Sekolah Minggu

Standard

Satu ketika, melalui BBM aku bertanya kepada seorang teman tentang jadwal kebaktian minggu di sebuah gereja di mana temanku tersebut beribadah. Dia menuliskan jadwalnya dan menambahkan pesan ‘Kau jadi guru sekolah minggu (SM) aja di sana, hehehe..’. Aku tersenyum dan membalas ‘guru SM bukan panggilanku😀 ‘.

Percaya atau tidak, seumur hidup aku belum pernah jadi guru SM. Aku sendiri juga sempat heran kenapa ya aku tidak tertarik untuk jadi guru SM. Padahal bisa dibilang aku sangat menikmati kehidupan bersekolah minggu hingga masuk kelas remaja.

Sekolah Minggu menjadi kenangan yang manis bagiku. Di masa itu aku bernyanyi (and finally know that I have a beautiful voice *uhuk*), mendengarkan Firman Tuhan melalui kakak/abang sekolah minggu, menghapal ayat-ayat Alkitab, belajar memberi kolekte, bermain dengan teman-teman. Menyenangkan.

Namun, kenangan manis masa sekolah Minggu tidak membuatku tertarik untuk menjadi guru sekolah minggu. Rasanya, aku tidak terlalu get along dengan anak-anak, tidak cukup sabar untuk menghadapi ributnya mereka, tidak cukup kuat untuk berlari-lari dengan mereka, hehehe..

Jadi teringat satu lagu sekolah minggu dalam bahasa karo. Yuk didendangkan😀

Kami sekolah minggu (Kami anak sekolah minggu)

Sada pe la nggit rubat (seorang pun ga mau berkelahi)

Sebab adi na rubat (karena kalo berkelahi)

Kai pe la dat (tidak ada yang di dapat)

Uis ngenca merigat (hanya baju yang rusak)

Seh rumah kena rawa (sampai rumah kena marah)

Tangis ngandung gelarku (menangislah aku)

Enggo merjut (setelah itu merengut)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s