Anggaran Baru

Standard

Sejak pertengahan Desember 2010, pembukuan keuangan pribadiku agak kacau, dan akhirnya malah terlantar hampir 3 bulan. Sabtu kemaren, aku mulai lagi mencatat detail pengeluaranku dan merevisi anggaran pengeluaran untuk tahun 2011 ini. Mengapa direvisi? Karena ada akun pengeluaran yang bertambah, sementara pemasukan tetap. Berikut ini perbandingannya:

Expenditure

2011

2010

Diff

Daily Needs

14.14%

23.30%

-9.16%

Investment + Saving

32.14%

31.20%

0.94%

KPR

27.50%

17.00%

10.50%

Thankful Donation / Gift

22.00%

18.50%

3.50%

Leisure Time + Others

4.22%

10.00%

-5.78%

Total

100.00%

100.00%

 

Bila dilihat tabel di atas, ada penambahan cukup signifikan di akun KPR. Berhubung pemasukan tetap, maka harus ada anggaran akun lain yang harus dikurangi untuk menutupi penambahan akun KPR tersebut. Sebenarnya boleh saja menganggap KPR tersebut bagian dari investasi, sehingga sah-sah aja rasanya untuk mengurangi akun investasi menjadi sekitar 9%. Namun karena aku sudah ada ’komitmen’ investasi yang bila dilanggar menimbulkan sanksi, maka akun yang memiliki difference negatif (-) menjadi ’korban’ pemotongan anggaran.

Apa kira-kira yang terpaksa kulakukan untuk memotong anggaran akun yang jadi korban?

  1. Daily Needs: terdiri dari uang kost, makan, transportasi. Kiat yang bisa dipakai antara lain kembali mencuci sendiri pakaian yang biasanya di-laundry (kiloan), kecuali untuk seprei, handuk dan jeans *berat coy nyucinya*. Kebiasaan bawa bekal lunch pas hari kerja dipertahankan. Pas wiken, kalo mau nongkrong ama teman, makan siang dulu di kost. Makan malam juga kalo bisa diusahakan di kost saja. Kurangi frekuensi naik ojek ke kantor, ini berarti harus bangun lebih pagi. Taxi bisa diganti dengan busway (pas wiken) apabila tempat yang dituju dilalui jalur busway.
  2. Leisure Time + Others: mengurangi frekuensi nonton di bioskop. Seharusnya ini bisa berhasil karena film-film holywood lagi di-block untuk sementara di bioskop kesayanganku.  Selain itu harus mempertimbangkan dengan matang ketika membeli sesuatu, harus dianalisa sesuatu itu kebutuhan atau keinginan. Misal ketika mau beli baju, harus memutuskan baju mana dari lemari yang harus disingkirkan.

— // —

Pas payday minggu lalu, tambahan saldo di bank-ku agak lebih dari biasanya. Hmm.. bonus 2010 akhirnya cair juga. Dari awal bulan, beberapa orang (termasuk aku) sudah mulai berencana dan berhitung mau dikemanain bonus ini. Mau tahu apa yang ingin aku lakukan? Bonus itu sebagian mau dipakai sebagai saldo awal ‘tabungan Brazil 2014’ dan sisanya untuk beli mic karaoke😀

Aku suka menyanyi dan sudah banyak yang bilang suaraku lumayan indah *plakkk.. dikeplak mic*, dan karaoke menjadi sarana yang tepat untuk menyalurkan hobiku ini. Sayangnya teman-temanku maen merasa biasa aja dengan karaoke ini, bahkan cenderung lebih memilih ngobrol+ngopi di cafe daripada karaoke. Nah, dengan memiliki mic karaoke ini, aku bisa memuaskan hobi bernyanyiku tanpa harus memaksa teman untuk ikut karaoke.

Pertama kali aku melihat (dan menggunakan) mic karaoke ini saat Finance gathering tahun 2006. Seorang teman kantor membawanya.. Hanya dengan dua mic yang di dalamnya sudah dipasang beberapa chip berisi lagu-lagu, maka kami sudah bisa ber-karaoke. Ada score-nya juga! Selain itu, mic ini bisa dibawa kemana-mana karena enteng dan ga ribet. Artinya aku bisa membawa alat ini pas mudik. So, ortuku bisa ikutan menyanyi juga🙂

Sebenarnya keinginan membeli mic karaoke ini sudah ada sejak tahun 2007, tapi aku tak berhasil mendapat informasi di mana bisa membelinya. Awal bulan Februari 2011, seorang teman menunjukkan website penjualan mic ini, bahkan juga ada di ebay. Harganya sekitar USD300.

Aku sudah memutuskan untuk membeli barang ini, namun belakangan mengetahui perusahaan tersebut tidak melakukan penjualan ke Indonesia. Kemudian menemukan ada penjual lain yang melayani pengiriman barang ke Indonesia, namun biaya kirimnya USD60. Berarti total yang aku keluarkan USD360.

Aku kembali berhitung. Asumsi kurs Rp 10rb/USD, maka harga mic karaoke tersebut adalah Rp 3,6 juta. Bila satu kali karaoke biasanya kena 50rb (sharing cost di luar uang makan minum), maka dengan 3.6 juta itu aku bisa karaoke 72 kali. Asumsi sebulan hanya karaoke 1x, berarti aku membayar di depan karaoke untuk 6 tahun ke depan. Mungkin kurang dari 6 tahun ya, karena 2-3 tahun ke depan, biaya satu kali karaoke menjadi 60rb – 75rb karena inflasi dan faktor lainnya.

Karaoke adalah kegiatan yang termasuk dalam akun Leisure + Fun. Bila aku jadi beli mic karaoke, maka rencanaku mengurangi anggaran Leisure + Fun semakin dapat direalisasikan. Duhh… aku jadi bingung..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s