Trip Akhir Tahun 2011 – Bangkok (2)

Standard

30 Des 2011 jam 6 pagi telepon di kamar berdering. Morning call. Tante Ayun ternyata sudah bangun dari sebelum jam 6 pagi dan langsung mandi *malu*. Kayaknya semua hotel selama  trip ini tidak ada yang menyediakan sandal di kamar. Jam 7 lewat 30 menit kami pun turun untuk sarapan di resto hotel yang ada di lantai dasar. Kami langsung check out, karena malam ini kami akan menginap di Pattaya. Sebagian besar peserta menitipkan tas dan barang-barang yang ga perlu di bawa ke Pattaya ke penitipan barang hotel. Aku tetap bawa tas ke Pattaya, karena aku cuma bawa satu travel bag🙂

Sarapan ala buffet. Selama di Bangkok selalu ada sosis babi di menu sarapanku. Rasanya enak banget, hehheeh… mumpung lagi di Bangkok hajaaarrr bleehhh… karena kalo di Jakarta sosis babi mahal dan tidak di sembarang tempat ada yang menjual. Untuk menu yang halal ada juga, disajikan di meja terpisah, tapi sepertinya hanya 2-3 jenis masakan aja. Kalo mau aman ya makan roti deh.. oh ya, di resto hotel ini, guava juice itu warnanya hijau😀

Reclining Buddha

Jam 9 kurang, semua peserta sudah ada di dalam bis, siap untuk memulai trip hari itu. Tujuan pertama adalah Reclining Budha Temple, yaitu sebuah lokasi yang di dalamnya terdapat beberapa bangunan. Di salah satu bangunan terdapat patung Buddha yang sangat besar dengan posisi berbaring menghadap samping. Patung ini terbuat dari kuningan. Kita harus melepaskan alas kaki kalau ingin masuk ke tempat ini. Di ruangan yang sama, ada satu ‘alat’ untuk menguji apakah pengunjung sudah cukup berbuat amal atau malah kurang. Pengunjung yang mau coba ikut ‘ujian’ ini harus membayar sejumlah baht tertentu (lupa jumlah pastinya karena aku ga ikutan, tapi yang pasti ga mahal kok…) untuk mendapatkan mangkok yang berisi banyak koin. Jumlah koinnya bervariasi. Setelah mendapatkan mangkok tersebut, pengunjung mulai meletakkan koin-koin yang ada dalam mangkok ke sebuah alat yang mirip permainan congklak yang ukurannya cukup panjang. Satu koin di satu lobang. Idealnya adalah koin yang ada di mangkok abis di lubang terakhir. Itu menunjukkan berbuat amalnya cukup. Kalo masih ada koin yang tersisa, itu berarti kurang beramal, dan sebaliknya bila koin sudah abis di tengah jalan, berarti kebanyakan amal, hihihi.. terus terang agak lupa juga benar ga ya itu artinya, hehehe. Sebagian besar peserta trip ikut ujian ini, ya hasilnya bervariasi, sedikit yang pas, sisanya kurang ataupun lebih😀

salah satu bangunan di sekitar Reclining Buddha Temple

Selesai mengelilingi Reclining Budha, aku sempat berfoto-foto di dalam dan di luar bangunan lainnya yang ada di sekitar. Di dalam salah satu bangunan yang ada juga patung budha-nya, aku melihat ada seorang pria yang lagi sembahyang. Selesai dia sembahyang, aku minta tolong difoto, hehehe..  Kami sempat ngobrol sebentar. Pria itu bilang dia asli orang Thailand dan setiap siang sembahyang di situ.

ucapan selamat Natal di Mading🙂

Di dekat pintu keluar lokasi aku melihat ada ucapan ‘Merry Christmas and Happy New Year’ yang dipasang di majalah dinding. Sepertinya ada salah satu bangunan di tempat ini yang berfungsi sebagai sekolah.

Kami melanjutkan perjalanan, kali ini dengan berjalan kaki, melewati pasar kecil yang sebagian besar menjual makanan. Kami akan menyusuri Sungai Chaopraya dengan satu kapal kayu tradisional. Bit air agak tinggi. Airnya coklat keruh, bahkan masuk ke rumah penduduk yang berada di pinggir sungai. Menurut Sukma, sungai inilah yang menyebabkan banjir hebat di Thailand pertengahan tahun 2011 kemaren.

Seluruh rombongan tertampung dalam satu kapal. Sepanjang menyusuri sungai, Sukama menceritakan tentang bangunan yang terlihat di sisi kanan dan kiri sungai. Dia juga menunjukkan rumah sakit pemerintah tempat Raja Thailand dirawat sudah lebih dari 4 tahun.

di tepi Sungai Chaopraya

Sungai Chaopraya ini memisahkan kota Bangkok Baru dan Bangkok Lama. Banyak penduduk di kota Bangkok Lama  merupakan keturunan kawin campur orang Indonesia (etnis Cina dari Semarang) yang datang berdagang ke Bangkok berpuluh tahun yang lalu dengan penduduk setempat. Itu sebabnya, menurut Sukma, banyak juga penduduk Bangkok yang bisa berbahasa Indonesia seperti dirinya.

Kapal kayu tiba di titik di mana kapal harus balik arah. Di sini kapal berhenti sebentar. Ternyata di sungai ini ada tempat pemeliharaan ikan patin. Yang mau kasih makan tuh ikan-ikan, bisa membeli roti tawar dengan harga 20 baht (sekitar 6 ribu rupiah). Begitu cabikan roti diIemparkan, ikan-ikan langsung bermunculan ke permukaan air. Kata Sukma, bila ada ikan patin putih yang terlihat, itu tanda keberuntungan. And yess.. ada ikan patin putih yang terlihat. Tapi ikan patin putih tidak ikut makan roti yang ditebar oleh kami, cuma hilir mudik aja di antara ratusan ikan patin hitam yang mendominasi.

ikan patin yang terpelihara baik @ Sungai Chaopraya

Bagi aku, hebat benar nih Departemen pariwisata Thailand mengemas objek wisatanya. Sungai keruh yang besar (menurut ukuran sungai) bisa dikemas oleh mereka menjadi tempat wisata yang didatangi ribuan turis mancanegara setiap tahunnya. Kebayang danau toba ku yang megah.. kok ya bisa kalah dengan sungai Chaopraya ini.. *sedih*

Selepas memberi makan ikan, kapal pun menuju Wat Arun. Di tempat ini ada kuil besar terdiri dari 3 tingkat. Langsung deh foto keluarga di halaman luar dengan Kuil sebagai latar belakangnya. Selesai foto terdengar juga tawaran berfoto dengan baju khas Thailand. Tawaran dalam bahasa Indonesia ^_^ Boleh bayar pake rupiah. 50 ribu rupiah😀 Aku sempat pengen, lalu nanya-nanya, tentunya dalam bahasa Indonesia. Ternyata 50 ribu itu sewa baju-nya saja, kameranya pake kamera pribadi. Kalo mau dicetak pake Polaroid, bayarnya 100 ribu rupiah. Ga jadi deh.. soale kamera-ku digicam biasa. Sedangkan teman trip lain (yang punya kamera oke) sudah pada terpencar semua di dalam kuil.

Sukma bilang, bagi wanita yang lagi datang bulan dilarang untuk naik ke atas Kuil. Banyak juga peserta trip yang cuma berfoto-foto di tingkat dasar, males naik ke tingkat berikutnya karena tangganya curam benar. Aku termasuk peserta yang naik sampai tingkat tertinggi, wong Cuma 3 tingkat ini ^_^ Menurut Sukma, bentuk kuil ini diambil dari salah satu sisi Candi Borobudur. Bahkan ada batu merah di kuil tersebut yang katanya diambil (atau diimpor ya…) langsung dari Pulau Jawa.

Wat Arun

Puas keliling dan foto-foto, aku pun bergabung dengan peserta lain yang sudah ‘kalap’ belanja di toko-toko souvenir yang berada di samping kuil. Ada belasan toko yang menjual  berbagai souvenir, terutama kaos. Kaos dewasa diberi harga 130 baht/kaos, kalo beli 10 jadi 110 baht/kaos. Cukup murah ya.. Rata –rata yang melayani bisa berbahasa Indonesia standar *serasa di Mangga Dua*. Satu hal yang menarik adalah harganya seragam di semua toko. Jadi kita tidak akan merasa tertipu karena menemukan harga yang lebih murah di toko yang lain. Bisa dicontoh nih oleh persatuan pedagang souvenir yang ada di objek-objek wisata di Indonesia.

Aku belum berminat untuk membeli souvenir di sini, toh masih ada kesempatan di hari berikutnya. Aku hanya minum semacam teh tarik. Aku minta minumannya take away. Ternyata plastik untuk minuman di warung-warung kecil di Bangkok ini agak unik. Seperti kayak plastik belanja di warung-warung di Jakarta, tapi warnanya putih dan ukurannya mini.

Saatnya kami meninggalkan Wat Arun. Setelah semua peserta berkumpul kami pun kembali ke kapal. Ternyata, sudah ada foto-foto kami dicetak dalam piring kaca yang biasanya dipakai sebagai souvenir. Aku heran, kapan ya aku difoto khusus untuk piring ini. Setelah liat fotonya, itu kan pas foto keluarga tadi. Ternyata masing-masing peserta di-crop wajahnya, lalu dicetak ke piring souvenir tersebut dan diberi tambahan gambar kuil dan tulisan Wat Arun. Sayang sekali tidak dicantumkan tanggal hari itu. Piring berfoto ini dijual dengan harga 200 baht, dan SOLD OUT.

Kami pun akhirnya diantarkan ke salah satu dermaga kecil. Dari situ jalan kaki 5 menit, kamipun tiba di depan satu mall, di mana bis kami sudah menanti. Tempat yang akan dikunjungi berikutnya adalah toko yang menjual produk yang terbuat dari kulit. Tapi sebelumnya kami makan siang dulu karena emang sudah saatnya makan siang. So surprised ketika bis balik ke hotel. Hmm.. kami makan siang di restoran hotel itu lagi ternyata =))

Baterai kameraku sudah menunjukkan warna kuning. Mumpung di restoran, aku bermaksud men-charge baterai kameraku. Betapa kagetnya aku ketika ada waiter yang melihat aksi-ku ini dan bilang ‘no charging..no charging’ plus bahasa tangannya menyiratkan tidak boleh. Ga jadi nge-charge deh😦 Pak Tamba, yang saat itu satu meja makan dengan aku (tepatnya aku yang membaurkan diri dalam keluarga mereka), bilang cuek aja. Di meja sebelah kami ada juga peserta trip lain yang lagi nge-charge HP-nya. Waiter yang sama juga melarang, bilang ga boleh. Peserta itu cuek aja belagak ga dengar omongan tuh waiter.  Tapi tetap aja aku ga berani mengikuti kecuekan peserta trip itu *hiks*

Selesai makan kami pun menuju ke Leather Shop. Tokonya ga besar. Produk-produk yang ditawarkan itu terbuat dari berbagai kulit seperti kulit gajah, ular, ikan pari, dll. Tak banyak yang bisa aku ceritakan di sini, secara emang ga berminat shopping, hehhehe..  Ada juga peserta trip yang tertarik untuk membeli beberapa produknya seperti dompet dan tali pinggang. Aku sempat lihat beberapa (hara) tas wanita, ada yang harganya sampai 30 juta rupiah. Oh ya, beberapa pelayan di toko ini juga bisa berbahasa Indonesia😀

Kurang dari satu jam kami sudah ke luar dari toko. Kami akan menuju ke Pattaya. Durasi perjalanan sekitar 2.5 jam. Sukma menyarankan kami untuk tidur siang saja, hehhe..

Sampai bertemu di Pattaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s