Biaya Pernikahan

Standard

Saat menghadiri acara pemberkatan seorang teman beberapa waktu yang lalu, Bapak Pendeta menyampaikan satu hal yang menarik. Dia menanyakan ke pengantin, berapa kira-kira biaya acara pernikahan mereka. Ya pasti ga dijawablah sama pengantinnya, hehehe.. Beliau bilang, bukan hanya uang yang dikeluarkan oleh pengantin dan keluarganya, tapi juga termasuk uang yang harus dikeluarkan oleh para tamu/undangan. Misal: biaya sanggul/make up ke salon, biaya baju (bahan dan ongkos jahit), transportasi ke gereja dan tempat resepsi, dan waktu yang harus diluangkan (apalagi kalo acaranya pas hari kerja, harus cuti atau masuk terlambat) oleh para hadirin. Bila dihitung semuanya, mungkin biaya sebuah acara pernikahan bisa mencapai milyaran rupiah.

Aku jadi teringat dengan pendapat seorang kakak angkatan sekitar 5 tahun lalu yang menurut aku agak aneh. Dia berpendapat tidak tepat bila tamu ‘diwajibkan’ untuk membawa kado ataupun angpao ke acara pernikahan. Sekarang aku jadi mikir, apa mungkin dasar pendapatnya adalah seperti cerita Bapak Pendeta di atas? Apakah pengorbanan waktu dan dana seperti di atas masih kurang sehingga harus bawa kado lagi? Apalagi kalo acara pernikahannya di luar kota, tambah lagi deh biaya transportasi dan akomodasinya. Kalo emang ini alasannya, aku jadi setuju dengan pendapat kakak angkatan ku itu, hehehe…

Jadi ingat nasihat pernikahan dari penasehat keuangan yang pernah aku baca di majalah. Jangan pernah memaksakan pesta pernikahan yang mewah/besar dengan utang, apalagi sampai memasukkan angpao dari tamu sebagai sumber pendapatan ketika menghitung anggaran biaya pernikahan. Pesta pernikahan adalah sebuah keriaan yang ingin dirayakan dengan orang-orang yang kita kasihi, sehingga seharusnya kehadiran pribadinya yang lebih diinginkan daripada angpao-nya.

Pelajaran yang didapat: doa restu itu (sangat) mahal harganya dan karena itu seharusnya dihormati. Pikirkan 1000 kali, setelah dipikir 1000 kali pikirkan lagi beribu kali, apabila ada terlintas niat untuk bercerai ketika mendengar ucapan pasangan yang menyakiti hati atau baru saja bertengkar hebat dengan pasangan. Ingat ‘pengorbanan’ tamu yang sudah datang ke acara pernikahan untuk memberikan doa restu. Sanggup kalo disuruh bayar kembali apa yang sudah mereka berikan kemaren itu plus bunga-nya? :p

Well, ini hanyalah pemikiran dari aku yang masih single, jadi boleh kok diabaikan😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s