Memuji

Standard

Tadi pagi ketika menanti Pak Supir yang akan mengantarkanku ke Bekasi, sebuah email masuk. Dari Opiet, teman PA di Jakarta. Email tersebut dikirimkan ke 6 orang, yaitu orang-orang yang datang PA K2 hari Senin yang lalu. Isinya adalah meminta kami menulis ulang pokok doa kami, karena Opiet tidak menemukan kertas doa yang sudah kami kumpulkan Senin kemarin.

Aku langsung menjawab email itu secara japri ke Opiet. Aku masih ingat jelas pokok doa ku itu, soale cuma satu, hehehe.. Terkirim!

Tak berapa lama kemudian masuk lagi email dari Opiet, isinya seperti ini:

email opietBukan hanya berisi ucapan terima kasih, tetapi Opiet menuliskan hal lain yang kuanggap ‘pujian’ yang membuat aku tersenyum. Sebuah pujian yang membuat perjalanan Jakarta – Bekasi yang macet itu terasa menyenangkan. Memikirkan pujian itu. Menganalisanya. *Beuh.. apa-apaan ini sampai dianalisa segala?*

Selalu menjadi yang tercepat. Hmm.. kebetulan aja saat terima email itu aku lagi dalam keadaan santai, sedang menunggu Pak Supir sehingga bisa langsung membalas email. Mungkin teman yang lain ada yang sudah lebih cepat menjawab, tapi koneksi internet lagi lambat. Mungkin teman yang lain lagi sangat sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak bisa langsung menjawab email. Ada banyak kemungkinan.

Disiplin waktu? Wah.. Opiet ga tau aku sangat bergumul untuk urusan yang satu ini😀

Tapi mungkin Opiet ga mempertimbangkan berbagai hal untuk memberikan pujian itu. Dia menghargai respon cepatku dan menyatakannya.

Sesaat aku lalu merasa tidak berhak mendapatkan pujian itu. Namun, hal lain menggelitik pikiranku..tik tik tik..

Apakah aku sering memberikan pujian kepada orang lain atas perbuatan/pekerjaan mereka?

Ihhh.. ternyata jaaaraaanggg banget. Aku pelit dalam memuji orang lain😦 Mungkin memuji dalam hati sering, tapi siapa juga yang dengar kecuali Tuhan? Pujian tulus yang dinyatakan membuat hati yang mendengarnya gembira. Pujian tulus bisa menjadi obat bagi orang lain.

Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah  mengeringkan tulang (Amsal 17:22)

Hati yang gembira membuat muka berseri-seri,tetapi kepedihan hati mematahkan semangat (Amsal 15:13)

Aku mau belajar dari Opiet bagaimana menghargai orang lain. Thanks Opiet!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s