Unfaithful*

Standard

Sudah 30 menit aku berada di cafe favorit Milo, tempat di mana dia melamar aku dan menyematkan cincin di jari manisku. Sebentar lagi aku akan bertemu dengan Milo di sini. Bibirku kelu mengingat hari itu. Hari di mana aku menerima dengan terpaksa lamaran Milo untuk menjadi pasangannya dalam ikrar suci pernikahan. Terpaksa karena aku tidak mencintainya. Terpaksa karena aku tidak mau menyakitinya, karena dia begitu baik. Kutambahkan alasan rohani dibalik keputusanku ’mungkin memang dia jodoh yang Tuhan sediakan bagiku’.

Semua keluarga bilang kami begitu serasi. Semua temanku bilang betapa beruntungnya aku mendapatkan Milo. Dia pria yang baik, mapan dan cinta padaku.

Bulan pertama pertunangan bagaikan cerita dongeng. Dia begitu memperhatikanku, mencintaiku. Apa yang tidak akan dia lakukan demi bahagiaku? Bulan-bulan berikutnya perhatiannya membuat aku semakin menderita. Aku merasa bersalah.

Aku jatuh hati pada pria lain. Pada Raja. Dari awal kami sadar kami tak akan bisa bersama bila masih berbeda keyakinan. Namun, tetap kami membangun mimpi dengan harapan di suatu masa kami akan diberi jalan keluar. Mungkin akan ada di antara kami yang mengalah. Cinta bisa mengubah segalanya.

Kami kalah dengan waktu. Saat cinta belum bisa membuat salah satu dari kami mengalah, keluarga Raja sudah menuntut Raja untuk memilih: aku atau keluarganya. Tanpa bertanya pada Raja, aku sudah tahu siapa pilihan Raja.

Hatiku terkoyak menerima kabar pertunangan Raja. Asa yang kami bangun telah hancur berantakan. Aku menangis, bertanya mengapa harus mengalami rasa cinta pada pria yang tak mungkin aku miliki. Mengapa Tuhan begitu tega memberikan rasa ini dalam hatiku?

Saat dalam keterpurukan dan sedih yang amat sangat, Milo datang lagi menawarkan cintanya. Ya.. lagi. Milo sudah beberapa kali menyatakan perasaannya padaku, jauh sebelum aku mengenal Raja. Aku selalu menolak. Kala itu aku masih muda, masih ingin bebas, dan akhirnya aku bertemu Raja.

Harus kuakui, Milo hanyalah pelarian. Dia tidak tahu, menjelang tidur, aku masih sering menerima telepon Raja. Kadang bahkan kami berbincang panjang lebar hingga subuh merekah. Milo tidak tahu kalau aku masih sering bertemu dengan Raja secara sembunyi-sembunyi untuk saling melepas rindu. Milo tetap saja bersikap baik padaku.

Atau jangan-jangan sebenarnya Milo tahu. Beberapa kali dia menangkap basah aku melamun saat dia sedang dengan berapi-api menceritakan konsep resepsi pernikahan kami. Dia sering melihat aku tersenyum simpul saat membaca pesan singkat yang masuk ke BB-ku kala dia sedang menyetir di sebelahku. Sekali waktu Milo pernah bertanya mengapa aku begitu senang dan aku mengabaikan pertanyaannya dengan mimik gusar. Sejak itu Milo tidak pernah bertanya lagi.

———————————————————————————

Sudah 30 menit aku berada di cafe favorit Milo, tempat di mana dia melamar aku dan menyematkan cincin di jari manisku. Sebentar lagi aku akan bertemu dengan Milo di sini.

Aku pandang kotak beludru kecil di atas meja yang akan kuberikan untuk Milo malam ini. Hatiku bergejolak. Jari manisku polos tanpa hiasan apapun. Cincin itu ada di dalam kotak beludru itu.

Maafkan aku Milo. Kita putus.

*100% fiksi, terinspirasi dari lagu ‘Unfaithful’-nya Rihanna.

One response »

  1. Wah…cerita singkat yang mengesankan. Hiks…tapi akhirnya membuatku “sedih” karena jika aku dalam posisinya, aku akan tetap memakai cincinya. He..he…Kata pepatah, Lebih baik dicintai daripada mencintai (khusus perempuan).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s