Perseverance

Standard

Sabtu dan Minggu kemaren aku ikutan USKP B (lagi). Jadwal tidur mulai kacau sejak hari Kamis. Pas hari H, jam 6 pagi sudah harus berangkat karena lokasi ujiannya di ujung Jakarta sana. Kelar ujian hari kedua, kepala panas dan badan serasa melayang. Tapi masih diberi tenaga dan waktu untuk mengikuti ibadah Minggu sesi terakhir. Weekend yang sempurna😀

Sebelumnya aku sudah pernah ikut USKP B. Hasil test di kesempatan terakhir mengikuti USKP, ada 1 mata ujian (dari 7 mata ujian) yang aku ga lulus. Artinya, aku harus ngulang lagi semuanya dari awal. Banyak juta rupiah melayang dan satu pelajaran yang aku dapat: harus TEKUN!

Metode USKP sekarang agak berbeda dari tahun sebelumnya, baik dari kurikulum maupun hari pelaksanaan. Kalau dulu USKP B ada 7 mata ujian, sekarang dipadatkan jadi 5 mata ujian. Kalau dulu ujiannya tiga hari dan di hari kerja, sekarang ujiannya cuma 2 hari dan dilakukan pas wiken. Selain itu, dalam kurun waktu 2 tahun belakangan ini banyak sekali peraturan pajak baru yang bermunculan yang topiknya tidak terlalu berhubungan dengan klasifikasi usaha tempat aku bekerja sekarang, jadi aku tidak terlalu update. Nah, untuk meminimalisir resiko gagal (lagi) karena berbagai perubahan USKP yang ada, maka 3 minggu menjelang USKP aku ikut bimbingan belajar USKP, 4 hari seminggu selama 2 minggu, dari 6 sore sampai 9 malam. Pusing..

Pada saat lunch break di hari kedua USKP, aku ngobrol dengan seorang peserta yang bareng bimbel dengan aku. Baru aku tahu kalo dia lulusan fakultas teknik, bekerja di bagian teknik, bukan di bagian pajak atau finance. Hal ini mengherankanku, kok niat banget sih ikut USKP?

Dia bilang, dia ada rencana mau bikin software perpajakan. Jadi, dia pengen belajar tentang pajak. Dalam hatiku, tapi ga harus sebegitunya kaliiii… Waktu ikut USKP A (harus lulus USKP A dulu baru bisa ikut USKP B) dia baru selesai training Brevet A/B, jadi ilmunya masih fresh sehingga dia ga ikutan bimbel. Teman-teman Brevet-nya jarang yang ikut USKP, kalo pun ada stop di USKP A. Biaya USKP tidak murah dan tidak mudah pula untuk lulus. Tapi, kenapa dia sampai sebegitu gigihnya ikut USKP B ya? Ikut bimbingan belajar lagi.

Aku terus memikirkan hal ini dan sampai pada kesimpulan: perseverance. Orang ini bagiku adalah gambaran yang tepat untuk arti ’ketekunan’. Dia punya tujuan, dia tahu dia punya potensi, dan dia tekun melakukan semua proses yang harus dia lewati untuk bisa mencapai tujuannya. Aku yakin, kelak bila dia berhasil menciptakan software perpajakan yang menjadi tujuannya dari awal, produk itu pasti bermutu tinggi. Produk tersebut merupakan buah dari kerja keras dan ketekunan.

Apapun tujuan kita, butuh ketekunan untuk mencapainya dengan kualitas terbaik. Namun, ketekunan tetap harus dibarengi dengan kapasitas dan potensi yang kita miliki. Jangan sampai seperti pungguk merindukan bulan, karena hasilnya hanya kesedihan dan kesakitan.

Mari bertekun!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s