Trip Minang: Hari Ketiga

Standard

18 May 2012 Jam 7 pagi kami sudah ready untuk sarapan😀 Irma dan Aida bikin kopi dengan kopi sachet yang dibawa dari Jakarta. Menu hari ini nasi goreng dengan sambal ala kadarnya. Rasanya? Biasa aja. Tapi abis juga *porsinya dikit kali* Setelah itu, pose dulu yuk :p

Hari ini kami akan ke Lembah Harau di daerah Payakumbuh. Info yang kami dapatkan di Lembah Harau ini ada air terjun keren yang megang banget. Jam 8 pagi Bang Aldi siap mengantarkan kami ke sana.

Pemandangan sawah hijau, gunung dan langit biru menemani sepanjang perjalanan selama hampir 90 menit. Menyenangkan sekali. Apalagi bagi kami yang sudah jarang lihat sawah, hehehe.. Aida bahkan berniat harus punya foto di tengah sawah😀 Belum juga sampai ke Lembah Harau, kami sudah turun di satu spot untuk foto-foto. Aida pun menjadikan nyata keinginannya untuk foto di tengah sawah :p

Pemandangan menuju Lembah Harau

Kami pun akhirnya sampai di air terjun pertama. Akibat beberapa minggu terakhir tidak ada turun hujan, maka harapan melihat air terjun dengan debit air yang deras hilang sudah. Air terjun lembah Anai bahkan lebih deras daripada ini. Namun, tetap kok tempat ini keren. Kita bisa melihat gradiasi warna yang indah di dinding bukit batu tempat air terjun tercurah.

Di pinggir kolam yang terbentuk alami karena curahan air terjun itu, ada satu pohon yang tumbuh di atas tanah yang agak tinggi. Jadi kita harus sedikit memanjat tanah tersebut untuk mencapai pohon itu. Nah, pohon ini dipakai oleh Nopi, Aida dan Echi berlama-lama untuk foto. Aku akhirnya ikutan juga, walau sampai sekarang aku ga ngerti ngapain aku mau foto di situ, heheheh..

Puas foto-foto, kami pindah ke air terjun berikutnya. Airnya lebih banyak dan ‘kolam’nya lebih luas. Di sini juga ada permainan meniti jembatan tali dan flying fox. Sudah ada rombongan lain di tempat ini, dan beberapa pesertanya ada yang ikut permainan meniti jembatan. Kalo kami tetap foto-foto aja.

Gradasi warna

Nopi lagi ga enak badan, jadi dia duduk-duduk aja di pinggir kolam. Aku masuk kolam , jalan menuju ke air terjunnya.  Di belakang menyusul Aida dan Echi. Dekat dengan dengan air terjun itu ada kayu agak panjang yang kita bisa berdiri di atasnya, lumayan untuk jadi tempat pijakan kalo mau difoto😉 setelah aku turun dari kayu itu, Aida akhirnya yang berdiri di kayu itu. Entah bagaimana awalnya, Aida hilang keseimbangan badan, berteriak dan akhirnya kecebur. Echi yang lagi ‘bertugas’ untuk memfoto Aida malah bengong melihat Aida jatuh. Sukses deh Aida hari ini menjadi peserta satu-satunya yang basah kuyup, hehehe..

Jam 11 siang lebih dikit kami pun beranjak dari Air Terjun Lembah Harau ini. Sebenarnya masih ada satu lagi air terjun yang bisa didatangi. Namun kami memutuskan untuk tidak ke sana, karena toh debit airnya juga ga banyak. Saat melintasi jalan pulang, kami melewati Echo Homestay. Sebenarnya kemaren itu pengen nginap di homestay ini karena pemandangan dari kamarnya adalah lembah Harau. Cuma ya itu, telat booking, ga dapat kamar. Akhirnya kami mampir bentar untuk melihat-lihat dan menikmati Lembah Harau dari sisi yang berbeda.

Jam 12-an siang kami meninggalkan Lembah Harau dan kembali ke Bukit Tinggi. Perut sudah kelaparan minta diisi.

Menjelang jam 2 siang kami sampai di Nasi Kapau Uni Lis di Pasar Atas. Dari berpuluh pedagang Nasi Kapau yang ada di tempat ini, lapak Uni Lis yang paling rame. Jam makan siang sudah lewat, tapi tetap saja kami harus antri untuk mendapatkan tempat duduk. Aku pilih menu ikan gulai. Penampakannya sih lezat, tapi ketika dicecap lidah, kok biasa aja ya? Menurut Echi, biasanya ikan di Bukit Tinggi itu kurang segar karena susah didapat. Potongan nangka yang ada dalam gulai sayur juga alot saat digigit. Kayaknya nangkanya udah ketuaan untuk dijadikan sayur. Aku ga ingat teman-teman lain pada makan pake lauk apa, tapi sepertinya Cuma aku yang makan ikan, hehehe.. Harga  yang harus kami bayar untuk makan berenam plus minum es jeruk adalah sebesar Rp140.000,-.

Nasi Kapau dengan Gulai Ikan

Perut kenyang kami pun segera beranjak untuk member tempat bagi tamu lain yang masih terus berdatangan. Kami segera menuju Lobang Jepang (ada juga yang menyebutnya Goa Jepang) yang dekat dengan Jam Gadang. Untuk masuk ke Lobang Jepang ini, ada 2 jenis tiket masuk. Yang pertama tiket masuk ke taman seharga Rp3.000/orang, dan tiket masuk ke Lobang Jepang seharga Rp5.000/orang. Di bawah taman itu terletak Lobang Jepang. Dari taman kita bisa melihat Ngarai Sianok yang juga terkenal itu.

Untuk masuk ke Lobang Jepang sebaiknya kita menggunakan jasa pemandu apalagi bagi pengunjung yang baru pertama kali datang ke tempat ini. Mengapa? Biar kita bisa mendapatkan informasi sejarah Lobang Jepang ini , menanyakan hal-hal yang ingin diketahui dan merasakan feel-nya. Detail historis-nya silahkan lihat di sini aja ya..

Tidak terasa hampir 1 jam kami habiskan waktu di Lobang Jepang, melihat berbagai ‘ruang’ yang ada sambil mendengar cerita si Pemandu. Agak-agak seram juga. Di dalam terasa ada angin, padahal dekat situ ga ada lubang jendela atau pintu. Kata pemandunyal bila kita lihat pegang dinding gua, itu seperti tanah yang rapuh. Namun, tanah itu bila ditiup angin malah semakin keras sehingga dinding itu menjadi kuat. Keren ya?

18 Mei 2012 Lobang Jepang

Selesai tur di dalam Lobang Jepang, kami melanjutkan perjalanan ke Ngarai Sianok yang cuma sepuluhan menit naik mobil dari Lobang Jepang. Teman-teman sudah pada capek dan sebenarnya pengen skip ke dasar Ngarai Sianok ini. Tapi aku pengen banget. Sayang saja kalo dilewati, dah dekat ini, hehehe.. akhirnya mereka pun menemani aku ke dasar Ngarai. Hanya ada sungai kecil yang tidak dalam sama sekali. Foto-foto ala kadarnya, kami pun berlalu dari Ngarai Sianok.

Pukul 4 sore kawasan sekitar Jam Gadang masih rame. Kami minta Bang Aldi untuk drop kami di Pasar Atas dan ntar kami akan pulang jalan kaki ke hotel. Sudah saatnya berburu oleh-oleh dan souvenir:D Aku tetap mencari tempelan kulkas dari karet itu. Tetap ga nemu gambar yang ok. Eh, malah nemu yang lebih bagus. Bukan dari karet tapi dari kayu, di tengahnya terbuat dari perak. Proses tawar menawarnya yang justru seperti karet, hehehe…  Uda penjualnya mungkin sampe bingung kali  nih cewek-cewek kok pada pelit banget nawarnya. Aku cuma beli dua, Aida beli lebih banyak dari aku. Echi mborong sandal titipan nyokap. Nopi beli baju untuk ponakannya.

Selesai dari beli souvenir, kami ke warung yang agak ke dalam mencari kerupuk kulit.  Aku beli 1/4 kg kerupuk kulit titipan teman. Yang lain juga beli beberapa jenis kerupuk atau makanan ringan lainnya untuk oleh-oleh. Pas lagi asik milih dan nyicip-nyicip, hujan turun dengan sangat derasnya. Aku langsung ngucap dalam hati ‘wah, seandainya hujan derasnya terjadi semalam, pasti air terjun Lembah Harau yang kami lihat tadi pagi lebih bagus lagi’.

waktu hujan sore-sore

Sambil menunggu hujan kami pun blasak blusuk ke dalam pasar dan nemu warung untuk bisa minum ataupun makan sesuatu yang ringan. Kami pesan satu porsi gado-gado. Rasanya aneh, walaupun begitu tetap kami habiskan juga, hehehe..

Ketika hujan tinggal rintik-rintik, kami pun cepat-cepat berjalan ke hotel. Aku mendapati ada pesan di fesbuk dari Ria, teman satu rumah di Bekasi dulu. Dia juga lagi liburan di Bukittinggi. Oalaaa… 😀 Ria akhirnya memutuskan untuk datang ke Hotel Yuriko karena dia lagi berada di sekitar Jam Gadang bersama dengan seorang teman tripnya. Pas ketemu dan ngobrol, kita ketawa-ketawa dengan fakta ini,  susah ketemuan di Jakarta malah ketemu di Bukit Tinggi. Sayang kami tidak bisa lama ngobrol karena Ria juga harus segera balik ke hotel, sementara aku dan teman-teman juga masih harus keluar  hotel untuk makan malam dan beli oleh-oleh lagi, hehehe..

Selesai mandi dan beres-beres, jam 19.30 wib kami pun meluncur ke Toko Nitta, pusat oleh-oleh di Bukit Tinggi. Di sini tersedia sampel berbagai ragam makanan ringan yang dijual. Aku icip-icip sajalah, ngga beli apa-apa. Ntar pas di Padang aja beli oleh-oleh snack ini.  Di belakang toko ini ada bangunan besar yang digunakan untuk memproduksi sebagian besar barang yang dijual. Misal keripik sanjay yang menurut aku rasanya enak. Aku jadi ingat, dulu saat masih kecil (SD) kalo Bapak ngajak jalan-jalan ke Medan Plaza, keripik sanjay adalah adalah salah satu jenis makanan ringan yang selalu kami beli selain buku cerita🙂 Nopi, Aida dan Echi Irma sukses belanja dan menghasilkan kardus, heheh…

Selesai belanja di Nitta kami pun makan malam dan mencari capcay.. Harus makan sayuran mengingat kurangnya asupan sayur yang kami konsumsi sejak tiba di Tanah Minang. Kami berhasil menemukan satu rumah makan yang menjual Chinese food. Rasanya senang banget bisa makan sayur malam itu, he he he..

Kenyang makan malam, kami beranjak ke warung tenda yang kami datangi semalam. Yup, kami mau minum yang panas-panas lagi. Ibu penjualnya masih mengenali kita :)  Irma tetap minum sekoteng, Aida minum bansus (bandrek susu) dan aku pesan bansus telur. Echi minta sedikittt bansus Aida dan Nopi nyicip sedikiiittt bansus telur. Enak deh bansus telurnya. Walau pake telur ayam kampung, tidak ada amis baik di aroma maupun rasanya. Mantap!

Selesai minum-minum, kita pun kembali ke hotel. Mari beristirahat…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s