Trip Seoul Maret 2011 – 2

Standard

Posting kali ini akan bercerita tentang makanan yang sempat kami cicipi selama di Korea.

Hal pertama yang menjadi perhatian adalah porsi makanan yang cukup besar untuk satu orang, bahkan bagi aku yang biasa makan banyak, hihihi. Berhubung sudah membayar mahal (menurut kantong kami) maka mau tak mau kami harus menghabiskan makanan yang kami beli. Hal lain adalah, apabila kita dine in, tidak ada pertanyaan ‘mau minum apa?’ *atau kaminya yang ga ngerti ya, hehehe…* Ketika masuk ke dalam rumah makan, maka pelayan akan segera membawakan sejumlah gelas (sesuai dengan jumlah orang yang datang) dan 1-2 botol air putih dingin. Kalopun mau selain air putih, yang disediakan adalah soju atau sake khas Korea. Selama berada di rumah makan di Korea, tidak sekalipun aku menemukan orang yang pesan/minum seperti teh manis, kopi, softdrink, dan sejenisnya.

Korea terkenal dengan kimchi, yaitu side dish yang terbuat dari sayur-sayuran yang diasinkan/diasamkan. Kimchi ini menu yang wajib disajikan di setiap makanan Korea. Kimchi yang umum kami temukan terbuat dari sawi putih dan lobak. Kami juga menemukan kimchi yang terbuat dari taoge, timun kubis dan  rumput laut. Biasanya ada 3 jenis kimchi yang disajikan di rumah makan Korea. Bila salah satu jenis kimchi tersebut sudah habis kita makan, biasanya pelayannya akan datang lagi membawa tambahan kimchi yang sudah habis tersebut. Free!

Makan di rumah makan Korea  juga harus disertai kuah. Jadi, bila aku pesan makanan yang ga pake kuah, misal pork cutlet, maka akan diberikan kuah tambahan. Tapi bila kita beli mie rebus, ya ga dikasih kuah tambahan lagi, heheheh.. satu lagi, rata-rata makanan itu disajikan panas dan biasanya dimakan panas-panas juga😀

Makanan favorit-ku adalah Bimbimbap. Ini adalah sejenis nasi rames yang terdiri dari nasi putih, beragam sayuran rebus, sedikit daging sapi, telur dan sambal khas. Untuk telur-nya bisa pilih telur mentah atau telur ceplok. Cara makannya seluruh isi dicampurbaurkan sampai tercampur dengan sempurna. Sesudah itu ya silahkan dimakan, hihihii.. sumpah, rasanya enak. Aku aja sampai makan bimbimbap 3 kali selama di Korea. Bimbimbap yang hot plate lebih enak. Dan aku so surprised menemukan bimbimbap porsi mini ada di 7 Eleven😉

Makanan khas Korea lainnya yang sempat kami cicipi adalah Samgyetang, yang porsi-nya luar biasa besarnya😀 Samgyetang terdiri satu ekor ayam muda yang isi perutnya sudah dibersihkan, lalu direbus dengan ginseng, kurma dan jujube. ‘Perut’ ayam yang sudah kosong itu diiisi dengan beras ketan. Menurut staff Zaza Hotel, samgyetang itu makanan yang baik untuk kesehatan. Saat makan samgyetang inilah aku baru tahu kalo ginseng rebus itu rasanya manis seperti kentang. Kami harus bayar 12.000 won untuk satu porsi samgyetang.

Makanan dari daging babi sudah pasti gampang didapatkan di Korea. Kak Roma pernah memesan pork cutlet. Lagi-lagi porsinya besar. Bayangkan daging babi tanpa tulang dengan ukuran cukup besar dibalur tepung dan digoreng kering sehingga terlihat so crispy, lalu diatasnya diguyur dengan saos khusus sebagai topping. Aku sempat cicip sepotong, so yummy. Harganya sekitar 7.000 won per porsi.

Dekat dengan Zaza Hotel ada rumah makan yang menjual ayam goreng khas korea, nama TwoowT (dari kata Two Two). Setiap melewati tempat itu tercium aroma gurih ayam goreng yang membuat air liur menitik. Dalam satu kesempatan, aku dan Kak Roma mencoba dine in di situ. Kami memesan ayam goreng dengan citarasa original, yang dari gambarnya terlihat seperti ayam goreng crispy-nya K*C. Kami juga pesan kentang goreng karena mereka tidak menyediakan nasi. Sambil menunggu pesanan disajikan, kami melihat-lihat sekeliling kami dan memperhatikan di semua meja yang ada pengunjungnya pasti ada botol bir. Jadi, minuman yang dipasangkan untuk menikmati ayam goreng ini adalah bir. Tidak ada yang minum air putih. Di sebelah meja kami ada sekelompok pria sepuh (kayaknya pensiunan deh..) yang asik ngobrol sambil ngemil kentang goreng dan segelas bir untuk masing-masing orang. Well, aku dan kak Roma ga nyaman untuk minum bir, jadi kami tetap minta air putih aja sebagai minuman kami😀

Saat pesanan diantarkan, kami terkejut melihat porsinya yang lagi-lagi banyak banget. Mengapa juga kami harus kaget ya? Padahal itu hari ke 5 kami berada di Korea, hahahah..seharusnya kami sudah terbiasa melihat porsi besar makanan.  Sepertinya para sesepuh di sebelah meja kami itu juga  bingung melihat kami memesan sebanyak itu. Akhirnya kami langsung menyisihkan setengah porsi untuk kami bawa pulang dan dijadikan sarapan keesokan harinya. Setengahnya lagi kami makan di tempat. And yes, rasanya maknyus sangat tuh ayam gorengnya.. Tapi pas bayarnya agak berat karena kami harus membayar 23.000 won untuk semua pesanan kami, heheheh.. #kalo di Jakarta dah dapat 2 paket keluarga K*C#.


Saat berada di kawasan Nami Island, kami mencoba makan di salah satu rumah makan yang ada di situ. Dengan bahasa tarzan, kami sukses memastikan makanan yang kami pesan adalah daging ayam. Mirip kayak makan di Han*m*sa, tapi kami pilih yang dipanggang saja.

Pelayan lalu mengantarkan ke meja kami kimchi, puluhan lembar daun selada hijau, potongan cabe hijau besar (tapi ga pedas), bawang putih mentah dalam potongan agak besar, dan saos. Di tengah meja ada tungku yang diisi arang membara untuk memanggang ayam. Di atas tungku itu lalu diletakkanlah 6 buah daging ayam tanpa tulang yang sudah diberi olesan khusus. Mulai deh pelayannya membolak-balik daging ayam tersebut biar terpanggang dengan sempurna. Jangan khawatir dengan asap yang timbul. Di langit-langit digantung’cerobong’ kecil yang bisa ditarik ulur yang berfungsi sebagai penghisap asap, sehingga asap yang muncul tidak akan menyebar kemana-mana di dalam ruangan. Setelah matang, maka daging ayam tersebut dipotong kecil dengan gunting khusus.

Cara makannya adalah ambil satu lembar daun selada, isi dengan potongan ayam yang sudah dicocol saos, potongan cabe hijau, potongan bawang putih (bila suka), sedikit kimchi. Lipat daun selada yang sudah diisi tersebut lalu happ.. masuk deh ke mulut. Akan timbul suara kriuk saat menggigit daun selada itu. Rasanya enak poll.. Daun selada itu sebagai pengganti nasi. Sehat benar!

Mie termasuk makanan standar yang gampang ditemukan, namun jarang kami menemukan mie goreng. Mie rebus disajikan dengan berbagai variasi isi. Ada seafood, mie hitam (yamin), sayuran, daging sapi, dan lain-lain. Hari pertama di Korea, aku langsung menyantap mie sebagai menu makan siang, hehehe.. Harga satu porsi mie rebus sekitar 5000 – 6000 won.

Kalo tidak terlalu lapar, cukup makan snack (kebanyakan digoreng) yang banyak tersedia di sepanjang jalan. Salah satunya yang sering ditemukan adalah rice cake yang satu porsinya cukup mengenyangkan dengan harga sekitar 1.000 won per porsi. Kalo mau lebih ‘berat’ lagi bisa coba sosis yang biasanya dibuat dari daging babi dengan harga sekitar 2.500 – 3.000 won . Untuk yang ini ga usah ditanyakan kelezatannya, hihihi.. Kadang, menu snack ini bisa jadi menu makan besar kalo kita pilih sekalian beberapa jenis. Kami pernah masuk ke salah satu warung tenda yang menjual beragam snack, dan memesan sushi, ubi goreng, pastel, udang, bakwan. Semua pesanan kami itu di goreng ulang (selain sushi) lalu dipotong-potong kemudian disajikan. Kalo makan di tempat, biasanya penjualnya memberikan minuman berupa kuah yang diambil dari kuah masakan rebus yang dia jual. Saat itu kami habis sekitar 17.000 won untuk pesanan lima orang.

Soju

Untuk minuman, seperti yang aku ceritakan di awal, kebanyakan di rumah makan hanya menyajikan air putih atau soju. Di malam pertama di Korea, kami membeli satu botol soju di supermarket. Setelah sampai di penginapan, kami minum deh soju itu, masing-masing orang mencoba sedikit dulu. Rasanya? Ga enak😦 seperti meminum alkohol pembersih luka. Di ’putaran’ kedua, aku coba minum langsung masuk ke kerongkongan tanpa tercecap di lidah, itu lebih baik. Tenggorokan langsung terasa hangat di tengah udara yang sangat dingin. Cukup malam itu saja minum soju, ga mau nyoba lagi.

Ada satu jenis softdrink yang cukup enak di lidahku yang terbuat dari ginseng ditambah madu. Untuk ukuran 250ml harganya sekitar 1.200 won. Sayang aku ga terpikir untuk membeli beberapa botol sebagai stock saat pulang ke Jakarta.

Demikian ceritaku untuk kuliner di Korea Selatan. Selanjutnya aku akan cerita tempat-tempat yang kami kunjungi selama di Seoul. Ciao!

 

-Bersambung-

2 responses »

  1. Pingback: Kilas Sebentar Trip 2011 « Ndepurba

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s