Pemalu

Standard

Bisakah melalui hari tanpa hape di tangan? Eh, ternyata bisa tuh. Sebenarnya sih memaksakan diri untuk bisa. Hari ini hape kesayangan tertinggal di rumah. Baru tersadar ketika sudah nyampe di kantor. Kalo tidak ingat jam 1 siang ada meeting, mungkin aku sudah balik ke kost saat jam makan siang dan mencuri waktu istirahat lebih panjang dari yang seharusnya. Terpaksa deh bikin status ‘hape ketinggalan’ di YM dan fesbuk. Berharap menjadi info bagi mereka yang ingin menghubungi aku hari ini.

Sudah jam 6 sore. Bergegas aku membereskan meja. Seharusnya malam ini aku nonton dengan Firman. Film One Day. Katanya film romantis. Tapi karena insiden hape ketinggalan, terpaksa acara nonton dibatalkan karena Firman akan susah menghubungi aku saat lagi dalam perjalanan. Gimana kalo macet, gimana kalo salah satu dari kami ada yang terlambat. Ah sudahlah, sebaiknya rencana nontonnya ditunda. Sampai besok😀

Firman. Dia sahabat dekatku.  Sosok pria yang bisa menghangatkan hatiku dengan senyumnya. Kami sudah saling kenal dari kecil. Ya… kami dulu satu TK, waktu aku masih tinggal di Sabang.  Kelas 3 SD aku harus pindah karena papa-ku pindah dinas ke Medan. Kami pun terpisahkan secara raga. Untungnya kami berdua suka menulis, jadilah kami sahabat pena.

Tulisan Firman lebih bagus dari tulisanku. Tapi aku ga minder. ‘Cuma tulisan tangan ini aja, yang penting bisa dibaca’. Itu ucapku kala Firman menggoda bentuk tulisanku yang biasa. Sampai dengan SMP kami masih rajin berkirim surat. Kami menceritakan apa saja. Termasuk cerita cinta pertamaku yang aku jumpai di kelas 6 SD. Hahaha..semuda itu aku sudah mengklaim jatuh cinta.

Seiring waktu berlalu, entah dimulai kapan dan entah apa sebabnya, komunikasi kami berkurang, surat-surat mulai jarang datang. Masuk SMA, aku sudah mulai aktif di kegiatan mading sekolah untuk menyalurkan hobi menulisku. Waktuku mulai tersita habis. Membalas surat Firman jadi urutan di nomor ke sekian. Hingga pada satu hari aku menyadari aku ga tahu apa kegiatan Firman sehari-hari. Hari di mana aku menerima suratku kembali dengan keterangan alamat yang dituju sudah pindah. Sejak saat itu aku benar-benar hilang kontak.

Jadi, betapa surprise-nya aku, ketika berkunjung ke panti asuhan di Cipinang satu tahun yang lalu, aku bertemu dengannya. Tepatnya Firman yang menemukan aku. Dia sebutkan namaku dengan nada bertanya. Aku sempat bingung tidak mengenalinya. Namun ketika aku melihat senyumnya yang mengembang, aku tak dapat menahan suara teriakku. Firman?? Firman?? Tanyaku ga percaya. Kami berdua tidak perduli dengan senyum ataupun tatap bingung teman kami yang melihat kami melompat-lompat kegirangan.

Sejak pertemuan itu, kami mulai lagi intense berhubungan. Tiada hari yang dilalui tanpa saling berkirim kabar. Banyak cerita yang harus diupdate. Banyak berita yang ingin disampaikan. Dengan hobi kami yang sama-sama suka nonton film apa aja (selama diputar di bioskop) kami selalu punya alasan untuk bertemu. Hari-hariku semakin berwarna.

Dalam taksi saat menuju kost, aku tersenyum mengingat Firman. Biasanya aku chat dengan Firman untuk mengisi waktu. Tapi karena hari hape lagi tak di tangan, terpaksa deh aku mengisi waktu dengan mengingat-ingat cerita kami di masa lalu. Dan tersenyum!

Aku dan Firman tidak pacaran walau banyak temanku dan temannya yang meragukan kebenaran ini. Mereka terus mendorong kami untuk jujur dengan perasaan kami. Entahlah, kami lebih nyaman dengan keadaan ini. Friends with benefit, hehehe..

Taksi berhenti di depan kost. Ada mobil berwarna silver yang aku kenal betul siapa pemiliknya. Firman. Ngapain dia di sini?

Di ruang tamu, Firman sedang duduk ngobrol dengan Ibu kost. Akrab seperti biasanya. Firman sudah beberapa kali main ke kost dan suka juga ngobrol dengan ibu. Ibu tersenyum padaku, bilang Firman sudah nunggu dari satu jam yang lalu. Lalu Ibu pun meninggalkan kami. Dengan ekor mata, aku melirik Firman yang senyum-senyum tak jelas.

‘Mal..sorry aku ga bilang tadi di YM kalo mau datang ke sini malam ini. Sebenarnya bisa sih nunggu besok, cuma kayaknya kalo besok aku takut sudah terlambat’ ucap Firman setelah aku duduk di sampingnya.

‘eh..ada apa? Kamu divonis mati besok?’ tanyaku bercanda.

‘hmm.. ga divonis mati sih, cuma aku takut aja ntar malam mati sebelum sempat mengatakan hal penting ini padamu’ Firman menjawab dengan serius

 ‘ga bisa disampaikan di surat wasiat aja?’ tanyaku kembali bercanda.

Duh kenapa aku jadi kacau begini menjawab Firman. Kenapa juga si Firman tiba-tiba serius begini. Hatiku ketar ketir. Firman memandang tepat ke mataku. Tapi tidak terdengar lagi suaranya. Dia seperti mencari detik yang tepat. Ruangan terasa hening. Sepertinya dia bisa mendengar degup jantungku.

‘Mal.. aku suka samamu, sayang sama kamu. Tiga bulan dari sejak kita bertemu kembali setahun yang lalu, aku sebenarnya dah ingin menyatakan perasaaan padamu. Tapi, aku takut kalo kamu menolak, hubungan pertemanan kita jadi renggang dan aku kehilangan kamu. Jadi aku menunggu dan menunggu, mencoba mencari sinyal apakah kamu juga punya perasaan lebih dari sekedar teman baik terhadapku.’

‘Apakah akhirnya kau menemukan sinyal itu ada padaku?’ tanyaku pelan. Jantungku masih berdetak kencang. Deuh.. aku jadi pengen ke toilet.

‘Aku merasakannya. Aku ingat kamu pernah bilang kamu tidak akan menganggap ada hubungan khusus selama belum ada pernyataan secara verbal. Jadi malam ini aku ambil resiko untuk kehilanganmu bila ternyata kamu menolak cintaku. Aku tidak mau kelak menyesal karena tidak pernah bilang perasaanku padamu. Aku mencintaimu Mal. Dari dulu. Mau kan jadi kekasihku?’

Aku menatapnya, mencari kesungguhan di matanya. Aku menemukannya. Senyumku perlahan mengembang. Kepalaku mengangguk. Firman tersenyum lebar. Terlihat lega.

‘Mal.. sadar ga kalo hari ini pas satu tahun sejak kita bertemu? Seminggu sesudahnya kamu cerita kalo kamu punya keyakinan, somehow, pasanganmu kelak adalah seseorang yang sudah pernah kamu kenal sebelumnya di masa lalu, bukan laki-laki yang baru saja dikenal. So ini aku si pemalu itu.’

‘Pemalu?’ tanyaku bingung..

‘Iya… pemuda dari masa lalu’ jawab Firman sambil tergelak.

Aku harus mengakhiri keromantisan ini sesaat. Aku harus ke toilet. Lalu ke kamar mengambil BB dan update status.

Malika is in relationship with Firman just now😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s