Warung Tenda

Standard

Sudah beberapa kali aku datang ke warung tenda ini.  Selalu dalam rangka membeli makan malam. Kadang beli ayam goreng, seringnya beli pecel lele. Aku suka sambal buatan warung ini. Pedasnya pas di lidah.

Pada saat kunjungan pertama, aku ingat yang melayani pembeli adalah seorang Bapak paruh baya dan seorang pemuda yang aku duga anak laki-laki si Bapak. Perkiraan sekilas, anak ini mungkin masih duduk di tingkat awal SMA. Aku perhatikan anak itu telaten.  Selagi si Bapak menggoreng ayam/ikan, si anak ini menyiapkan nasi, lalapan, sambal, dan minuman untuk pembeli yang dine in. Atau membungkusnya untuk pembeli yang memesan take away, seperti aku.

Nah, beberapa hari yang lalu aku datang lagi ke warung ini sepulang kerja. Memesan take away menu ayam goreng. Kali ini yang melayani pembeli jadi 4 orang, yaitu si Bapak dan istrinya, plus kedua anak laki-lakinya. Anak yang lebih kecil sepertinya masih duduk di SMP. Sama seperti Abangnya, dia juga rajin. Si adik malam itu kebagian tugas mencuci peralatan makan yang kotor dan menyajikan minuman. Aku lihat si Abang yang menggoreng ayam yang aku pesan, sementara si Bapak lagi membakar ikan pesanan pembeli yang lain, dan sang Ibu membungkus nasi , lalapan dan sambal untuk aku.

Aku jadi memperhatikan keluarga ini sambil menunggu pesananku selesai dibuat. Dua anak laki-lakinya itu membantu orang tuanya tanpa merasa malu. Bahkan mereka terlihat akrab dengan pembeli yang kebetulan dine in saat itu. Sepertinya pelanggan tetap.

Melihat keluarga ini, aku berpikir pasti Bapak dan Ibu warung tenda ini bersyukur sekali memiliki anak yang mau membantu mereka mencari nafkah. Orang tua juga pasti tenang mengetahui anak-anaknya tidak keluyuran di tempat yang tidak jelas. Ya Tuhan, berkati keluarga ini ya..

Melihat anak-anak itu bekerja mengingatkanku pada diriku sendiri yang juga pernah menolong orangtua mencari nafkah. Aku tidak malu, justru dari pengalaman itu aku jadi tahu susahnya mencari uang.

Berawal pada satu malam di mana Pasar Peringgan tempat Mamakku dan adik-adiknya berjualan sepatu  dan tas terbakar. Kios Mamak beserta seluruh isinya terbakar habis, sedangkan isi kios milik dua adik Mamak masih bisa diselamatkan. Aku ga ingat bagaimana caranya aku bisa sampai di TKP (jaraknya 20 menit naik kendaraan umum dari rumah kami), tapi aku ingat persis menonton Pasar Peringgan itu terbakar habis. Aku masih SD kelas 5 saat itu.

Itu adalah masa yang sulit, terutama buat Mamak yang memang sudah terbiasa bekerja. Bapak saat itu lagi dinas di Aceh, jadi tidak bisa sering-sering pulang untuk membantu Mamak. Sambil menunggu pasar dibangun lagi, Mamak membantu adiknya berjualan di tempat ‘darurat’ yang disediakan pengelola pasar. Setelah besar aku baru bisa membayangkan, betapa sedihnya hati Mamakku saat itu, karena dia justru bekerja di toko adiknya, bukan di tokonya sendiri. Meskipun itu cuma toko darurat.

Mamak tidak lama membantu di toko adiknya, karena akhirnya Bapak membuatkan warung kecil-kecilan di halaman rumah. Kolam ikan hias yang dulu ada di halaman, akhirnya ditimbun dan dibuatkan warung yang menjual kebutuhan sehari-hari. Saat itu aku, abang dan kakak bergantian menjadi penunggu warung. Dan ya.. kami sering berantam karena malas nungguin warung. Lebih suka bermain-main.

Aku ingat, pernah disuruh Mamak belanja stock barang warung ke toko grosir di dekat Pasar Peringgan. Berbekal daftar yang dibuatkan Mamak, aku naik angkot ke pasar peringgan. Sampai di toko grosir, aku menyerahkan daftar belanja. Isinya sih seperti rokok, sabun mandi, snack untuk anak-anak seperti chiki. Aku ingat ada satu merk snack namanya ‘Isabella’ yang benar-benar laris, hehhehe.. Pulang dari toko grosir, aku membawa dua kantongan kertas besar berisi belanja dan naik angkot lagi. Aku tidak membayar ke toko grosir, itu ntar jadi urusannya Mamak.  Sengaja dilakukan untuk antisipasi aku ditodong, ehheh..

Percaya atau tidak, peristiwa itu menjadi kenangan manis sekarang.  Sebagai anak kelas 5 SD, hakku seharusnya belajar dan bermain, tapi Allah mengijinkan aku mengalami masa sulit walau saat itu aku tidak merasa sulit. Mungkin karena saat itu aku belum bisa berpikir tentang tanggung jawab financial ya..

Aku berharap sekarang, apa yang aku lakukan dulu itu membahagiakan kedua orang tuaku, seperti yang aku pikirkan tentang kedua anak laki-laki di warung tenda itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s