Trip Lombok 17-20 Mei 2013 – part 3

Standard

18 Mei 2013 Rute hari ini ke pantai Pink. Horeee…  Perjalanan akan dimulai cukup pagi jam 7.30 karena butuh waktu minimal 3 jam menuju ke sana. Jam 7 pagi kita dah nunggu di ‘resto’ penginapan untuk sarapan. Pegawai-nya baru datang hampir jam setengah delapan.

Pilihan sarapan untuk makanan: nasi goreng  (sangat sederhana) atau roti bakar dengan selai, dan untuk minuman: teh panas atau kopi hitam (kopi Lombok). Aku dan Rahma kompak pesan nasi goreng, sementara Irma minta roti bakar-nya dibungkus aja.

Mas Aziz ditemani Mas Sabri yang bertugas menyetir hari itu. Kalo perjalanan jauh, biasanya guide-nya ada dua, begitu kata Mas Aziz. Sepanjang perjalanan, Mas Aziz banyak cerita tentang objek yang akan didatangi dan juga tentang pengalaman hidupnya bekerja 11 tahun di kapal pesiar as waiter. Pengalaman hidup yang luar biasa.

Our excellence guide: Mas Aziz & Mas Sabri

Our excellence guide: Mas Aziz & Mas Sabri

Perjalanan ke pantai pink akan dilalui 2 jam jalan darat dan sekitar 1 jam dengan boat. Menurut cerita temanku yang sudah pernah ke sana dan dari blog sebelumnya, jalan darat yang ditempuh cukup berat. Ada jalan sepanjang 13 km yang berliku dan berbatu. Nah, kali ini kami beruntung karena Mas Aziz membawa kami melalui jalan alternative lain yang sangat mulus dan berujung di pelabuhan Tanjung Luar. Pelabuhan ini adalah salah satu tempat pelelangan ikan terbesar di NTB.

Ketika kami sampai di pelabuhan ini, kami melihat ada ikan hiu yang tertangkap. Kata nelayannya sih dah mati. Baru kali ini aku liat secara langsung ikan hiu. Besar banget euyy..

tanjung luar

Pak Amat yang menjadi boatman hari itu sudah menunggu kami. Setelah barang-barang dinaikkan ke kapal, kami pun siap meng-explore Pantai. Air laut yang biru nan jernih serta pemandangan sekitarnya, ditambah acara foto-foto dari atas kapal membuat perjalanan dengan kapal ini terasa singkat. Persinggahan pertama adalah di gundukan pasir yang menonjol di tengah lautan. Kata Pak Amat, tidak selalu gundukan ini tampak. Keberuntungan berikutnya untuk kami😀

Begitu menginjakkan kaki di gundukan pasir ini, kami hanya bisa bilang ‘amaaaziiiing’. Kami berada di tengah lautannnnn…  Langsung foto-foto narsis. Air jernih dan tak dalam membuat kami ingin segera masuk ke air. Sekitar 500 meter dari gundukan pasir ada sebuah pulau kecil. Kami bertiga menuju pulau itu dengan berenang dan jalan kaki, wkkkwkwk.. Dari jauh Mas Aziz memotret kami. Kami ketemu bintang laut warna merah. Langsung deh si bintang laut jadi objek foto.

gundukan pasir

Asyik berjalan, kami tak sadar kalo Pak Amat mengikuti kami dari belakang sambil bawa kameraku. Beliau berubah jadi tukang foto sekarang. What an excellence service. Sampai di pulau itu, Pak Amat bilang dari semua tamu yang pernah dibawa Mas Aziz, kami adalah peserta pertama yang berjalan sampai ke pulau itu. Ketika melihat jalan yang sudah kami tempuh, capek juga kalo harus kembali lagi ke gundukan pasir. Tapi tiba-tiba, kapal datang menuju kami. Pak Amat tampak terkejut melihat Mas Aziz yang menjalankan kapal itu. Dia hanya bisa geleng-geleng kepala. Mas Aziz emang multi talenta, he he he..

Kami pun naik ke kapal untuk menuju Pantai Tangsi yang berpasir warna pink, sehingga pantai tersebut sering disebut Pantai Pink. Kami melewati Gili Petelu, tempat kami akan snorkeling nanti. Dari atas kapal, kami bisa melihat terumbu yang sempurna di bawah air. Aku udah ribut aja bilang pengen terjun ke air, hahaha..  Pak Amat menghentikan laju kapal sejenak untuk membiarkan kami menikmati kejernihan air itu. Selain itu kami juga melihat patok-patok di laut yang menandakan budidaya mutiara ada di situ. Lombok juga terkenal akan mutiara air asinnya.

gili petelu

Dari kejauhan kami bisa lihat beberapa kapal lain sudah tertambat di Pantai Pink. Menurut Mas Aziz, kalo hari minggu pantai Pink itu cukup ramai dengan kedatangan penduduk lokal. Benar, pasir pantai ini berwarna kemerah-merahan. Sepertinya dari terumbu warna merah yang sudah mati. Di Pantai Pink, kami bertiga belajar menggunakan alat snorkeling dan baju pelampung. Setelah foto-foto sejenak dengan alat snorkeling kami langsung naik kapal lagi. Kami malah tidak explore Pantai Pink sama sekali, sudah ga sabar pengen snorkeling aja, hahahah..

pantai pink

Kapal membawa kami kembali ke Gili Petelu. Pak Amat yang akan memandu kami dan turun duluan ke laut. Aku, Irma dan Rahma menyusul kemudian. Benar-benar terumbunya indah benar. Surprise juga lihat Rahma yang belum pernah snorkeling bisa cepat beradaptasi dengan alat snorkeling ini. Meski sempat juga sekali air laut terminum olehnya.

Pak Amat ingin membawa kami mengelilingi gili. Namun, belum juga setengahnya kami sudah kelelahan, hahaha.. Padahal indah banget di bawah situ. Terumbu-nya belum ada yang pecah, ikan berwarna warni, ada bintang laut yang terlihat warna biru (tapi pas dibawa keluar dari air warnanya kok abu-abu, hehhe..), dan pantulan sinar matahari yang sampai ke dasar membuat pemandangan bawah laut semakin indah. Bila mengingat pengalamanku snorkeling di Gili Tarawangan beberapa bulan sebelumnya, bisa dibilang pemandangan di Gili Petelu ini jauhhh lebih indah dari yang di Gili Tarawangan.

Kayaknya kami snorkeling ga sampai 1 jam. Kami pun menepi dan beristirahat di Pantai Petelu. Namun beningnya air pantai membuat kami segera masuk air lagi, hahaha… rasanya seperti pemilik pulau pribadi sendiri karena cuma kami yang ada di situ. Kami menyempatkan sebentar naik ke bukit kecil yang ada di situ. Dari atas terlihat nyata gradasi birunya air membuat aku benar-benar speechless. Lengan dan mukaku mulai menghitam. Tapi cuek aja deh soale hatiku sangat senang. Thanks God for giving me this pleasure. I am sooooo happy.

for blog - snorkel at gili petelu

Puas di Gili Petelu kami pun naik kapal dan menuju Pantai Sebui. Di pantai ini kami akan makan siang. Pasir pantai sehalus  tepung menyambut kami. Saking halusnya sampai susah jalan, hahaha.. Sementara Pak Amat membakar ikan, Mas Aziz dan Mas Sabri menyiapkan peralatan makan dan hidangan makan siang yang sudah disiapkan oleh istri Pak Amat, kami bertiga berlari ke ujung pantai untuk foto-foto dan tentunya berenang lagi.

Pantai Sebui

Pantai Sebui

Dua puluh menit kemudian Mas Aziz memanggil kami untuk makan siang. Tikar sudah digelar di bawah satu pohon yang cukup rindang. Di atas tikar terhidang Ikan bakar, kepiting kuah bumbu kuning, cumi goreng, nasi dan sambal kecap yang assoyy pedasnya. Sungguh makan siang yang sangat nikmat. Kita sempat bercanda, biasanya wanita yang menyiapkan makanan, hari ini malah sebaliknya, para pria yang melayani wanita, hihihi…

lunch

Selesai makan, badan sudah agak kering. Langit juga sudah terlihat mendung. Irma sudah ga mau masuk air lagi, sementara aku dan Rahma masih sempat minta diambilin foto di dalam air. Jam 3 sore kami pun berlalu dari pantai Sebui. Mengambil rute mengelilingi pulau membuat perjalanan pulang kami lebih lama sekitar 15 menit.

Sempat kena hujan di laut. Mas Aziz menunjukkan gundukan pasir yang tadi kami datangi sudah tertutup air. Sudah mulai pasang. Ada kalanya juga ketika surut, dari gundukan pasir ke pulau tersebut air benar-benar hilang. Ga tau deh ilang ke mana, hahaha.. Karena kelelahan, foto-foto narsis pun berhenti.

Jam 4 sore kami pun sampai kembali di pelabuhan Tanjung Luar. Setelah say thanks and goodbye ke Pak Amat, kami pun kembali ke kota Mataram. Dalam perjalanan kami singgah di satu SPBU untuk bilas-bilas dan ganti pakaian. Ternyata baju yang aku saat di pantai tadi koyak di bagian bawah. Aku putuskan untuk ‘membuang’ saja baju itu.

Seperti hari sebelumnya, kami makan malam dulu sebelum kembali ke hotel. Malam ini menunya sate rambige. Menurut Mas Aziz, rumah makan yang akan kami datangi ini sudah puluhan tahun menjual sate Rambige. Meski di sekitar itu ada juga yang jualan sate rambige, tempat ini yang paling laris. Apalagi pas bulan puasa. Bisa antri satu jam.

Sate ini terbuat dari daging sapi yang sudah direndam bumbu khusus semalaman lalu di bakar. Rasa sate ini emang enak dan (lagi-lagi) pedas. Tidak ada sambal kacang atau pun saos. Menurut aku rasanya seperti dendeng basah. Sate juga bisa dimakan dengan lontong ataupun nasi. Satu porsi sate rambige berisi 10 tusuk dibandrol Rp 15.000,-. Selain sate, rumah makan ini juga menyediakan sup iga dan pepes ikan.

Awalnya tidak ada rencana untuk melihat mutiara, namun karena ada teman Rahma yang ingin nitip dibelikan mutiara, jadilah kami dibawa ke Lia’s Pearl, toko yang menjual mutiara asli dan memberikan sertifikat keaslian. Dari rencana hanya ingin melihat-lihat saja, berujung dengan kami bertiga sukses bertransaksi. Aku membeli cincin bermata mutiara air asin yang diikat dengan emas 22 karat *gesek kartu*

Kembali mampir ke mini market untuk membeli persediaan snack dan minuman ringan untuk perjalanan ke air terjun besok hari. Lebih dari jam 10 malam kami tiba di penginapan. Jemur pakaian dan sandal yang basah, mandi lalu tidur.

Happy!

before and after

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s