Trip Tanah Minang: Hari Kedua

Standard

17 May 2012. Selesai briefing dengan Bang Junaidi, kami singgah dulu ke rumah Bang Aldi untuk ambil pakaian ganti. Bang Aldi ga tahu sebelumnya kalo kami akan menginap dua malam di Bukit Tinggi. Setelah itu kami masih mampir dulu di Yossy Supermarket, beli beragam minuman dan snack untuk menemani perjalanan kami ke Bukit Tinggi.

Jam 10.30 kami tiba di destinasi pertama hari ini yaitu Lembah Anai, dengan air terjun yang menjadi objek utamanya. Yang unik adalah lokasinya. Terletak di pinggir jalan menuju Bukit Tinggi, sehingga tempat ini bisa dinikmati dari dalam mobil tanpa harus turun. Harga tiket masuk ke air terjun ini Rp3.000/orang. Belum terlalu banyak orang saat itu, sehingga kami masih bisa dengan sedikit bebas menguasai tempat itu untuk foto-foto.

Puas foto-foto kami pun melanjutkan perjalanan. Tak jauh dari lembah Anai tersebut, di sisi seberangnya ternyata ada beberapa kolam kecil alami, seperti sungai, untuk tempat main air anak-anak kecil. Salah satu pilihan rekreasi keluarga yang cukup murah namun menyenangkan.

Saatnya makan siang. Kuliner pertama kami di trip ini: Sate Mak Syukur. Rumah makan ini sudah sangat terkenal di pecinta kuliner Padang. Saat kita duduk, pelayan langsung bilang untuk jeroan sudah habis, padahal baru jam 11.30 siang. Untung aku bukan pecinta jeroan, jadi informasi itu tidak ada efek bagiku. Harga satu porsi sate adalah Rp16.000,- dengan isi 7 tusuk sate dan banyak potongan lontong. Potongan daging sate-nya cukup besar dan tetap empuk saat dikunyah. Penampakan sate ini cukup lezat dan yesss..rasanya emang lezat. Aku sih bukan pecinta sate, namun menurut Irma, sate Mak Syukur di Kelapa Gading yang pernah dia icip, lebih enak dari ini. Loh?🙂

Perut kenyang, kami pun melanjutkan perjalanan. Baru sebentar jalan, kita berhenti di rumah makan Aei Badrun. Bukan untuk makan lagi, tapi untuk Nopi dan Echi yang mau numpang sholat dulu. Rumah makan ini juga sangat terkenal kelezatannya, terbukti dengan susahnya kami mendapat parkir, apalagi pas jam makan siang. Rumah makan ini menyediakan bubur kampiun yang jarang tersedia di rumah makan lainnya. Sayang sekali kami masih kenyang dengan sate Mak Syukur, jadi kami tidak mencoba untuk nyicip bubur kampiun itu.

Destinasi berikutnya adalah Danau Maninjau. Bang Aldi dan Echi cerita jalan menuju sana berkelok-kelok. Kata mereka akan ada 44 kelokan yang harus dilalui, dikenal dengan nama Kelok 44. Nopi langsung minum antimo dan pejam mata, hehehe.. Perjalanan ke sana cukup lama (sekitar 2 jam) tapi tidak seseram yang aku bayangkan. Beda tipis lah dengan kondisi jalanan ke Brastagi.

Hampir jam 14.30 kami tiba di kelok 44. Baiklah, aku salah sangka. Aku pikir dari tadi kami muter-muter itu yang dihitung 44 kelok. Ternyata 44 kelok itu dimulai tempat kami berhenti untuk melihat Danau Maninjau dari atas dan tentu saja foto-foto. Pemandangan alam yang cantik sekali. Praise You Lord.

Setelah cukup puas berpose dengan berbagai gaya, kami pun mulai ‘petualangan’ kelok 44 ini. Suer, ga boong, ini mah ga ada apa-apanya, hahahah.. Ga nyampe 30 menit kami sudah nyampe di kelok 1. Berada di tempat ini mengingatkan aku pada desa Tuk Tuk di Tano Batak, mirip banget. Hotel dan rumah penduduk berada di tepi Danau. Cuma, di Tuk Tuk terasa lebih rame saja.

Kami singgah di sebuah café kecil untuk menghilangkan penat sejenak dan memuaskan dahaga. Sambil menunggu pesanan datang, ya kami foto-foto lagi lah dengan Danau Maninjau sebagai latar belakang😀 Benar kata Bang Aldi, Danau Maninjau lebih cantik dilihat dari atas. Kalo sudah di tepi nya, ya biasa saja terlihat. Menu yang kami pesan standar rasa enaknya, harganya juga standar. Gado-gado yang dipesan Bang Aldi isinya timun semua, hahahah..

Hampir jam 4 sore ketika kami meninggalkan Danau Maninjau. Perjalanan menanjak kembali ke Kelok 44 terasa  lebih berat dibanding pada saat turun. Tujuan kami berikutnya adalah Hotel Yuriko, penginapan kami untuk dua malam ini. Menurut Echi yang pesan hotel ini, dia harus sering-sering telepon ke Yuriko untuk memastikan bahwa kami jadi menginap di hotel ini, soale banyak yang mau check in karena kehabisan kamar di hotel lain. Kami pikir tidak akan sulit mendapatkan hotel di Bukit Tinggi secara banyak hotel di Bukit Tinggi. Itu sebabnya baru H-7 kami mencari dengan serius penginapan selama trip ini. Kami harus menerima kenyataan semua recommended low-budget hotel sudah fully booked. Kami tahu minggu ini adalah long weekend, tapi kami naïf merasa akan gampang saja mendapatkan hotel. So wrong!

Jam 5 sore lebih dikit kami check-in di Hotel Yuriko. Tarif-nya Rp270.000/malam, extra bed Rp72.000. Kamarnya lebih kecil dibanding kamar di Hotel Padang. Ga pake AC karena Bukit Tinggi itu terkenal dingin. Extra bed–nya tanpa tempat tidur. Pintu kamar kami tidak bisa tertutup kalo ngga dikunci, padahal posisi kamar kami di depan ruang tamu yang selalu dilalui orang. Hot water-nya sekali-kali saja dapat karena kata pegawainya rebutan dengan tamu yang lainnya. Bantal yang aku dapat bau apek, akhirnya aku balut dengan handuk ekstra yang kami dapat dari hotel. Flush toilet di kamar Nopi dan Echi tidak berfungsi😦 Sayangnya kami tidak punya pilihan hotel lain. Kami juga langsung membayar untuk 2 malam. Malas rasanya harus survey lagi ke beberapa hotel lain kalau mau pindah hotel untuk besok malam, mengingat jadwal kami yang padat. Tapi entah kenapa, aku lebih suka kamar ini dibanding semalam, tapi tidak bagi peserta lainnya *selera yang aneh*.

Jam 7 malam kami siap-siap untuk berkeliling dengan jalan kaki. Bang Aldi dan mobil diistirahatkan dulu untuk memulihkan tenaga. Cuma jalan santai 10 menit, nyampe deh di Jam Gadang yang termasyhur itu. Udara malam di Bukit Tinggi cukup dingin, tapi ga pake jaket juga tidak apa-apa sih. Pengunjung masih rame. Beberapa kali terdengar pengumuman untuk siswa SD 123 agar segera kembali ke bus. Waa.. ternyata long weekend dimanfaatkan untuk study tour. Cerdas! Jadi ingat, kesempatan pertama-ku untuk maen ke Padang itu pas SMA kelas 2, kalo ga salah, dalam bentuk study tour. Namun apa daya aku ga bisa ikut karena terkendala di biaya *curcol.com*.

Jam Gadang di kala malam

Kami berfoto ala kadarnya dengan Jam Gadang sebagai objek utama dan seringnya jadi objek penderita😀 Setelah itu kami masuk ke rumah makan yang cukup besar tak jauh dari Jam Gadang. Ragam lauk-nya tinggal sedikit. Nasi yang kami dapat juga sudah agak dingin. Aku pilih rendang sebagai lauk. Sayuran yang disediakan cuma lalapan berupa daun selada, tomat dan timun. Kami minta tambah lalapan sampai 2x :p Rasa masakannya sih biasa aja ya, bagi aku ga ada bedanya dengan rumah makan padang dekat kantor. Menurut Aida dan Irma, rasa tomat di Padang ini beda. Lebih segar dan manis.

Selesai makan, kami lanjut keliling ke Pasar Atas. Tempat ini dipenuhi pedagang yang sebagian besar menjual souvenir. Ada gantungan kunci, kaos, tempelan kulkas, sandal dan lain-lain, layaknya tempat wisata pada umumnya. Aku naksir tempelan kulkas yang terbuat dari karet/melamine, tapi karena harganya ga cocok, ya ga jadi beli. Ternyata di penjual lain ga ada yang jual tempelan kulkas seperti itu. Ah..aku hunting besok malam lagi deh.

Puas liat-liat souvenir *dan tidak ada membeli souvenir apapun* kami pun mengarah pulang ke hotel. Aroma pisang gapit *aku nyebutnya pisang kejepit* membuat kami mampir sebentar ingin  membeli. Saat diberitahu harganya Rp4.000/buah dan ga bisa ditawar, kami terpaksa balik badan. Maaf deh Uni, terlalu mahal bagi dompet kami harga segitu untuk pisang gapit sekecil itu, hahaha.. Sayangnya kami ga menemukan penjual pisang gapit yang lain untuk membandingkan harga.

Ketika tiba di depan hotel, kok ya rasanya sayang langsung masuk kamar karena belum juga jam 9 malam. Diputuskan untuk lanjut jalan kaki ke sisi yang berlawanan dari arah Jam Gadang. Jalanan masih rame. Kita mencoba untuk mencari tempat untuk ngopi-ngopi, nemunya malah warung yang jual batagor Bandung, heheh..

Akhirnya kami masuk ke salah satu warung tenda pinggir jalan. Bayangkan: lima wanita muda, dengan aksen Jakarta *pretttt* masuk warung tenda dan pesan bandrek susu, hahaha.. Eh, Irma pesan sekoteng dink, Echi cuma mau icip-icip bandrek susu 1/10 gelas aja, Nopi nyium-nyium aromanya aja, hihihi.. *soale sebelumnya Nopi dah beli blended beverage di Pizza Hut dekat Jam Gadang*.

Bandrek susunya enak, lebih pedas dari bandrek susu yang sering aku minum kalo lagi mudik ke Medan. Aida juga suka, bahkan ngajak besok malam untuk minum bandrek susu lagi. Satu gelas bandrek susu yang nikmat itu cuma Rp.6000,-. Harga yang sama juga berlaku untuk sekotengnya.

Kembali jalan kaki ke hotel, bersih-bersih, dan akhirnya tidur deh..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s