Pagi Penuh Drama

Standard

20.Aug.2013 Alarm di hape berbunyi jam 5.15 pagi. Dengan malas aku bangun untuk mengambil hape di atas kursi di seberang tempat tidur. Aku matikan. Lalu refleks balik ke atas kasur, menarik selimut. Terdengar suara hujan rintik di luar jendela.

Namun, pikiranku mengingatkan aku yang dari semalam sudah berencana untuk bangun pagi dan melakukan beberapa kegiatan sebelum berangkat ke kantor: cuci pakaian, ngepel, masak untuk bekal makan siang dan malam *ART mode on* Ahh.. dinginnya udara sepertinya tidak merelakan aku keluar dari selimut.

Sepuluh menit kemudian dengan memaksakan diri aku bangkit dari tempat tidur. Mengambil jaket tipis dan memakainya ke badanku. Buka pintu kamar lalu beranjak ke pintu depan rumah. Aku harus memutar dulu keran air di halaman depan. Ya.. karena keran PAM ku bocor dan belum diperbaiki, makanya aku menutup keran air tersebut saat keluar dari rumah dan saat malam menjelang tidur.

pintuKunci pintu aku putar. Krek..krek… di putaran kedua kunci ga bergerak. Aku coba lagi, tetap ga mau berputar. Aku putar lagi ke kanan untuk mengunci kembali lalu aku putar ke kiri untuk membukanya. Tetap hanya bisa berputar di putaran pertama. Sedikit mulai cemas. Aku angkat gagang pintu..aku tekan daun pintu, aku olesi kunci dengan minyak sayur, aku putar bolak balik kunci dengan berbagai gaya dan cara. Tentu sambil memohon pada Tuhan untuk ‘melembutkan’ kunci ini. Tetap tidak bisa terbuka.  Hampir empat puluh menit berlalu. Jari tanganku sudah mulai sakit. Aku google ‘cara mengatasi pintu yang macet’, tidak ada yang memuaskan hasilnya.

Jam 5.52 pagi akhirnya aku kirim Whatsapp (WA) dan SMS ke Abangku, berharap dia sudah bangun. Pengen telpon Abang atau kakak, tapi ga enak membangunkan mereka. Di Medan ini, jam 6 pagi itu hitungannya masih ‘subuh’, hehehe..  Tiga menit kemudian aku coba telepon, HP nya ga aktif. Aku coba telpon ke HP eda-ku, nyambung tapi ga diangkat. Mereka masih tidur kayaknya..

Jam 6.15 aku sms kakakku. Tak disangka dia me-reply, menanyakan pintu mana yang ga bisa dibuka. Aku telpon dia untuk menjelaskan. Dari suaranya yang terdengar masih ngantuk, dia sarankan untuk bantu dengan pisau aja tuh putaran yang macet. Aku pun menjalankan sarannya, tetap ga berhasil. Selesai menelepon dengan kakak, ada balasan WA dari Abang. Aku menelpon kembali untuk menjelaskan situasi yang ada. Saran yang Abang sampaikan sudah aku lakukan di awal tadi tanpa hasil. Akhirnya kami sepakat Abangku akan datang setelah mengantar Gia (ponakanku) ke sekolah. Sekitar jam 8-an.

Buyar deh rencana untuk mencuci dan mengepel, mengingat tak ada air yang bisa dipakai. Aku pun mengirimkan sms ke Bos minta ijin datang agak siang ke kantor karena terkunci di dalam rumah. Alasan yang benar-benar ngga keren blas..😦

Jam 7.40 pagi bantuan pertama datang. Rumanti, karyawan kakak, diutus untuk membuka pintu gerbang dan membuka keran air di halaman. Pintu rumah bagian depan ini ada dua. Di lihat dari dari luar, ada pintu besi baru kemudian pintu kayu yang macet ini. Nah, masalah semakin kompleks karena pintu besinya aku grendel dari dalam. Jadi, Rumanti tetap ga bisa juga membuka pintu besi.

Rumanti akhirnya pulang. Aku kontak lagi dengan kakak via SMS. Untuk bisa buka grendel pintu besi dari luar, maka kasa besi yang menutupinya harus digunting dengan gunting besar atau tang. Aku minta tolong kakakku suruh karyawannya datang lagi dengan membawa gunting atau tang itu. Sambil menunggu bantuan datang, aku mulai merendam pakaian dan mengepel.

Jam 8.30 Rumanti balik lagi. Dia bawa gunting dan mulai mengguntingi bagian atas dan bagian bawah tempat si grendel terpasang. Ternyata grendel itu sangat dekat dengan pintu kayu sehingga dia mengalami kesulitan untuk membuka grendel. Akhirnya bagian tengah juga digunting agar dia bisa bantu buka pintu kayu dari luar. Hasilnya: pintu kayu tetap ga bisa dibuka😦

Akhirnya aku bilang, kalo tetap ga bisa dibuka, mau ga mau pintu kayu ini harus didobrak. Tentu saja mendobraknya harus dari luar. Itu berarti grendel pintu besi harus bisa dibuka. Setelah susah payah, akhirnya grendel bagian bawah bisa dibuka.

Grendel bagian atas lebih susah lagi untuk dibuka. Di tengah usahanya membuka grendel atas, Rumanti coba lagi buka kunci pintu kayu. Tak disangka ternyata berhasil. Heh? Aku senang, kaget sekaligus bingung. Kami coba lagi untuk mengunci dan membukanya kembali. Ga ada masalah. Jadi, pintu ini dari tadi ada masalah apa ya?

Rumanti pun sukses menjalankan misi nya dan permisi pulang 🙂. Aku mengucapkan terima kasih berkali-kali.

Jam 9 Abangku nongol bersama satu orang tukang. Dia kaget lihat pintu sudah terbuka. Sepertinya dia belum baca WA-ku yang terakhir aku kirim. Demi mencegah kejadian pintu macet ini terulang lagi, akhirnya perangkat kunci pintu depan diganti dari pintu kamar yang lain. Selagi Abang dan tukang memperbaiki pintu, aku melanjutkan kegiatan dengan memasak dan mencuci.

Jam 9.30 pintuku selesai diperbaiki. Ketika Abangku mau pulang, kakakku nongol. Kakak menawarkan bantuan untuk mengantarkanku ke kantor. Aku  beberes peralatan masak, mandi, dan akhirnya jam 10.15 meninggalkan rumah menuju ke kantor.

Jam 5.15 – 10.15: lima jam di pagi hari yang penuh drama. Tetap Tuhan menunjukkan penyertaanNya melalui orang-orang yang menolong aku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s