Bukan Usia Yang Sia-Sia

Standard

Jumat lalu, aku membaca tulisan seseorang di salah satu milis yang aku ikuti. Dia menceritakan kesedihannya karena seorang temannya mati muda karena kanker. Hal ini juga membuatnya teringat akan Mas Frans, yang juga mati muda karena menjadi korban pada saat kecelakaan Lion Air di Solo tahun 2004 silam.

Kenangan atas sosok Frans yang tertuang dalam tulisannya, sontak berhasil memunculkan keharuan bagi hampir semua anggota milis yang sempat mengenal pribadi Frans, termasuk aku. Dia menceritakan kerap ’menangkap basah’ Mas Frans sedang berlutut berdoa di tengah malam, bahkan sambil menangis. Di lain waktu, dia bisa mendengarkan pelan petikan gitar yang dimainkan Mas Frans dari dalam kamarnya. Ya, Mas Frans sangat pawai bermain gitar. Dia adalah gitaris andalan kami ketika saatnya persekutuan tiba.

Satu per satu anggota milis pun mulai mengungkapkan pendapat mereka terhadap sosok Mas Frans. Semuanya baik. Bahkan ada yang masih sering menceritakan tentang Mas Frans kepada teman-teman barunya. Ini caranya memelihara kenangan baik tentang Mas Frans.

Bukan hal yang mudah bagi orangtua untuk mengantarkan anaknya ke pemakaman karena normalnya yang terjadi adalah hal yang sebaliknya. Besarlah hati orangtua Mas Frans ketika sahabat-sahabatnya menyampaikan apa yang mereka saksikan tentang anak laki-lakinya itu. Laki-laki yang mencintai Tuhan dengan sangat. Anak yang kelak akan menjadi kebanggaannya saat berhadapan dengan Tuhan. Sebagai orangtua, mereka sudah berhasil menjalankan tanggung jawab mereka.

Mengapa harus ada orang yang mati muda? Seorang teman mengatakan ’agar dia tetap masuk surga. Bila dibiarkan lebih lama, dia bisa masuk neraka’. Benar adanya usia itu misteri ilahi. Ada yang benar-benar menjalankan hidup sehat, namun tidak diijinkan masuk ke dalam tahun 2011. Ada yang sudah sakit-sakitan sekian tahun lamanya, namun masih bertahan di dunia hingga sekarang.

Pada saat berulang tahun ke-20, seorang teman menghadiahkan aku sebuah buku berjudul ’16, bukan usia yang sia-sia’. Buku terjemahan yang menceritakan kisah nyata seorang Ibu yang harus kehilangan anak gadisnya yang berumur 16 tahun dalam sebuah kecelakaan mobil. Buku yang sukses membuat saya berlinangan air mata. Ibu ini tidak menduga sama sekali bahwa anak gadisnya yang masih sangat muda itu ternyata memiliki iman yang besar dan karakter baik yang berhasil membawa perubahan positif kepada teman-teman dan lingkungannya. Buku yang membukakan mata saya betapa kita bisa menjadi duta Tuhan untuk menyebarkan kebaikan dan membawa sekitar kita lebih mencintai Tuhan.

Bicara tentang usia berarti bicara tentang kehidupan. Apa artinya kehidupan? Bukan panjang pendek umur yang menjadi intinya, namun apa yang diisi dalam masa kehidupan yang diberikan, itu yang lebih penting. Jika di pagi hari aku membuka mata dan mendapatkan diriku masih di dunia, ini berarti masih ada kesempatan untuk menyebarkan kebaikanNya bagi sekitarku. Mari jadikan hidup ini berarti.

—//—

Tulisan ini juga dipersembahkan untuk temanku: Irma Rajagukguk, yang kehilangan adik laki-lakinya (26 tahun) pada tanggal 29 Januari 2011 karena gagal ginjal selama 7 tahun. Semangat dan harapan adiknya untuk tetap bertahan selama 7 tahun menggambarkan mujizat yang dihasilkan dari sebuah harapan, the power of hope.

One response »

  1. Baru tahu “ketangkap basah”nya Frans dari blogmu, dek….Kalo orang lain menangkap basah diri kita seperti apa ya? Semoga yang berkenan di hadapanNya. He..he..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s