Mensejahterakan Kota

Standard

Sabtu lalu (19.Jul.2014) aku menghabiskan malam minggu dengan Dina dan kak Deasy. Awalnya Dina mengusulkan ketemuan jam 6 sore, tapi demi alasan biar jangan kemalaman pulang, aku minta dimajukan jadi jam 5 sore. Dan aku tiba di tempat pertemuan jam 6 sore lewat, hehehe.. Maap ya gals, masih jelek nih manajemen waktuku.

Dina dan Kak Deasy memilih resto XO di Sun Plaza sebagai tempat untuk kami ngobrol-ngobrol. Menu yang lumayan di lidah dan kantong serta atmosfer suasana yang cukup nyaman, membuat kami betah berada di sana lebih dari 3 jam, hehehe..

Kami bertiga ngobrol dengan berbagai topik, single girls talk :D Aku ga ingat alurnya gimana sampai akhirnya kami membahas tentang mensejahterakan tempat di mana kami tinggal.

Usahakanlah  kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah  untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu. (Yeremia 29:7)

Bagaimana caranya?

Memiliki usaha mungkin salah satu cara mensejahterakan orang-orang dimana kita tinggal. Aku yang sebentar lagi akan selesai kontrak dengan kantor akan fokus dengan pengelolaan toko. Ada beberapa karyawan yang harus digaji setiap bulannya. Artinya, toko ini memberi peluang kerja bagi orang lain. Bekerja berarti mendapatkan penghasilan. Mendapatkan penghasilan berarti mempunyai kemampuan finansial untuk menghidupi diri. Selangkah lagi lebih dekat dengan kesejahteraan.

Bagaimana bila status kita hanyalah seorang karyawan?

Pertanyaan di atas belum bisa terjawab dari diskusi kami. Pertanyaan yang terus terngiang sampai pulang ke rumah. Masa sih tidak ada yang bisa kulakukan sebagai karyawan untuk mensejahterakan orang lain di sekitarku?

Tiba-tiba pemikiran ini menyeruak. Aku teringat dengan apa yang pernah dibagikan oleh Bang Henri Panggabean di Komunitas Kuningan beberapa tahun yang lalu tentang investasi. Beliau bilang pendidikan adalah investasi terbaik. Raihlah pendidikan setinggi mungkin yang kita bisa. Bila kita merasa sudah cukup dengan jenjang pendidikan yang kita raih, alihkan investasi kita tersebut untuk pendidikan orang lain.

Pendidikan membuka jalan bagi orang yang mau maju, langkah awal untuk hidup yang sejahtera. Anies Baswedan dalam acara Kick Andy (tanyang di Metro TV tanggal 18 Juli 2014) bilang ‘siapa dididik apa, menentukan duduk di mana’. Dengan pergi sekolah, seseorang jadi harus makin banyak baca buku, makin luas pengetahuan yang didapat, makin lebar wawasan yang diperoleh, semuanya untuk membawa kepada kehidupan yang lebih baik.

anak sekolahSetiap anak berhak atas pendidikan yang baik, namun pada kenyataannya tidak sedikit anak yang terpaksa melepaskan haknya bersekolah karena keluarganya tidak mampu membiayai. Jadi, kupikir dengan menolong anak-anak putus sekolah kembali ke sekolah, itu salah satu cara yang bisa dipakai seorang karyawan untuk mensejahterakan sekitarnya.  Kalau ada uang lebih untuk diinvestasikan, lihat sekeliling kita, manatau ada keluarga atau tetangga kita yang anaknya putus sekolah karena ga punya dana. Bila waktu lebih yang kita punya, kita bisa bantu mengajar di komunitas nirlaba yang punya misi memajukan pendidikan anak-anak Indonesia. Bila kita punya uang dan waktu yang lebih, kita bisa komitmen menjadi kakak asuh bagi adik-adik yang berkekurangan.

So, Kak Deasy & Dina, sudah siapkan untuk mensejahterakan kota kita? ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s