Trip Cirebon: Part-1

Standard

Weekend kemaren dihabiskan di Cirebon. Acaranya wisata kuliner dan berburu batik. Kali ini pesertanya ada 4 orang, yaitu aku, Irma, Novi dan Ita. Sebuah trip yang cewek banget, hehehhe..

Sabtu 16 Juli 2011. Jam 5 pagi aku sudah berada di bis kota menuju Gambir. Sempat transfer bis karena penumpangnya hanya aku seorang, hehhehe. Tiga puluh menit kemudian tiba di Gambir. Dah rame aja nih orang mengantri di loket. Tidak lama kemudian Irma datang, disusul Novi. Ita datang terakhir dengan ngos-ngosan karena berlari masuk kereta yang hampir berangkat.

Tiket kereta Cirebon Express (CirEx) baru dibeli empat hari sebelum hari keberangkatan. Kita pikir seharusnya tiket CirEx sudah tidak terlalu penuh karena masa liburan sekolah hampir berakhir. Ternyata analisa kami salah, kelas Executive sudah sold out, termasuk kepulangan dari Cirebon untuk hari Minggu. Akhirnya terpaksa ambil yang kelas bisnis.

Kereta berangkat ontime. Betapa surprise-nya kami, terutama Ita, ketika kereta CirEx berhenti di stasiun Bekasi. Tahu begitu, Ita ga perlu naik motor 1,5 jam ke Gambir di pagi-pagi buta, hihihii.. Ini nih kalo males cari informasi. Setengah perjalanan di isi dengan ngobrol, setengahnya lagi Novi tidur dan kami bertiga ngobrol ngalur ngidul.

Jam 9 kami tiba di stasiun Cirebon. Wah, stasiun Cirebon lagi berbenah. Ada basement yang dibuat sebagai jalur untuk keluar dan masuk peron kereta. Ini kali ke-4 aku datang ke kota udang ini, dan kali pertama untuk tiga peserta lainnya. Matahari mulai menunjukkan taringnya. Panas…panas..

Lima menit menunggu, mobil yang disewa datang. Pesan mobil Avanza, yang datang APV, hehehe.. Pak Driver namanya Rani. Orangnya lumayan ramah dan helpful. Dan akhirnya jadi tukang foto ketika kami ingin bikin foto keluarga.

Destinasi pertama: Kue Serabi Cirebon untuk sarapan. Sesuai dengan contekan dari catatan orang lain yang didapat dari Mbah Gugel, meluncurlah kami ke jalan Pulasaren. Kami mutar 2x untuk memastikan pedangang serabi yang kami lihat pertama di jalan tersebut memang satu-satunya pedangang serabi di sepanjang jalan itu, hehheehe. Harga serabinya cukup murah, berkisar dari Rp1.000 – Rp 3.500. per buah. Kami pesan serabi dengan berbagai topping, ada pisang keju, telur keju, telur sosis, pisang keju coklat. Kenyang.

Serabi Cirebon di Jl. Pulasaren

Destinasi kedua: Gua Sunyaragi. Pas sampe, ada yang nanya, yakin mau ke sini? Kok tempatnya tidak terawat begini? Bikin aku ikutan ga yakin, hehhehe.. Tapi akhirnya kami masuk juga. Tiket masuk Rp 5.000,- dan kami minta satu orang guide untuk menemani sambik menceritakan tentang gua ini. Di tempat ini ada beberapa gua dengan fungsi yang berbeda-beda yang dipake sultan dan keluarga. Ada gua bersemedi untuk mendapatkan ilmu ketahanan tubuh, ada gua untuk menyimpan makanan, ada gua untuk memberi jamuan. Permukaan gua-gua ini dilapisi dengan karang batu yang katanyan diambil secara gaib dari bawah dasar laut. Tak terasa hampir sekitar 2 jam kami berada di gua Sunyaragi ini.

Destinasi ketiga: penginapan. Awalnya aku booking hotel Bumi Asih di jl. Wahidin. Saat kami lihat kamar, ternyata flush toilet-nya tidak berfungsi. Pindah deh.. akhirnya kami ke Priangan Hotel, tempat aku menginap waktu dulu datang ke pernikahan Handi dan Iin. Kebetulan ada satu kamar yang bisa untuk 4 orang dan harganya masuk budget. Setengah jam kami pake untuk cuci muka, ganti pakaian, dan sholat bagi Novi dan Ita.

Destinasi keempat: Empal Gentong. Rencananya mau makan Empal Gentong di Mang Darma yang sudah sangat terkenal itu. Pak Rani membawa kami ke rumah makan Bu Darma, dan ternyata sudah abis, padahal baru jam 1 siang lebih dikit😀 Akhirnya kami menuju ke Rumah Makan Amerta yang merupakan rekomendasi Pak Rani. Pengunjungnya lagi banyak, tapi untunglah kami bisa langsung mendapatkan meja. Aku pesan empal gentong, sedangkan yang lain pesan empal asem. Bedanya di kuah. Empal asem kuahnya bening, sedangkan empal gentong berkuah santan. Di tempat ini juga jual sate kambing, tapi tidak ada di antara kami yang ingin makan sate kambing. Kami makan ditemani asap sate kambing yang lagi dibakar. Empal Gentong dan Empal Asem sama enaknya, terbukti tidak ada nasi yang tersisa di masing-masing piring kami, hahhaha..

Empal Gentong dan Empal Asem Amerta

Destinasi kelima: Rumah Perjanjian Linggarjati. Letaknya di Kuningan, sebuah kawasan yang berhawa sejuk. Saat SD sampai SMA, perjanjian Linggarjati ini kerap muncul dalam pelajaran sejarah. Kemaren aku baru tau bahwa dulu itu rumah tempat perundingan Linggarjati itu adalah sebuah hotel. Peralatan yang ada dalam bangunan tersebut banyak yang sudah tidak asli lagi, tapi masih ada juga yang asli.

Rumah Perjanjian Linggarjati

Destinasi keenam: Curug Sidomba. Lokasinya tidak jauh dari Rumah Linggarjati. Dalam bayanganku, kami akan melewati jalan setapak dan bersemak untuk mencapai curug tersebut. Ternyata, beda 180 derajat. Jalan setapak yang dibayangkan sudah dibuatkan anak tangga yang bagus. Sepanjang ’sungai’ buatan diisi dengan ikan mas yang berselieran sana kemari. Tiba di curug, ternyata curug-nya kecil, hihihihi.. Jadi, rasanya cukup saja sekali datang ke sana.

Curug Sidomba

Kawasan Curug Sidomba ini sepertinya akan dijadikan kawasan wisata baru di Kuningan, terlihat dengan adanya arena bermain untuk anak-anak. Berjalan agak ke belakang, terlihat ada proses kegiatan pengerukan tanah untuk membangun sesuatu. Oh ya, dari sini kita bisa melihat gunung Ciremai.

Jam lima sore kami beranjak dari Kuningan, dan menuju ke penginapan. Di tengah perjalanan, kami melihat banyak penjual durian. Ita ga suka makan durian *tapi anehnya suka aromanya*, Irma ga bisa makan durian karena lagi batuk, aku dan Novi justru pengen banget makan durian. Akhirnya kami berhenti di salah satu penjual durian. Tawar sana sini, tetap dapat harga duriannya cukup mahal, 35rb. Tapi rasanya uenak.. ga merasa rugi, hehhe..

Destinasi ketujuh: Mie Koclok di Jl. Lawanggada. Aku penasaran dari awal seperti apa bentuk dan rasa dari Mie Koclok ini. Mengantisipasi rasanya yang mungkin ditolak oleh lidah, maka kami pesan 2 porsi saja dulu untuk empat orang. Setelah dicicip satu sendok, langsung pesan 2 porsi lagi, hehehe.. Rasanya enak tapi unik. Mie koclok ini makanan khas Cirebon yang terdiri dari mie kuning dan taoge yang disiram dengan kuah santan yang kental. Rasanya gurih😀

Destinasi kedelapan: Alun-alun Cirebon yang letaknya 5 menit berjalan kaki dari penginapan. Beda dengan alun-alun Yogya, bisa dibilang alun-alun Cirebon ini sepi peminat dan tidak ada hiburan kecuali pedagang makanan di sekeliling luar alun-alun. Di samping alun-alun berdiri mesjid Cirebon yang cukup besar dan megah. Novi sempat mengambil beberapa foto dari depan mesjid.

Rencana untuk main kartu di kamar buyar karena duo Irma dan Ita ingin istirahat saja. Akhirnya semua pun jatuh tertidur sebelum waktu mencapai jam 11 malam.

— Bersambung yakkkk–

2 responses »

  1. Pingback: Kilas Sebentar Trip 2011 « Ndepurba

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s