Tahun Investasi

Standard

Ketika Piala Dunia (Sepakbola) tahun 2010 usai, saat itu aku bertekad bahwa aku akan berada di Brazil untuk menyaksikan langsung Piala Dunia 2014. Langkah pertama yang aku lakukan untuk mewujudkan impian itu adalah membuat tabungan dalam bentuk reksadana di bulan Juni 2010, dan komit menabung setiap bulannya. Tahun 2013 aku mulai berhenti menyetor ke reksadana karena di tahun tersebut reksadana yang aku pilih itu lebih sering terpuruk nilainya.

Ketika aku memutuskan pindah ke Medan, kakak ku menawarkan aku untuk mengelola mini marketnya. Tawaran itu aku terima karena menurutku ini satu tantangan yang baik untuk menambah pengalaman bekerjaku, lagian masa kontrak ku di kantor akan segera selesai *dan ternyata kontrak ku diperpanjang*.

Tahun 2014 pun tiba. Dalam 4 bulan ke depan perhelatan Piala Dunia akan dimulai. Aku tidak lupa dengan mimpiku 4 tahun yang lalu. Melihat saldo reksadana yang ada sekarang, rasanya cukuplah jumlahnya untuk mewujudkan mimpi itu.

Namun, satu pertanyaan menyeruak dalam pikiran ‘apakah benar aku menginginkan mimpi ini?’. Aku bukan pecinta bola, nama dan wajah pemain sepak bola aja banyak yang ga tahu. Tidak pernah menyesal kalo terlewat nonton siaran pertandingan bola klub terkeren sedunia (terkeren menurut para fans nya yaa…). Tidak mengidolakan satu orang pesepak bola pun. Lebih sering ketiduran daripada menyelesaikan menonton satu pertandingan sepak bola dengan utuh. Tidak ikut milis/fans club bola mana pun. Well, dengan semua alasan di atas, yakinkah aku untuk membelanjakan tabungan reksadana ku untuk menyaksikan sesuatu yang sebenarnya biasa saja menarik minatku?

Inilah yang akhirnya kuputuskan: aku akan menggunakan sebagian besar reksadanaku  tersebut sebagai modal tambahan untuk mini market yang aku kelola. Segera akan aku redeem, terlebih setelah aku menonton film ‘The Wolf of Wall Street’, pesan yang kutangkap adalah orang yang punya surat-surat berharga semacam saham atau reksadana, mereka hanya kaya di atas kertas. Dalam hitungan menit bisa bertambah sangat kaya bahkan jatuh miskin. Surat-surat berharga itu tidak pernah menjadi real money selama belum dicairkan😀

Beberapa waktu yang lalu aku mendapatkan artikel yang sangat bagus tentang berinvestasi dengan dasar Firman Tuhan. Judulnya ‘The Biblical Money Code’ yang ditulis oleh Sean Hyman. Artikel ini tentang pengalaman seorang pendeta yang juga seorang praktisi keuangan, dan bagaimana dia menjadikan Alkitab sebagai pegangannya dalam berinvestasi.

Sangat menarik ketika dia membagikan 3 fundamental investasi-nya sebagai berikut:

‘The Biblical Money Code’ by Sean Hyman

‘The Biblical Money Code’ by Sean Hyman

Untuk penjelasan detail nya sila gugel dengan kata kunci ‘The Biblical Money Code + Sean Hyman’. Pasti akan ketemu juga artikel yang negatif tentang ‘The Biblical Money Code’ ini, sekarang tergantung bagaimana kita menyikapi hal yang disampaikan dalam artikel ini.

Semoga Tuhan memampukan aku berinvestasi sesuai kehendakNya. Amin!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s