Mudik Tutup/Buka Tahun 2013: Part – 1

Standard

Setelah dua tahun sebelumnya berturut-turut tutup dan buka tahun baru bukan di Medan, maka sudah lama aku putuskan untuk bertahun baru 2013 di Medan. Tiket juga sudah aku beli sejak bulan April 2012 untuk keberangkatan tanggal 28 Desember 2012 dan kembali ke Jakarta tanggal 1 Jan 2013.  Tentu donk dapat tiket promo, hanya 1.1jt return by Citilink and Garuda.

28 Des 2012 Aku akan terbang dengan Citilink jam 6 pagi. Malam sebelumnya aku sudah pesan taksi untuk menjemput jam 4 pagi. Ternyata aku telat bangun (lagi). Aku terbangun justru karena ada telepon dari taksi pesanan yang menyampaikan taksi sudah sampai di tempatku. Buru-buru cuci muka dan sikat gigi (untung 4 jam sebelumnya aku memutuskan mandi dulu sebelum tidur) dan 20 menit kemudian aku meluncur ke SHIA (Soekarno Hatta International Airport).

Empat puluh (40) menit kemudian aku tiba di terminal 1C. Bandara terlihat sangat ramai, khas suasana liburan. Citilink ternyata delay 15 menit. Setelah take off, setengah perjalanan aku isi dengan tidur. Jam 8.35 mendarat dengan sempurna di Polonia. Welcome to Medan! Jam 9 pagi akhirnya Gia dan Bapaknya nongol untuk menjemput. Rambut Gia dah mulai gondrong. Cantik..🙂

gia (2)

Kami singgah dulu ke daerah Sekip untuk beli mie goreng as breakfast. Untukku menunya adalah mie pangsit goreng seharga Rp21.000/porsi.  Terdengar mahal ya untuk ukuran Medan, tapi harga segitu layaklah mengingat porsinya bisa untuk 2 orang dan yang penting, enakk.. Sambil nunggu pesanan dibuat, foto-foto deh dengan Gia.

Sampai di rumah kakak, mie goreng pun disantap. Selesai makan aku dan kakak berangkat ke beberapa pajak (pasar) untuk belanja bahan masakan untuk acara di Peceren besok. Dari awal sudah aku sarankan untuk menggunakan jasa catering, tapi mamak dan kakak memutuskan untuk masak sendiri aja karena cuma 2 menu yaitu sayur Tauco dan Rendang.

Pajak Peringgan adalah tempat yang pertama kami datangi. Di tempat ini kami beli bumbu giling yang sudah terkenal kualitasnya seantero kota Medan. Kata kakakku, kalo mau masak yang anti gagal, gunakanlah bumbu dari tempat ini. Rahasia bumbunya adalah mereka  hanya menggunakan bahan mentah yang baik, misal cabe, bawang merah, bawang putih. Mereka tidak akan memasukkan cabe yang sudah busuk atau menjelang busuk. Jadi walaupun satu porsi bumbu gulai seharga Rp 5.000,- cuma mendapatkan satu plastik kecil (sedang di tempat lain kita bisa dapat banyaknya 2-3x lipat), tapi rasanya jauh lebih enak. Tak heran kalau sudah menjelang hari raya/hari besar, antrian orang di tempat bumbu ini bisa puluhan meter dan pakai nomor, sementara di tempat bumbu giling yang lain sepi pembeli.

Selesai beli bumbu (antri sekitar 20 menit dan pakai acara mata berkaca-kaca karena pedih terkena uap bumbunya) kami lanjut beli daging sapi dan beberapa bahan lainnya. Kali ini minta ditemani Bi Uda yang memang juga punya toko sepatu di pajak Peringgan ini. Ternyata ada beberapa bahan masakan yang ga ada, akhirnya kami pergi ke Pajak Sambu. Duh, melihat sayuran yang sangat segar di pasar ini, jadi pengen borong bawa ke Jakarta deh. Untung aja bisa mengendalikan diri, hahaha…

Setelah lengkap semua bahan yang diperlukan, kami pun pulang ke rumah. Isi perut dengan sisa Mie pangsit goreng tadi pagi. Setelah itu langsung berangkat ke rumah di Bekala (tempat Bapak dan Mamak tinggal sebelumnya) untuk ambil beberapa baju dan celana Bapak yang akan diberikan kepada adik-adik Bapak.

Rumah di Bekala sudah disewakan ke orang lain, tapi tidak termasuk kamar Bapak. Berbagai kenangan melintas ketika kembali datang ke rumah ini. Tanah di belakang rumah yang saat Bapak masih ada sangat rapi, sekarang sudah penuh dengan semak dan rumput tinggi. I miss you, Bapak😦

Pulang dari Bekala, kami tidak hanya membawa satu kardus pakaian Bapak, tapi juga satu buah belanga besar, satu rak pajangan kaca dan lesung beserta alu-nya😀 Setelah menurunkan barang-barang tersebut, aku dan Kakak langsung berangkat lagi ke Simpang Kuala untuk beli durian, hehhehe… Dapat 5 buah durian yang cukup besar dengan total harga Rp 70.000,-.  Asikkk…

Selesai dari beli durian, kembali ke rumah Kakak dan langsung masuk dapur. Rencananya rendang akan dimasak di Medan, sementara sayur tauco akan dimasak di Peceren. Aku bertanggung jawab untuk sayur tauco, sementara kakak ambil bagian di pembuatan Rendang. Semua bahan sayur tauco yaitu kacang panjang, terung jari, cabe merah, cabe hijau, bawang merah, bawang putih, dicuci dan dipotong/diiris. Tahu dan tempe digoreng ½ matang lalu dipotong-potong dadu. Telur puyuh direbus dan dikuliti. Udang segar di bersihkan dari kepala dan ekornya. Semua bahan-bahan tersebut dimasukkan ke wadah masing-masing dan dimasukkan kulkas. Besok pagi tinggal diangkut ke Peceren untuk dimasak di sana. Butuh waktu sekitar 3 jam untuk mempersiapkan bahan-bahan ini semua. Capeeeekkk..

Jam 9 malam kurang Bi Uda datang untuk membantu. Bi Uda akan nginap di rumah kakak biar besok bisa berangkat bareng. Jam 10 malam kami makan malam dan ditutup dengan makan durian sepuasnya. Duriannya enaaakkk banget ^_^

Hampir tengah malam akhirnya kami semua masuk kamar. Aku terbangun beberapa kali karena kepanasan. Efek makan durian! *kipas-kipas*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s