Mendadak Mudik: 2

Standard

9April2011 Sabtu siang Mamak menyuruh aku untuk menemani Kakak belanja barang di Pajak Sentral. Kalau sebelumnya pergi sama Kakak selalu dibonceng naik motor, kali ini naik mobil. Kakak sudah bisa nyetir mobil. Horee!!😀

Sabtu malam, setelah 4 jam berkeliling di Pasar Sentral dengan high-heels dan numpang mandi di rumah Kakak, aku pun kembali ke rumah sakit. Ternyata lagi ada kunjungan diakonia dari GBKP Bahagia. Waduh..kami malah tidak punya persediaan minuman untuk tamu yang membesuk😦 Jam 9 malam lebih, seorang temanku juga datang. Kakak, Mamak dan Tante senyum-senyum melihat kedatangan temanku ini.

Tujuan utamanya adalah bertemu dengan aku, namun sekalian mengunjungi Bapak. Dia membawakan buah untuk Bapak dan sebatang coklat untuk aku. Saat beberapa puluh jam kemudian aku mengucapkan sekali lagi terima kasih atas coklat-nya, dia menjawab ’kamu memang membutuhkannya. Coklat mengandung antidepresan, hehehe..’ Mungkin  dia tidak tahu kalo aku tidak begitu suka coklat batangan *lebih suka emas batangan, hihihi..* tapi aku sangat menghargai perhatiannya. How sweet he is😀

Selang 30 menit kemudian, mertua-nya Abang juga datang. Kenalan juga dengan temanku. Ga berapa lama temanku pamit pulang. Kakak dengan senyum dikulum menyarankan aku makan malam dulu sama temanku sambil ngobrol. Dalam hati, aku juga punya ide begitu :p

Kami akhirnya makan lo mie di rumah makan dekat rumah sakit. Aku baru memperhatikan bahwa model rambut temanku ini agak-agak gaul, ga seperti yang terakhir aku lihat tahun lalu. Hmm..

Dalam 1 jam dinner-date itu, kami update beberapa hal. Salah satunya kabar mengejutkan dari teman kami yang berpindah keyakinan karena harus menikahi pacarnya dalam keadaan hamil. Temanku itu mencoreng wajah orangtuanya dua kali.

Aku tetap nginap di rumah sakit sabtu malam itu. Untunglah keadaan Bapak sudah lebih baik, frekuensi batuknya sudah jauh berkurang dan diarenya juga dah mendingan. Aku hanya ingat terbangun 2 kali karena Bapak mau ke toilet. Tapi ga tau juga apa lebih dari 2 kali karena aku ketiduran saking lelahnya, hehehe..

10April2011 Hari minggu aku berharap bisa gereja dengan temanku yang semalam berkunjung, ternyata ga bisa. Rematik di kaki Mamak malah kumat. Untunglah masih ada persediaan obat cina yang biasa dikonsumsi Mamak untuk mengurangi nyeri rematik.

Menjelang jam 12 siang Abangku datang bersama istri dan Ghia, my only niece. Ghia ini rada unik, suka kagetan. Dia langsung nangis kalo ada orang yang jarang dilihatnya secara ekspresif menunjukkan perhatian ke dia. Ga tau nangis kaget atau nangis ketakutan. Hal yang sama terjadi padaku. Dia menangis kencang ketika aku secara refleks tersenyum dan menyapanya saat dia masuk ke kamar Bapak. Ada juga sih bagusnya dengan sifatnya ini, dia jadi susah diculik orang😀

Abangku mentransfer ke HP-ku beberapa foto Ghia mengenakan baju khas Korea yang aku beli sebagai hadiah ulangtahunnya yang ke-2 . Bajunya kebesaran, hehehhe.. Ghia senang kalo difoto, senyumnya mengembang.

Jam 1 siang mereka pamit. Ghia yang awalnya tidak mau aku dekati, akhirnya memberikan ciuman sayangnya yang lama di pipiku. Biringnya juga ga lupa dia cium sayang. Bahkan sempat juga dia ikut-ikutan memijat tangan Bulangnya saat dia lihat Abangku memijat punggung Bapak.

Setelah mereka pulang, Bapak tidur terus. Jam 3 sore aku mulai siap-siap packing untuk kembali ke Jakarta. Kakak yang akan mengantarkan aku ke Bandara. Kami mencoba rute Titi Kuning menuju Bandara, lumayan mempersingkat waktu tempuh. Aku minta Kakak untuk tidak usah menunggui aku, toh aku juga belum beli tiket.

Menuju loket Lion Air, beberapa calo mendekat menawarkan tiket. Sebelumnya temanku sudah memberi informasi harga beberapa maskapai untuk penerbangan jam 6 – 8 malam. Mencoba keberuntungan, aku bertanya ke petugas di counter Lion Air. Yang terdekat adalah jam 6 sore dengan harga yang lumayan mahal. Ada tawaran dari calo dengan harga yang lebih murah dan akan terbang dalam 30 menit. Akhirnya aku memutuskan beli tiket. Nama yang tertera di tiket adalah Nadeak Rumintan.

Ini kali pertama aku beli tiket pesawat dari calo. ’Sudah diurus itu semua kak, nanti Kakak bayar pas di ruang tunggu, kalo kakak dah mau masuk ke pesawat’ terang si Calo ketika melihat aku yang agak tidak yakin dengan keabsahan transaksi ini. Namun, si calo membuktikan ucapannya. Aku tidak perlu check-in sehingga tidak ada pencocokan data, tidak perlu bayar airport tax lagi karena mereka sudah belikan dari awal. Boarding sudah berjalan 15 menit, jadi aku harus buru-buru masuk ke pesawat. Aku pun membayar ke calo.

Setelah duduk di pesawat, aku baru kepikiran resiko yang bisa terjadi karena membeli dari calo. Bila terjadi sesuatu yang mengancam penerbangan ini, anggaplah pesawatnya jatuh, maka tidak akan ditemukan penumpang dengan namaku. Aku akan kehilangan hak asuransi. Serem.. buru-buru aku mengirimkan sms ke kakakku memberitahu aku terbang dengan pesawat lion air jam 5 sore. Namun aku tidak kasih tahu kalo aku beli dari calo, hehehe..

Rencana mau mengerjakan koreksi fiscal selama terbang hanya tinggal rencana. Aku memutuskan tidur, mataku ngantuk dan badan terasa lelah banget. Lamanya perjalanan tidak terasa karena aku benar-benar tidur. Kami pun mendarat di Bandara Soetha ontime, meskipun landing-nya agak berguncang. Thanks God.

Menikmati weekend yang berbeda. Bersyukur aku dikasih kesempatan merawat Bapak meski cuma 2 hari. Jarak dan keadaan membatasiku memberikan lebih kepada Bapak. Hope he could feel the love I send to him through my pray. Get well soon, Dad.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s