Bersedih Atas Dosa

Standard

Banyak orang yang bersedih karena kehilangan. Apa saja bisa hilang. Barang-barang, persahabatan, orang-orang yang dikasihi. Kita merasakan kehilangan karena sebelumnya mereka itu pernah kita miliki. Ketika kehilangan itu menjadi kenyataan, maka kita butuh penghiburan. Kadang, teman yang mau mendengarkan kesedihan kita tanpa berkomentar banyak dan tidak menghakimi, itu saja sudah merupakan bentuk pengiburan.

Dalam salah satu bab di buku PA ’Menemukan Penghiburan Sejati’ dituliskan tidak ada kesedihan lain yang lebih menjanjikan (untuk mendapatkan penghiburan sejati) daripada kesedihan atas dosa. Entah kita merasa hancur hati atas dosa yang kita temukan dalam diri sendiri atau dalam diri orang yang kita kasihi.

Bersedih atas dosa? Kapan terakhir kali aku mengalami kesedihan sejenis ini? Mungkin hatiku sudah begitu kebalnya dengan dosa, sehingga aku merasa menyesal sejenak namun setelah itu melupakannya. Bahkan kembali mengulanginya.

Yang aku ingat, bila kita berbuat dosa, maka kita harus datang kepada Tuhan, mengakui kesalahan kita, menyesalinya dan memohon ampunNya. Namun sebagai umatNya, ternyata masih ada tahap selanjutnya yang harus aku lakukan. Datang ke orang  yang kepadanya aku berbuat kesalahan, mengakui kesalahan itu dan meminta maaf.

Seandainya temanku itu tidak tahu kalo aku berbuat salah kepadanya, apakah aku masih tetap harus mengakui salah? Bila aku tetap mengakui salah, bukankah ada resiko besar aku akan kehilangan perteman dengan dia?

Jawaban dari kedua pertanyaan di atas adalah IYA.

Jadi, mengapa aku harus tetap datang dan mengaku salah kepada temanku tersebut?

Karena tak ada hal yang lebih dapat merampas penghiburan dan pertolongan dari Tuhan daripada perasaan bersalah yang tak terselesaikan. Ketakutan bahwa orang-orang yang kita kasihi akan menjauhi kita, rasa malu, kehilangan harga diri, kehilangan pertemanan membuat kita lebih memilih untuk tidak mau datang mengakui kesalahan kita kepada mereka dan menyimpan perasaan bersalah itu di dalam hati.

Inilah yang dimanfaatkan si jahat. Perasaan bersalah yang muncul setiap kali bertemu dengan teman tersebut, mencuri damai dari hati kita. Perasaan bersalah itu muncul karena proses pertobatan itu belum tuntas selesai, karena memang belum mengaku salah pada yang bersangkutan.

Bila langit yang tak ada batasnya itu kita akui sebagai ciptaanNya, bukti kuasaNya yang ajaib, mengapa kita tak berani percaya bahwa Tuhan bisa melembutkan hati teman kita tersebut untuk memaafkan kita?

Ahhhh… Lebih mudah meminta maaf kepada Tuhan daripada mengakui salah kepada manusia😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s