Trip: Taman Nasional Gunung Halimun

Standard

Trip ini dilakukan saat libur Lebaran 2011, 28-30 Agustus. Total pengeluaran sebesar Rp 1.750.000,- untuk 4 orang. Pesertanya adalah aku, Je, El dan De. Yang terakhir disebut adalah satu-satunya peserta pria yang mobilnya dipakai sebagai alat transportasi dan yang juga merelakan dirinya menyetir selama perjalanan (total 13 jam pulang pergi). In return, De dapat diskon 50% untuk urunan plus upah yang besar di surga ^_^

28 Agustus 2011: Rencananya kami akan berangkat jam 8 pagi dari TIS, namun akhirnya baru berangkat jam 11 siang, itupun setelah aku pake ngambek segala…huff..huff..huff.. Sesuai dengan info yang diberikan oleh Pak Suryana, pemilik rumah di mana kami akan menginap selama di Halimun, kami menempuh rute melalui Bogor. Rute-nya adalah: Tol Jagorawi –> Sentul Selatan Lingkar Luar –> Kedeunghalang Bogor –> Jalan Baru –> Terminal Bubulak –> Kampus IPB Dharmaga –> Pasar Leuwiliang –> Kecamatan Nanggung –> Desa Malasari –> perkebunan Teh Nirmala. Sungguh beruntung, kami tidak terjebak macet yang berarti. Cuma satu kali pas melalui pasar Leuwiliang, itupun ga parah. Hanya saja tidak ada satu warung makanan pun yang buka sejak kami masuk kawasan Bogor. Kami pikir sebelumnya, akan ada satu atau dua warung yang buka seperti di Jakarta pas bulan puasa. Ternyata salah besar. Akhirnya roti yang seharusnya untuk bekal sarapan dijadikan pengganjal perut.

Setelah tiga jam lebih berkendara, kami pun sampai di Desa Malasari dan menemukan plang ‘selamat datang di Perkebunan Teh Nirmala’. Waahh.. senang banget rasanya. Mikirnya bentar lagi kami akan segera sampai di penginapan (home stay) dan waktu masih siang. Kami masih punya waktu untuk langsung trekking ke air terjun.

Setelah melewati plang Selamat Datang, ternyata kondisi jalannya agak berbeda. Hanya jalan setapak yang bisa dilewati satu mobil saja. Jalan setapak tersebut dipenuhi dengan batu-batu kecil. Semakin ke dalam kami mendapati batu-batunya semakin besar dan tajam. Jalannya pun mulai berkelok-kelok. Sering El harus turun untuk mengarahkan De agar jangan sampai menabrak batu agak besar yang berada di tengah jalan. Je yang duduk di sisi kiri juga siaga memperhatikan jalan agar mobil jangan sampai bergerak terlalu kiri.

Terus terang aku tidak menyangka bahwa jalannya akan separah ini. Emang sih dari hasil browsing, semua orang bilang jalannya jelek. Saat Pak Suryana memberikan alternatif jalan melalui Bogor (biasanya dari Parung Kuda), aku pikir kondisi jalannya sudah mulus. Apalagi Pak Suryana memastikan bahwa mobil sejenis Inova pasti bisa dibawa sampai ke penginapan, jadi ga perlu sewa Elf seperti yang dilakukan oleh traveller lainnya yang melalui rute Parung Kuda. Ternyata rute Bogor itu alternatif untuk menghindari kemacetan arus mudik Lebaran yang pasti di rute Parung Kuda. Beuh… Roda depan mobil De sampe mengeluarkan bau karet terbakar karena gesekan yang cukup lama dengan batu-batu. Butuh waktu hampir 4 jam untuk melewati jalanan berbatu sepanjang 7 km itu. Akhirnya kami sampe di penginapan dah hampir jam 6 sore, jadi harapan untuk trekking di hari pertama sirna sudah.

Di penginapan ternyata sudah ada grup lain yang menyewa 2 kamar. Mereka sudah datang dari siang dan awalnya berencana untuk kemping. Namun, akhirnya mereka memutuskan untuk nginap di homestay saja.

Setelah melihat keadaan satu homestay yang lain, kami memutuskan tinggal di rumah yang sama dengan grup pertama. Masih ada 2 kamar kosong. De sendiri satu kamar, sedangkan yang cewek ngumpul bertiga di satu kamar. Setelah memasukkan tas ke kamar, kami langsung meminta Ibu Suryana untuk memasakkan kami masing-masing satu mangkuk indomie. Lapar berat…

Sambil menunggu indomie dimasak, aku nekat mandi. Airnya dingin kayak air es, mengingatkan aku pada desa Peceren di Tanah Karo. Suasananya juga mirip. Di depan homestay ada persawahan dengan padi yang masih hijau. Damai sekali.

Selesai mandi, makan indomie. Nikmatnyaaa… setelah itu kami main kartu untuk membunuh waktu, soale kami dah ga sanggup untuk sekedar menyusuri sekitar penginapan. Kartunya pinjam dari Pak Suryana, yang katanya itu juga kartu ketinggalan pengunjung Halimun sebelumnya😀

Selang tiga jam kemudian kami makan malam dengan menu sop sayur sosis dan ikan asin. Semua bahan makanan kami bawa dari Jakarta, nah Ibu Suryana yang memasakkan. Hal ini disebabkan karena pasar jauh dari penginapan dan jalannya ya yang berbatu-batu 7 km tadi. Jadi kalo yang datang cuma small group seperti kami, tidak efektif bagi Pak Suryana untuk menyediakan meals kepada tamunya. Kalo ada bumbu-bumbu yang kurang, masih bisa lah diambil dari persediaan bumbu Ibu Suryana. Nanti upah memasak dan kekurangan bumbu akan diperhitungkan dalam sewa penginapan.

Jam 11 kurang kami semua sudah berada di tempat tidur masing-masing, berpakaian lengkap siap berperang dengan hawa dingin. Je dan El masing-masing mendapatkan dipan, sedangkan aku tidur dengan menggunakan extra bed.

 29 Agustus 2011  Jam 5 pagi aku dibangunkan El yang ingin pindah ke kasurku karena dia pengen  melakukan Yoga. Setelah pindahan kasur yang membuat aku merasa sedikit kedinginan, aku jatuh terlelap lagi hingga jam 7 kurang.

Setelah cuci muka dan sikat gigi, aku berjalan-jalan di sekitar homestay. Menikmati sawah, mendengar gemercik air sungai, melihat anak-anak kecil bermain, mendengar suara embikan kambing, hehhehe… Tak lupa mengabadikan berbagai moment dengan kamera.

Jam 10 pagi, setelah mandi dan selesai sarapan, kami siap untuk trekking ke Curug Cimacan. Kata Pak Dede, guide kami hari itu, perjalanannya akan menyusuri hutan dengan berjalan kaki kurang lebih 1.5 jalan. Di awal trekking, kami semua, kecuali Pak Dede, bernafas dengan lumayan tersengal-sengal, apalagi jalannya agak mendaki. Di beberapa tempat kami berfoto dan beristrahat sejenak memulihkan tenaga. Tidak ada sampah plastik yang kami temui selama perjalanan di hutan, senang melihatnya.

Kurang dari 1,5 jam kami tiba di Curug Cimacan. Ketinggian curug sekitar 7 meter. Tidak bisa mandi di sini karena sungainya dangkal. Aku menyeberangi sungai dan sampai di bawah air terjun. Teman-teman yang lain masih mengamati dulu (memastikan aku bisa menyeberang dengan aman) baru kemudian bergabung.

Puas main air tanpa harus basah kuyup (padahal kami sudah bawa baju ganti) kami pun kembali ke penginapan. Kali ini rutenya melalui jalan-jalan berbatu seperti kemaren dengan pemandangan perkebunan teh di kanan kiri. Matahari cukup terik, kami berjalan lebih santai lagi. Sesekali berhenti untuk melepas lelah dan berfoto-foto.

Dekat dengan penginapan, di bawah satu pohon, kami mencoba peruntungan kami dengan sinyal telekomunikasi. Di kawasan perkebunan Teh Nirmala hingga saat ini hanya ada sinyal indosat yang ada, karena memang di situ ada satu BTS Indosat. Namun sejak dua hari sebelumnya sinyal indosat mati total, sehingga semua orang di kawasan itu kesulitan berkomunikasi. Nah, di bawah pohon ini, ternyata sinyal Telkomsel bisa didapatkan. Menurut Pak Dede, sinyal itu pancaran dari BTS Telkomsel yang ada di luar kawasan Halimun. Tapi selang 100 meter dari pohon itu, kembali hanya sinyal Indosat yang tertangkap di hape.

Setelah memberi kabar sekedarnya ke anggota keluarga masing-masing, kami kembali ke Penginapan. Setelah makan siang, De, Je dan El bincang-bincang sambil main kartu , sedangkan aku memutuskan istirahat di kamar untuk mengumpulkan tenaga. Rencananya nanti malam kami mau melihat jamur menyala. Menurut Pak Dede, jamurnya kurang nyala karena sudah beberapa malam hujan tidak turun. Tapi kami memutuskan untuk tetap pergi, soale dah jauh-jauh ke Halimun, masa tidak lihat jamur menyala.

Jam 5 sore kami mulai bergilir mandi. Hampir jam 6 sore, hujan deras turun mengguyur. Waaaaa… batal deh lihat jamur menyala, karena jalanan pasti becek. Sedih banget rasanya seharian itu Cuma mendatangi satu tempat, banyak waktu yang (rasanya) terbuang sia-sia.. tapi apa mau hendak di kata, mungkin ini tanda aku harus balik lagi ke Halimun. Kami menghabiskan malam dengan makan, ngobrol, main kartu dan tidur.

 30 Agustus 2011 Jam 6 pagi kurang kami sudah keluar penginapan menuju lapangan bola. Kami mau melihat sunrise. Dan kami telat, as usual, hehhe.. Perpaduan matahari yang memerah, hijaunya daun teh sejauh mata memandang dan sejuknya udara, membuat hatiku mellow. Aku kangen sekali dengan orang tua ku. Sementara De, El dan Je di ujung sana sibuk berfoto-foto dan tertawa, aku malah menitikkan air mata dalam perenungan pagi. Damai sekali, indah sekali. Ahhh Tuhan, Engkau sangat baik.

Satu jam kemudian kami kembali ke penginapan. Mandi, sarapan dan akhirnya kami pun check out. Bu Suryana juga sudah membekali kami dengan makan siang yang dibungkus dengan plastik. Sesudah urusan administrasi beres, kami pun meninggalkan Halimun. Perjalanan berbatu 7 km itu tidak lagi terasa lama. Di tengah perjalanan, kami melihat sudah ada warung makanan yang buka. Berarti sudah ada yang Lebaran😀 Kami pun singgah di warung bakso untuk makan siang dengan bakso sebagai lauk tambahan.

Jam 3 sore kami tiba di Bogor. Mampir di FO, tapi kayaknya ga ada yang berminat belanja. Kami memutuskan untuk langsung balik aja ke Jakarta. Trip Halimun pun berakhir.

Aku harus balik ke Halimun lagi. Untuk melihat jamur menyala.

Mission was not accomplished.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s