Trip Lombok 17-20 Mei 2013 – part 2

Standard

17 Mei 2013 Ketika dalam perjalanan menuju Bandara Soekarno Hatta, aku mendapat kalo hari itu lagi ada promo 11 tahun starbucks Indonesia berupa diskon 50% untuk semua jenis minuman dengan cara pembayaran apapun. Aku dan Irma ikutan antri di counter starbucks di Bandara after check in. Sebenarnya kalo dipikir-pikir, walaupun sudah diskon 50% tetap aja harga minuman di SB ini mahal. Apalagi kalo ga diskon ya..

Garuda berangkat tepat waktu jam 11 siang wib. Aku dan Irma dapat seat baris kedua dari belakang. Seluruh seat terisi. Sepertinya ada rombongan gathering dari sebuah kantor. Oh ya, Rahma sudah berangkat terlebih dahulu satu hari sebelumnya.

Perjalanan dari Jakarta ke Lombok memakan waktu 2 jam. Pukul 2 siang waktu Lombok kami mendarat mulus di Bandara Praya. Bandara ini baru beroperasi tahun 2011, menggantikan bandara Selaparang yang ada di dalam kota Mataram. Rahma dan Mas Aziz sudah menunggu kami di pintu keluar kedatangan.

Hujan deras mengguyur siang itu. Kami putuskan untuk ke Pantai Tanjung Aan dulu, tempat yang terjauh. Kami mengganti celana panjang kami terlebih dahulu dengan celana sedengkul di halaman sebuah mushola dekat pantai Kuta.

Mas Aziz mengingatkan kami bahwa di pantai Kuta dan Pantai Tanjung Aan akan banyak pedagang yang menawarkan souvenir seperti kaos, kain ikat tenun, dll. Mas Aziz menyarankan untuk tidak memegang sama sekali barang yang ditawarkan karena kalo udah pegang biasanya kita dipaksa untuk membeli. Bila kita sudah membeli dari satu pedagang, maka pedagang lain akan menyerbu minta kita beli dari mereka. Selain itu, pedagang yang masih anak-anak juga akan bilang untuk tidak usah beli tapi cukup beri mereka uang seribu untuk makan/jajan. Wah…berubah dari pedagang jadi peminta-minta😦

Pantai Tanjung Aan tampak indah di sore itu. Airnya terlihat biru. Mas Aziz juga sangat membantu menjadi photographer ketika kami ingin foto bertiga. Puas deh foto-foto narsis.

Pantai Tanjung Aan

Pantai Tanjung Aan

Puas menikmati Pantai Tanjung Aan, kami menuju Pantai Kuta yang terkenal dengan pasirnya yang seperti merica. Benar-benar kayak merica loh. Di pantai ini ketemu dengan rombongan gathering yang satu pesawat dengan kami tadi, hehehe.. Pantai Kuta juga bagus dengan tepinya yang landai. Saat itu kami tidak melihat ada orang yang berenang di pantai. Oh ya,  apa yang Mas Aziz ceritakan tentang pedagang souvenir di kedua pantai ini benar adanya. Kami bertiga pun patuh untuk tidak memegang barang yang ditawarkan dan tidak member waktu untuk berinterkasi dengan mereka.

pantai Kuta

Tujuan berikutnya adalah Pantai Batu Payung. Mas Aziz bilang itu sekitar 45 menit perjalanan dan ada kemungkinan tiba di sana pantai sudah pasang. Mengingat kami juga ingin berkunjung ke Desa Sade (rumah adat suku Sasak), maka kami putuskan untuk skip ke Pantai Batu Payung. *sedikit menyesal kemudian, karena keesokan harinya lihat foto Pantai Batu Payung yang sangat keren di majalah wisata di lobi penginapan*

Tempat berikutnya yang didatangi adalah Desa Sade. Di tempat ini juga ketemu lagi ama rombongan gathering itu, hahha.. Kami dipandu seorang guide dari desa Sade ini. Di desa ini masih berlaku tradisi kawin culik. Ketika sepasang muda mudi ingin  menikah, maka sang pria harus menculik kekasihnya dari rumahnya dan disembunyikan di rumah kerabat yang lain. Orangtua/keluarga perempuan ga boleh tahu tentang rencana penculikan ini *ya iyalah, namanya juga diculik*. Lucu juga ya tradisinya.

Menurut pemandu, rata-rata pernikahan terjadi antar sepupu/saudara. Alasannya kalo mengambil perempuan dari pihak luar, maharnya satu ekor kerbau. Sangat mahal bagi penduduk desa ini.

Rumah di Desa Sade ini berdinding tepas dan berlantai tanah. Lantai tanah tersebut sering di-pel dengan kotoran kerbau. Rumah hanya terdiri dari dua ruangan. Ruang depan untuk tidur orangtua dan anak laki-laki, sementara ruang belakang untuk dapur dan tempat tidur anak gadis. Setiap rumah yang kami masuki atau Cuma sekedar melongok, kami tidak melihat ada perabotan rumah seperti kursi, meja, tempat tidur, lemari, dll. Pemandu bilang, penduduk tidak sanggup untuk membeli perabotan rumah tersebut. Duh, terus terang aku ga bisa membayangkan bagaimana setiap harinya tinggal di rumah seperti itu.

for blog - desa sade

Mata pencaharian penduduk desa Sade adalah bertani, sementara para perempuannya kebanyakan bertenun. Anak gadis baru boleh menikah bila dia sudah bisa menenun. Penduduk ini mengolah sendiri kapas menjadi benang secara tradisional lalu menenun benang tersebut menjadi kain ikat. Tapi anehnya, banyak kain yang ditawarkan ke pengunjung bukanlah kain tenun tangan, tapi hasil mesin😦

for blog - desa sade2

Merasa cukup berkeliling desa Sade, kamipun beranjak pergi dari sana. Mas Aziz menyarankan kami untuk makan malam dulu baru check in ke penginapan. Ayam Taliwang dan plecing kangkung menjadi pilihan menu makan malam. Aku pesan ayam goreng taliwang pedas, Irma lagi batuk jadi pesannya ayam bakar madu.  Rahma pesan tahu goreng, karena malam sebelumnya dia dah makan Ayam Taliwang dan menurutnya ga begitu enak. Kalo aku sih suka-suka aja.. tapi emang pedas banget itu plecing kangkung. Bahkan ayam bakar madunya aja ada pedasnya, kata Irma.

Selesai makan malam, kami dibawa ke toko oleh-oleh. Irma pengen beli madu Lombok, tapi ga jadi karena harganya terlalu mahal. Kami sempat mencicipi beberapa sample makanan. Aku tidak ada beli apapun di sini. Rahma beli beberapa kotak dodol, sementara Irma beli snack berupa stick rasa kangkung juga nastar ala Lombok.

Mengingat rute hari kedua adalah ke Pantai Pink, Rahma pengen beli topi. Kamipun dibawa ke toko Gandrung yang kayak toko Krisna di Bali, hanya saja lebih kecil dan tidak menjual makanan. Pengen beli tempelan kulkas tapi modelnya biasa banget. Tertarik dengan satu baju tapi ukurannya kecil semua. Lagi-lagi aku ga beli apapun di sini, sementara Rahma membeli satu topi pink dan satu jumpsuit.

Sebelum ke penginapan, kami singgah dulu di Indomart untuk beli cemilan dan minuman ringan untuk perjalanan esok hari. Surprise lihat di Indomart menjual snack stick dengan merk yang sama yang Irma beli tadi di toko oleh-oleh, dan harganya 30% lebih murah. Irma kesal tapi dia bilang at least jenis rasanya beda.

Akhirnya kami menuju penginapan di daerah Senggigi. Nama penginapannya Transit Inn, berada di tepi pantai. Dari dalam kamar kami bisa mendengar suara deburan ombak. Kamarnya lumayan besar dan bersih. Fasilitas: handuk, sabun padat, water heater, AC, TV dan sarapan.

Unpacking, siapin baju untuk trip ke pantai, dan mandi. Akhirnya tidur deh jam 11 malam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s