Asa Yang Semu

Standard

Satu ketika, aku memberi pendapat (kalo ga bisa dibilang nasehat) kepada seorang teman. Dia, sebut saja S, seorang pria yang memiliki hati baik kepada semua teman wanitanya.  Saat itu ada seorang wanita(W) yang dengan sangat jelas memberi sinyal punya hati kepada S, namun sayangnya S hanya ingin berteman.

Hingga saat ini hubungan mereka masih baik, dan belum ada’penembakan’ atau pun penolakan yang terjadi.  ’Aku harap dia mengerti bahwa aku hanya ingin berteman. Untuk dekat ga harus pacaran kan?’ jawab dan tanya S ketika aku menanyakan bagaimana sebenarnya status hubungan mereka.

S selalu bersikap baik kepada W, diajak jalan ayo.. diajak nonton ayo, diajak makan berdua ayo.. Aku agak keberatan dengan sikap S ini. Menurut pandanganku, apa yang dilakukan S itu seperti memberi harapan pada W bahwa mereka punya kesempatan untuk jadian. Aku takut W terluka, bila akhirnya S memutuskan tetap berteman saja.

It hurts like hell, ketika itu ternyata hanya harapan semu’ ungkapku pada S atas sikap baiknya kepada W.

Beberapa waktu berlalu sejak aku bilang tentang harapan semu, tanpa kusadari ternyata aku juga melakukan apa yang dilakukan S. Memberi harapan semu bagi N, seorang pria yang aku kenal dari masa lalu.

Setelah bertahun-tahun tak pernah kontak, kami bertemu lagi. Lalu N mengucapkan cinta, dan aku pertimbangkan. Namun pada akhirnya aku bilang sebaiknya kami berteman saja. N bilang dia baik-baik saja dengan keputusanku itu, hanya saja sejak itu kuantitas komunikasi kami langsung berkurang. Kami hanya ber-sms-an sesekali saja.

Di satu senja, aku mengirimkan pesan singkat pada N, mengabarkan aku akan ke kota tempat dia tinggal. Ntah kenapa aku harus memberitahunya tentang rencana yang masih jauh dari harinya ini. Dia membalas. Aku jawab lagi. Begitu seterusnya. Sampai pada satu titik aku tersadar, aku membangun harapan semu baginya, menyiapkan neraka bagi perasaannya.

Hai N, bila engkau membaca tulisan ini, aku minta maaf. Aku tak sengaja. Aku berharap aku hanya ge-er dengan perhatianmu, tapi tetap aku tidak bisa menepis pemikiran kalau engkau masih berharap padaku. Bila belakangan aku membalas sesekali saja sms yang kau kirim, itu tanda aku ingin memudarkan harapan itu. Aku harap engkau mengerti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s