Ujung Genteng

Standard

Akhirnya kesampaian juga main ke Ujung Genteng. Berikut oleh-oleh ceritanya yang sangat panjang ^_^

Aku ke Ujung Genteng wiken tanggal 10-12 Desember 2010, join trip dari Jejakaki, Trip Organizer yang sama waktu aku ke Kawah Ijen di bulan Agustus yang lalu. Irma, teman kantorku, juga ikutan kali ini. Kami berangkat dari Senayan jam 9 malam ditemani rintik-rintik hujan.

Jauh-jauh hari, sudah ada teman yang mengingatkan untuk siap-siap antimo karena jalan menuju Ujung Genteng rada ’parah’. Aku menduga jalannya berlobang-lobang gitu, so aku pikir ga bakal mabok darat. Ternyata jalanannya mulus tapi berkelok-kelok. Nah, kelokannya itu tuh yang bikin aku mual, sehingga akhirnya di tengah perjalanan meminta antimo ke panitia🙂

Ketika efek antimo sedang berada di level tertinggi, antara sadar dan tidak sadar aku mendengar ada berita longsor di jalur jalan yang akan kami lalui. Padahal bis kami tinggal berjarak 2 jam lagi ke Curug Cikaso, objek kunjungan pertama kami. Akhirnya terpaksa putar balik dan mengambil jalur melalui Sukabumi. Gara-gara kejadian ini, kami molor 4 jam dari skedul yang ditetapkan😦

Sabtu 11 Des 2010, jam 8.30 pagi, kami sampai di perhentian pertama. Seluruh peserta sarapan dulu. Menunya nasi goreng pake telur ceplok. Nasi gorengnya udah dingin. Aku masih nambah satu pisang goreng dan segelas kopi susu. Hujan gerimis.

Untuk menuju Curug (air terjun) Cikaso ini harus naik sampan menyusuri sungai sekitar 5 menit. Air sungai berwarna coklat dan debitnya lagi tinggi. Ini karena hujan yang turun dari semalam. Hampir semua peserta menggunakan celana pendek.

Kami disambut dengan gemuruh suara air terjun. Curug Cikaso memiliki 3 air terjun yang berdampingan. Para peserta sudah asik dengan kegiatannya masing-masing. Yang bawa kamera sibuk memotret sana sini, yang narsis sibuk bergaya dan minta dipotret. Saling melengkapi😀 Aku ga banyak ambil foto di tempat ini. Angin yang cukup kencang membawakan lumayan banyak butir air ke arah kami yang berada sekitar 100 meter dari air terjun. Aku takut kameraku rusak kena butiran air itu. Ditambah lagi hujan gerimis, sehingga rada repot memotret sambil juga memegang payung😀

Setelah cukup puas berada di Curug Cikaso, kami kembali ke bis. Seandainya kami ga molor, seharusnya kami akan menuju Curug Cigangsa dan Amanda Ratu. Dua tempat ini terpaksa di-skip. Kami langsung menuju Pondok Hexa, tempat kami akan menginap. Ada air menggenang di sekitar penginapan. Jauh-jauh pergi dari Jakarta, ketemu banjir juga, he he he…

Setibanya di Pondok Hexa, makan siang sedang disiapkan. Menu makan siang kali ini terdiri dari ayam goreng, cumi goreng, lalapan dan sayur asam. Sambil makan, panitia mengumumkan pembagian kamar. Tentu saja aku satu kamar dengan Irma😀

Selesai makan, aku menuju pantai yang ada di depan penginapan. Angin berhembus cukup kencang dan ombak pantai terlihat cukup besar. Tidak terlihat ada aktivitas di pantai. Sepi. Aku mengambil beberapa foto di situ. Pada saat yang bersamaan ternyata lagi ada sesi perkenalan di ruang makan. Yakkk.. aku kelewatan deh😀

Kamar yang peserta tempati cukup besar. Satu kamar untuk dua orang, double bed, kamar mandi dalam dan ada AC. TV ada di ruang tamu dan hanya menangkap siaran S*TV.

Jam 3 sore, para peserta kembali berkumpul di ruang makan. Kami akan ke Pantai Pangumbahan dan Pantai Cipanarikan. Untuk sampai ke 2 pantai ini kami harus menggunakan jasa ojek alias naik motor. No problemo. Aku dah sering (banget) naik ojek. Yang tak disangka adalah kondisi jalanannya yang  90% becek, berlumpur dan kadang ada kubangan air. Konvoy 30 ojek sore hari itu lumayan seru. Ada satu orang peserta, om bule, yang baru pertama kali naik ojek dan langsung mendapatkan pengalaman menegangkan seperti ini. Mudah-mudahan ga kapok ya Om ^_^

Pantai Cipanarikan menurutku sih biasa aja, pemandangannya ya selayaknya pantai-pantai pada umumnya. Kami tidak jadi menunggu sunset, karena kami harus kembali ke Pantai Pangumbahan untuk melihat aktivitas melepas tukik (bayi penyu) ke pantai. Sebelum meninggalkan pantai Cipanarikan, kami minum air kelapa dulu langsung dari buahnya. Segar.

Menjelang matahari terbenam kami telah berada di tepi Pantai Pangumbahan untuk melepas puluhan tukik. Lucu sekali melihat binatang kecil itu merayap di atas pasir menuju air pantai. Menurut pengawas di tempat itu, dari puluhan tukik yang dilepas ke pantai, mungkin hanya 2-4 tukik saja yang bisa bertahan dan menjadi dewasa. Selebihnya dimangsa binatang yang ada di pantai.

Ujung Genteng, 11 Dec 201o

Salah satu kegiatan yang biasanya ditawarkan dalam trip Ujung Genteng adalah melihat penyu bertelur di malam hari. Penyu di Ujung Genteng ini berukuran sangat besar dan termasuk jenis yang dilindungi karena populasinya yang menuju langka. Oleh Jejakaki, kegiatan menonton penyu bertelur menjadi optional, karena sebeanrnya kegiatan menonton proses penyu bertelur mengganggu si penyu. Bertelur itu kan kegiatan yang sangat pribadi.Untungnya, tidak ada peserta yang mau lihat penyu bertelur. Selaian karena alasan mengganggu penyu tadi, mungkin juga karena tidak mampu membayangkan naik ojek lagi dengan kondisi jalanan parah di malam hari😀

Hari menjelang malam ketika kami kembali ke penginapan. Selesai mandi, ya makan lagi. Menu dinner-nya ikan saos asam manis, bihun goreng dan sop sosis. Rasanya sih standar aja. Selesai makan masih ngobrol-ngobrol sebentar dan Irma kembali digodain, heheheh.

Masih jam 8 malam dan ga tau mau ngapain. Mau tidur, belum ngantuk. Pengen kopi, tapi ’kantin’ penginapan dah tutup. Akhirnya aku dan Irma beli kopi seduh di warung depan penginapan. Sebelumnya sudah meminta pengelola penginapan untuk mencari tukang pijat. Irma pengen dipijat punggung dan kepalanya, sedangkan aku pengen pijat kaki🙂

Aku meringis kesakitan dan harus menggigit handuk agar jangan sampai teriak ketika daerah sekitar kelingking kaki kananku dipijat sama Ibu pijat. Yup, sejak jatuh 3 minggu yang lalu, kakiku masih sakit. Aku sih yang bandel, menunda-nunda terus pergi ke tukang pijat. Kata Ibu pijat, urat di sekitar kelingking-ku terasa keras. Aku hanya mampu bertahan 20 menit menahan sakit, dan Ibu pijat mengakhiri sesi pijatku karena mungkin kasihan melihat ekspresi mukaku. Ternyata pijatan Ibu pijat cukup manjur, karena saat bangun keesokan paginya, kakiku terasa lebih enak.

Minggu pagi, setelah selesai sarapan nasi goreng (lagi), kami pergi ke pasar ikan. Pasarnya sudah sepi, ikan yang dijualpun tinggal sedikit. Kami kesiangan sepertinya. Padahal aku pengen beli anak ikan hiu untuk digoreng dan langsung dimakan, heheheh.

Dari pasar ikan kami bergerak ke Pantai Aquarium dengan menyusuri hutan yang dijadikan cagar alam. Di tengah hutan, ada pohon tumbang. Ternyata tadi malam ada badai. Aku ingat melihat Irma mengintip dari balik jendela kamar subuh tadi karena mendengar suara angin yang sangat kencang. Irma bahkan sempat berpikir kalo sampai terjadi tsunami, kami duluan yang tersapu karena kamar kami berada paling dekat dengan pantai😀

Keluar dari hutan, kami melihat hamparan pantai Aquarium di depan kami. Pantai lagi surut. Ian, salah satu peserta trip, sudah berjalan jauh ke tengah pantai. Tak mau ketinggalan, aku dan Irma menyusulnya. Ternyata kami cukup jauh jalan ke tengah, and yes bisa narsis berfoto tanpa perlu merasa malu karena ga dilihatin orang lain, hehehe..

Puas foto-foto, kami kembali ke penginapan untuk makan siang dan check out. Trip akan segera berakhir. Dalam perjalanan pulang, kami mampir dulu ke Amanda Ratu Resort, yang seharusnya kami datangi kemaren, yaitu sebuah lokasi penginapan di Ujung Genteng yang cukup terkenal karena memiliki pemandangan separti Tanah Lot Bali. Saat kami datang sepertinya hanya sedikit tamu yang menginap, kebanyakan hanya sekedar mampir seperti yang kami lakukan. Pas lagi santai karena dah males foto-foto, datanglah Bapak penjual es krim. Tidak perlu waktu lama untuk memindahkan es krim – es krim itu dari wadahnya ke perut kami, heheheh..

Perjalanan pulang dilanjutkan. Musik karaoke dimainkan. Si Ian ternyata doyan nyanyi, suaranya juga lumayan. Lagu Keong Racun juga sukses dinyanyikan oleh Eva, sang tour leader. Trus kita satu bis rame-rame menyanyikan lagu ‘cari pacar lagi’ yang dipopulerkan Wali. Seru deh😀

Untuk perjalanan pulang ini kami mengambil rute melalui jalan bekas kena longsor yang seharusnya kami lewati semalam. Perutku mual lagi karena jalan yang berkelok-kelok. Tapi kali ini aku ga mau minum antimo lagi, diganti dengan sesekali mencium aroma ke botol balsem. Mujarab ternyata😀

Di dekat daerah Ciawi kami berhenti lagi untuk makan malam. Kali ini bayar masing-masing. Empat orang di mejaku, semuanya pesan soto ayam. Alasannya biar masaknya cepat. Ternyata ada satu peserta, si Fitri, yang tumbang karena diare😦 Kami jadi agak lama di rumah makan karena menunggu Fitri pulih dulu sedikit.

Jam 22.00 kami akhirnya tiba kembali di Senayan Jakarta. Aku dan Ria yang kebetulan tinggalnya di daerah yang sama, pulang dengan nebeng mobilnya Bowo. Sampai kost jam 22.30, unpacking, transfer foto dari kamera ke laptop, mandi dan akhirnya bobok. Trip berakhir sudah😀

Total kerusakan sebesar 745 ribu dengan rincian:

Biaya Trip Jejakaki: 645rb

Taxi to Senayan: 20rb

Kopi + Snack: 25rb

Pijat: 25rb

Makan Malam: 30rb.

Sampai bertemu di laporan trip selanjutnya ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s