Belajar Memberi

Standard

Mana yang lebih gampang untuk dilakukan: memberi saat kekurangan atau memberi saat berkecukupan?

Pertanyaan di atas aku lontarkan pada saat pertemuan PA Wanita Single di rumah kak Beny tanggal 9 February yang lalu. Saat itu kami sedang membahas seorang tokoh wanita di Alkitab yang dikenal dengan sebutan ‘Janda dari Sarfat’ (namanya tidak ada disebutkan dalam Alkitab). Kisah wanita ini adalah dia mau berbagi stok makanan terakhir yang dia punya dengan orang asing (nabi Elia, yang baru dia temui saat itu). Ini yang dipandang sebagai memberi saat (dari) kekurangan.

Lalu berkatalah Elia, orang Tisbe, dari Tisbe-Gilead, kepada Ahab: “Demi Tuhan yang hidup, Allah Israel, yang kulayani, sesungguhnya tidak akan ada embun atau hujan pada tahun-tahun ini, kecuali kalau kukatakan.”

Kemudian datanglah firman TUHAN kepadanya: “Pergilah dari sini, berjalanlah ke timur dan bersembunyilah di tepi sungai Kerit di sebelah timur sungai Yordan. Engkau dapat minum dari sungai itu, dan burung-burung gagak telah Kuperintahkan untuk memberi makan engkau di sana.”

Lalu ia pergi dan ia melakukan seperti firman TUHAN; ia pergi dan diam di tepi sungai Kerit di sebelah timur sungai Yordan. Pada waktu pagi dan petang burung-burung gagak membawa roti dan daging kepadanya, dan ia minum dari sungai itu. Tetapi sesudah beberapa waktu, sungai itu menjadi kering, sebab hujan tiada turun di negeri itu.

Maka datanglah firman TUHAN kepada Elia: “Bersiaplah, pergi ke Sarfat yang termasuk wilayah Sidon, dan diamlah di sana. Ketahuilah, Aku telah memerintahkan seorang janda untuk memberi engkau makan.”

Sesudah itu ia bersiap, lalu pergi ke Sarfat. Setelah ia sampai ke pintu gerbang kota itu, tampaklah di sana seorang janda sedang mengumpulkan kayu api. Ia berseru kepada perempuan itu, katanya: “Cobalah ambil bagiku sedikit air dalam kendi, supaya aku minum.”

Ketika perempuan itu pergi mengambilnya, ia berseru lagi: “Cobalah ambil juga bagiku sepotong roti.”

Perempuan itu menjawab: “Demi TUHAN, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikitpun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Dan sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati.”

Tetapi Elia berkata kepadanya: “Janganlah takut, pulanglah, buatlah seperti yang kaukatakan, tetapi buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar kecil dari padanya, dan bawalah kepadaku, kemudian barulah kaubuat bagimu dan bagi anakmu.

Sebab beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itupun tidak akan berkurang sampai pada waktu TUHAN memberi hujan ke atas muka bumi.”

Lalu pergilah perempuan itu dan berbuat seperti yang dikatakan Elia; maka perempuan itu dan dia serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya. Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman TUHAN yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Elia. (I Raja-Raja 17:1-16)

Bagiku, kekurangan atau kelebihan itu sifatnya subjektif. Kurang bagiku, bisa jadi lebih bagi orang lain. Sebaliknya, cukup/lebih bagiku, bagi orang lain bisa jadi kurang. Tidak ada tolok ukur yang pasti. Menjawab pertanyaan yang aku ajukan di atas, aku bilang lebih susah memberi pada saat berkecukupan, bila kita tidak pernah mau belajar memberi saat kekurangan. Ketika kita tetap taat memberi/berbagi saat kekurangan, itu adalah perbuatan iman bahwa Tuhan akan mencukupkan kebutuhan kita. Juga ketika kita tetap ikhlas memberi pada saat berkecukupan, itu perwujudan dari ucapan syukur.

Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.  Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar (Lukas 16:10).

Menurutku, keciiiiill kemungkinan ada orang yang bisa langsung ikhlas berbagi/menyumbang 10 juta ketika mendapatkan penghasilan 100 juta, apabila ketika berpenghasilan 10 juta dia merasa kuatir kekurangan bila harus menyumbangkan 1 juta. Suka memberi/menolong/berbagi itu adalah karakter yang harus ditempah terus menerus, bukan bawaan dari lahir.

Jadi ingat ucapan Kak Beny bahwa kita sering berdoa meminta agar kita menjadi saluran berkat bagi orang lain, dan sesering itu juga kita lupa bahwa kita sudah diberi cukup untuk bisa berbagi (menjadi saluran berkat) kepada orang lain. Yang diberi itu tidak melulu harus materi seperti uang atau barang, namun bisa juga dalam bentuk waktu atau tenaga.

Mari terus belajar memberi Ndepurba, dan tetap nikmati pengalaman bagaimana Tuhan mencukupi kebutuhanmu. Jehovah Jireh!

One response »

  1. bagus sekali berkatnya… kk juga terus berdoa untuk “menjadi saluran berkat” bagi orang lain..”.setia dalam perkara-perkara kecil”… siap sedia melalui pengalaman “belajar memberi saat kekurangan”

    terimakasih telah berbagi
    Tuhan Memberkati

    Beny OY Marpaung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s