kaca mataku mengingat kebaikan Bapak. Really miss you, Bapak. How’s life up there?

One response »

  1. Aku juga sedang mencoba mengingat apa yg terbesar nasehat dari orang tua, bersyukur mereka masih bersama ku, aku mau catat ntar nasehat mereka. …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s