Buta

Standard

Cinta itu buta. Itulah jawaban yang diberikan temanku, cowok, yang aku mintai tolong untuk ’menyingkirkan’ temannya yang sungguh mengganggu dari kehidupanku. Dia lebih suka mentraktir aku daripada menyuruh temannya itu berhenti menggangguku. Alasannya: orang yang lagi cinta buta susah disuruh berhenti. Meskipun mungkin temanku ini sedikit bercanda, tapi seandainya dia mau sedikit susah, dia bisa menyelamatkan temannya itu. Kebutaan hati yang dipelihara, bisa membuat orang tersebut mati.

Jadi ingat, aku pernah berurusan dengan annoying person semacam ini zaman masih pake seragam abu-abu. Hmmm.. Sebut aja namanya BG, seorang cowok belasan tahun (saat itu) yang sangat-sangat terobsesi ingin menjadi pacarku. Saking terobsesi-nya, sampai-sampai dia merasa aku adalah mantan pacarnya. Dan itulah yang dia ceritakan kepada orang-orang yang dia temui yang kebetulan satu alumni atau satu gereja denganku. Padahal kami tidak pernah jadian.

Seharusnya semakin dewasa BG semakin arif ya… tapi kok ya setelah banyak tahun berlalu dan kami sangat jarang bertemu karena aku merantau, dia tetapp dengan statement-nya: aku adalah mantannya.

Hingga satu hari BG kena batunya.

Rumah BG dekat dengan rumah ortu-ku sekarang, dan ternyata dia sering belanja di toko ortu. Satu hari dia ngajak Mamak-ku (MM) ngobrol dan tibalah pada percakapan berikut:

BG:      Bibi gereja di mana?

MM:    oh, aku gereja di GBKP xyz

BG:      GBKP xyz? Adalah dulu mantan pacarku di situ..

MM:    O ya? Siapa nama mantan adik itu?

BG:      *nyebut nama aku dengan lengkap*

MM:    Anakku itu!! *teriak*

Hahahahhah… Aku ketawa terpingkal-pingkal ketika mendengar Mamak menceritakan itu melalui telepon. Kebayang ga sih gimana malu-nya BG ketahuan bohong di depan muka Mamak-ku :D  Tapi, ternyata si BG cuma malu bentar (atau benar-benar ga merasa malu), karena sejak hari itu dia malah panggil Mamak-ku dengan sebutan Mami. Ck..ck…ck…

Sudah lama ga bertemu dengan BG, lama tidak mengetahui kabarnya. Semoga dia sudah menikah dan lebih berbahagia. Amin.

—//—

Balik kepada kasus sekarang, ini lebih parah. Kenapa? Karena dia ga ngerti bahasa Indonesia, kali.. Aku sudah bilang tidak suka berkali-kali, tetap aja sms/telp dan email. Keputusanku untuk tidak merespon sms/email/telp darinya tetap tidak bisa dia baca sebagai sebuah tanda ’saya tidak suka Anda’. Malah makin berani dengan memakai alamat email-ku tanpa izin. Aku meradang. Beberapa teman mengusulkan untuk melaporkan ini ke Polisi. Usul yang aku pertimbangkan dan aku pun mulai menyimpan sms-sms yang dia kirim.

Jumlah sms yang dikirim sudah berkurang, tapi tidak berarti isi sms-nya jadi bermutu. Kebanyakan berisi pernyataan yang bikin aku, sebagai perempuan, merasa dilecehkan. Aku pikir, aku tidak layak diperlakukan seperti ini. Aku mulai merespon sms-nya dan menjawab teleponnya. Melalui sms dan telepon aku tegaskan lagi apa yang kurasakan dan apa yang aku inginkan. ‘Saya tidak suka Anda, jangan hubungi saya lagi melalui media apapun‘. Semuanya aku simpan sebagai bukti.

Terakhir dia bilang, ’marah banget ya sama aku?’

See.. Dia memang tidak mengerti bahasa Indonesia. *pantesan ga kerja-kerja*.

Ahh… kenapa sih harus bertemu lagi dengan orang yang sulit dan keras kepala (kalo ga bisa dibilang sinting) dalam soal perasaan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s