Beruntung dengan TJ

Standard

Setiap hari, pergi kerja dan pulang kerja dengan Transjakarta (TJ) adalah perjuangan bagiku. Bagaimana tidak? Selalu ada ‘resiko’ berdiri di TJ selama 1.5 jam – 2 jam, kalo beruntung cukup 1 jam saja. Jadi, hanya orang-orang dengan stamina yang baik yang layak untuk naik TJ ini🙂

Naik TJ juga bicara tentang keberuntungan. Biasanya kondisi TJ cukup penuh, tidak ada kursi kosong yang tersisa. Tetap aku naik, berdiri di depan salah satu penumpang yang duduk. Kalo beruntung, penumpang yang duduk di depan aku ternyata turun di satu atau dua halte berikutnya, sehingga aku tidak terlalu lama berdiri. Atau, ada penumpang pria yang cukup gentle menyerahkan kursinya ketika melihat ada perempuan yang berdiri. Cuma yang terakhir ini semakin susah ditemui di TJ. Yang ada malah pria-pria yang masih muda tetap duduk di kursi dan sibuk dengan gadget-nya (atau tidur sekalian), sementara di depannya berdiri pria yang sudah tua ataupun perempuan paruh baya. Miris ya..? Kalo yang berdiri perempuan masih muda *seperti saya* sih gapapa ya…😀

Keberuntungan yang paling wahid (namun sangat jarang terjadi) adalah TJ yang tiba di hadapan dengan keadaan kosong. Ini serasa bertemu oase di padang gurun.. *ini perumpamaan asal comot karena aku belum pernah berada di padang gurun*

kendaraan penyerobot jalur TJ

Naik TJ itu seharusnya bisa menjadi ‘jaminan’ sampai tempat tujuan dengan lebih cepat, karena TJ diberi jalur khusus. Namun, jangan pernah berharap pada manusia, apalagi pada TJ, karena yang ada hanyalah kekecewaan. Jalur khusus TJ sering diserobot oleh pengendara lain yang tidak sabar dengan macet-nya jalanan. Baik kendaraan roda dua maupun roda empat. Tahu ga sih penyerobot itu bahwa ulah mereka membuat puluhan orang yang berada dalam TJ jadi harus ekstra berdiri sekitar 30 menit lagi dengan kondisi sesak berhimpitan. Ga tau deh berapa banyak dosa yang timbul dalam pikiran dan hati setiap harinya karena merutuki para penyerobot itu😦

Dengan kondisi TJ di atas, tetap aku bersyukur pada Tuhan.

Thanks Dear Lord untuk kesehatan dan stamina baik yang masih dianugrahkan bagiku hingga hari ini. Aku masih bisa naik TJ tanpa harus pingsan ataupun menjadi lemas kekurangan oksigen. Dengan caraMu yang ajaib dan misterius, bila Engkau berkenan, aku yakin Kau bisa menyediakan tempat tinggal bagiku di lokasi sebelah kantor. Amin.

One response »

  1. Saya, Lilo, dan Dwi pernah beberapa kali naik TJ atau panggilan populernya, “busway”. Sebenarnya kalau pemerintah serius, busway ini bisa menjadi cara yang menarik untuk menjadikan pemerintah populer di mata masyarakat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s