Kesulitan

Standard

Memasuki tahun baru, K2 memilih buku berjudul ‘Saat Segalanya Semakin Sulit’ sebagai bahan PA pertama di tahun 2012. Lihat judulnya saja sudah berat banget rasanya, hehehe…  Namun, sekali lagi aku mengalami bahwa tidak ada yang namanya kebetulan. Tulisan dalam buku ini berikut diskusi dengan teman-teman K2 ternyata sangat praktikal dalam kehidupan sehari-hariku dan tentu saja turut menolong aku ketika harus berhadapan dengan kesulitan.

Sampai dengan akhir Februari, kami sudah membahas 3 bab dari 5 bab yang ada. Tiga bab pertama menjelaskan ragam pencobaan dalam kehidupan. Pengertian pencobaan dalam buku  ini adalah kesulitan. Secara garis besar ada 7 macam pencobaan. Rangkumannya sebagai berikut (beberapa hal merupakan pemahaman dari aku):

1. Pencobaan di Dunia dan sebagai Manusia –>Kesulitan dan manusia itu satu paket. Jangan mengaku diri Anda manusia kalo tidak pernah mengalami kesulitan. Kita hidup dalam dunia yang telah dijajah dosa. Jadi ketika kesulitan datang kita bisa bilang ‘namanya juga manusia’🙂

2. Pencobaan berupa Godaan –> Kisah Yesus dicobai Iblis menjadi contoh yang pas untuk jenis kesulitan ini. Keinginan mata, keinginan daging dan keangkuhan hidup menjadi titik lemah manusia yang rawan godaan. Siapa yang tidak ingin punya harta banyak dan kekuasaan besar di dunia ini?

3. Pencobaan Karena Mengikut Kristus –> tetap setia pada Kristus dan nilai-nilai pengajaranNya di tengah dunia sudah pasti akan membawa kita ke dalam pencobaan. Diejek, dijauhi, dipandang iba, direndahkan, diperlakukan tidak adil adalah ‘resiko’ yang harus kita terima karena memegang nilai-nilai yang berbeda dengan nilai dunia ini.

4. Pencobaan Berupa Hajaran –> Hukuman berbeda dengan hajaran. Hukuman adalah demi keadilan sedangkan hajaran adalah untuk meluruskan jalan. Tuhan tidak pernah menggunakan kesulitan dalam hidup umat percaya sebagai hukuman. Dosa sudah dihukum di kayu salib. Cerita Yunus dipakai untuk menggambarkan bagaimana cara Allah menghajar Yunus yang menolak pergi ke Niniwe. Allah mengirimkan badai, mengutus nahkoda kapal yang tidak mengenal Tuhan untuk membangunkan Yunus, membuat Yunus mendapatkan undi, dan puncaknya Yunus nginap 3 hari dalam perut ikan. Yunus yang harus dihajar berkali-kali karena keras kepala, pada akhirnya menyerah kepada Allah.

Apabila TUHAN menghajar engkau, anakku, terimalah itu sebagai suatu peringatan, dan jangan hatimu kesal terhadap didikan-Nya itu. TUHAN menghajar orang yang dicintai-Nya, sama seperti seorang ayah menghajar anak yang disayanginya. (Amsal 3:11-12, BIS)

5. Pencobaan Sebagai Akibat Dosa –> ini adalah prinsip tabur tuai. Dosa selalu membawa akibat bagi pelakunya tanpa terkecuali.  Bahkan setelah dosa itu telah lama diampuni, akibatnya masih tetap berlangsung. Contohnya Paulus yang menyebut dirinya sebagai orang paling berdosa karena di masa lalu dia membunuh orang Kristen.

6. Pencobaan Untuk Pembuktian –> Allah mengijinkan kesulitan menimpa kita untuk melihat apakah kita tetap mengasihi Dia sama seperti saat kita dalam masa kesukaan.  Kisah Abraham yang diminta Allah untuk mengorban Ishak, anak satu-satunya, adalah salah satu contoh pencobaan untuk pembuktian. Abraham berhasil membuktikan kepada Allah bahwa dia lebih mencintai Sang Pemberi daripada pemberian itu sendiri. Bagaimana dengan kita?

7. Pencobaan Karena Harapan yang Kandas –> kita merasa sedih dan susah apabila yang kita harapkan tidak tercapai. Kita bersedih karena sudah berusaha dengan seoptimal mungkin. Jangan berlama-lama bersedih dalam fase ini. Segera bangkit. Ingat kembali tujuan hidup kita yang utama, yaitu nama Tuhan dimuliakan.

 –//–

27 Mar 2012 Jam 21.30 aku dan Irma menuju halte Transjakarta a.k.a busway. Kami baru saja nonton ‘The Ides of  March’ dengan 3 orang teman kantor. Aku bilang ke Irma kalo aku mau bareng dia aja naik busway ke Harmoni. Kami melihat cukup banyak orang yang antri untuk tujuan ke Harmoni, sementara ke arah sebaliknya hanya ada dua orang yang antri. Aku tidak melihat ada busway ke arah Harmoni yang akan tiba, sementara dari arah berlawanan muncul satu busway. Aku berpikir dan berhitung cepat. Kalo aku naik busway ke arah Blok M, turun di halte transit dan setelah itu lanjut ke  tujuan akhir, pasti akan lebih cepat sampai rumah daripada lama nunggu busway yang ke Harmoni dan antri lagi di Harmoni.  Busway ke Blok M tiba di halte dan buru-buru aku bilang ke Irma kalo aku sebaiknya naik busway ke arah Blok M.  Irma bilang ok dan aku pun masuk busway dari pintu belakang.

Pintu busway ditutup cepat dan setelah busway jalan aku baru sadar kalo busway yang aku tumpangi itu adalah busway express yang tujuannya bukan ke Blok M.  Aduuhhh.. Dalam hati aku berharap busway ini tetap berhenti di halte transit.

Harapanku tidak menjadi kenyataan😦

Aku akhirnya menghabiskan waktu kurang lebih 30 menit untuk bisa kembali ke halte transit yang seharusnya. Sebenarnya aku bisa turun lebih cepat di beberapa halte sebelumnya, tapi aku memilih untuk turun di halte yang cukup besar demi alasan keamanan. Walaupun seharusnya aku tidak perlu takut untuk nunggu di halte kecil. Entahlah, aku percaya mengikuti kata hatiku.

Nahhh.. 3 bab bahan PA yang sudah K2 bahas di atas itu membantu aku lebih baik dalam merespon situasi sulit yang aku alami :D  Alih-alih tiba sampai lebih cepat, aku malah lebih lama tiba di rumah. Tapi, aku tidak menggerutu😉 Aku  justru menikmati perjalanan ekstra itu dan ini yang aku dapatkan:

Aku tidak sabar untuk antri karena melihat banyaknya orang, jadi aku langsung ambil option lain yang sepertinya lebih menggiurkan. Aku salah. Hitungan logikaku tidak terjadi. Mungkin kesulitan ini cara Tuhan menghajar aku ke jalan yang benar. Jangan mengandalkan pemikiranmu sendiri!

Aku memperhatikan kondektur wanita dalam busway dan merasa kagum. Malam sudah lewat dari jam 10 tapi dia masih semangat. Walau penumpang cuma sedikit, banyak kursi yang kosong, dia tetap tidak boleh duduk. Aku jadi malu. Tugas sebagai kondektur busway  (baik pria atau wanita) mengharuskan dia berdiri berjam-jam tanpa jeda ditambah menghadapi penumpang yang tidak bisa diatur. Aku berdiri 1 jam aja sudah misuh-misuh.

Aku berpikir malam itu, Tuhan pasti ada maksud sampai mematahkan pemikiranku yang sangat logis. Bisa jadi itu cara Tuhan meluputkan aku dari bahaya. Mungkin saja. Aku belajar bahwa kesulitan yang aku alami pasti membawa manfaat bagiku. Termasuk kesulitan malam itu yang membuka  mataku untuk lebih  menghargai profesi seorang kondektur busway.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s