Mendadak Mudik: 1

Standard

Ada yang berbeda dengan mudik kemaren. Mudik yang somehow tidak direncanakan. Rada mendadak.

Berawal dari kabar yang kuterima hari Rabu, namun hingga Kamis malam aku belum bisa memastikan apakah aku bisa pulang ke Medan dengan segera. Aku rada ga enak hati minta cuti lagi walau hanya sehari, secara baru saja kemaren cuti satu minggu, padahal rekan kerja juga tidak keberatan bahkan mendorong aku pulang Jumat pagi aja. Akhirnya aku putuskan untuk pulang ke Medan Jumat sore. Ijin pulang cepat di hari Jumat.

8April2011 Aku beli tiket go show, dapat tiket citilink. Harga tiket di loket resmi Bandara lebih mahal 20rb dibanding harga di penjualan online. Bisa dimaklumi perbedaan harga tersebut.

Setelah check in, masih ada waktu 1 jam sebelum boarding. Di Terminal 1C hanya ada satu lounge, yaitu ElJohn Lounge. Semua kartu kredit yang aku bawa saat itu tidak ada yang bisa dipake, karena tuh Lounge baru bekerja sama dengan A*Z Bank.

Tampak beberapa marketing A*Z Bank di depan pintu lounge menawarkan aplikasi kartu kredit. Cukup dengan mengisi aplikasi kartu kredit A*Z maka bisa gratis masuk ke lounge tersebut. Risih aku dipanggil dengan sebutan Bunda😦 Baiklah, aku mengaku. Demi semangkuk bubur kacang ijo dan teman-temannya, akhirnya aku pun meng-apply kartu kredit A*Z tersebut, hihihi..

Pada awal pengisian data, marketing-nya juga menawarkan aplikasi kartu kredit dari Bank lain, yang ternyata aku dah punya. Double agent ternyata.. atau jangan-jangan multi agent, heheheh.. Benar-benar mereka mengoptimalkan kesempatan yang ada.

Berangkat ontime, aku dapat tempat duduk di dekat jendela. Teman sebelah kursi-ku saat itu seorang pria bersama dengan 3 orang keluarganya. Ternyata mereka baru pertama kali ke Medan. Sayangnya, mereka ga bisa berwisata ke beberapa tempat di medan karena hari Minggu mereka sudah harus kembali ke Jakarta. Tapi itu bukan alasan untuk tidak memperkenalkan beberapa tempat wisata di Tano Batak, seperti Taman Simalem dan Salib Kasih. Netbook yang kebetulan sudah aku buka setelah lepas landas langsung aku obrak abrik untuk mencari foto-foto liburan Tano Batak tahun lalu. Wah, aku tau dia langsung tertarik ketika melihat rangkaian foto-foto itu. Topik obrolan berkembang menjadi macetnya Jakarta, sistem operator telekomunikasi di Indonesia dan Belanda, proyek fly-over depan Ambasaddor, dll. Tak terasa 2 jam terlewati dan kamipun mendarat mulus di Polonia.

Sebelum turun, aku kenalan dengan istri Mas ini, namanya Mbak Mia. Aku mengucapkan selamat menikmati Medan. Setelah sampai di dalam ruangan Bandara, aku baru sadar tidak tahu nama Mas itu siapa, hehehhe.

Abangku yang menjemput ternyata sudah sampai Polonia 15 menit sebelum aku mendarat. Kami pun langsung menuju rumah sakit. Inilah alasan mengapa aku pulang mendadak.

Para anggota di keluarga intiku, kedua orangtuaku dan ketiga anaknya, jarang ada yang sakit parah. Paling kena batuk-flu-demam yang bisa disembuhkan dengan minum obat yang dijual bebas dan beristirahat beberapa hari. Alhamdulilah Puji Tuhan, keluarga kami diberikan kesehatan yang baik. Belum ada yang harus dirawat inap di rumah sakit, hingga Rabu kemaren.

Ya, dari Rabu kemaren Bapak dirawat di rumah sakit. Ini kali pertama Bapak opname di rumah sakit sejak dia lahir ke dunia ini 68 tahun yang lalu. Dari awal tahun 2011 Bapak dah mulai sering batuk. Tapi ya itu, minum obat dan istirahat, pulih kembali. Namun sejak 3 minggu yang lalu, batuknya tidak berhenti-henti, tenggorokannya mulai susah menelan makanan dan kehilangan selera makan. Dia butuh tenaga luar biasa untuk mengeluarkan sputum (dahak). Selama sputum itu belum keluar, selama itu pula gatal di tenggorokan dan batuk itu menyerangnya. Akibat tidak bisa ada asupan makanan yang bisa masuk ke tubuhnya, kami memaksa Bapak untuk diopname di rumah sakit. Ada infeksi di paru-paru dan kadar gula Bapak agak tinggi saat itu.

Sedih hatiku melihat keadaan Bapak. Badannya makin kurus (apalagi kalo dibandingkan ke aku, hik..hiks..). Beliau yang biasanya ga bisa diam, harus selalu mengerjakan sesuatu, sekarang terpaksa terbaring di tempat tidur, dibatasi geraknya oleh infus yang menancap ditangannya. Makin sedih lagi ketika batuk itu menyerangnya. Tubuhnya terguncang-guncang setiap kali Bapak memaksa keluar sputum itu keluar dari tubuhnya.

Bapak bukanlah orang manja, i know that for sure. Dia selalu ‘marah’ bila ada di antara kami mau bantu membawakan infusnya kalo Bapak ingin ke toilet. Kadang Bapak minta dipijat leher, kaki dan tangannya karena terasa pegal, tapi itu pun jarang.

Malam pertama nginap di rumah sakit untuk menemani Mamak menjaga Bapak, aku sama sekali tidak bisa tidur. Malam itu Bapak kena diare, mungkin karena reaksi berbagai obat yang dia makan. Diare dan batuknya bahu membahu membuat ulah. Kalo batuk menyerang, maka aku harus ‘memukul-mukul’ punggung Bapak untuk memudahkan jalan keluar sputum itu. Selesai batuk, pasti Bapak jadi mules dan harus ke toilet. Begitu juga sebaliknya. Kalo perut-nya mules, pasti setelah itu batuk menyerangnya. Setiap jam sepanjang malam itu Bapak ke toilet karena diare.

AC di kamar tidak boleh dinyalakan karena Bapak dan Mamak pasti kedinginan walau di-set di suhu 30 derajat, sementara jendela kamar juga tidak boleh dibuka takut angin malam membuat batuk Bapak makin parah. Serasa di sauna gerahnya. Jam 4 subuh ada suara ribut dari kamar sebelah. Ternyata pasien di kamar tersebut drop. Suara isak tangis mulai terdengar. Samar-samar aku mendengar suster yang bilang pasien sebelah kamar sudah ’pergi’.

-Bersambung-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s