Tentang Ita

Standard

Namanya Yunita, dipanggil Ita. Teman satu kost. Kamarnya cuma beda satu kamar dari kamarku. Kami sering bertemu di pagi hari di dapur, di mana dia sedang membuat sarapan kesukaannya – roti bakar ditaburi keju parut yang sangat banyak di atasnya – dan aku baru mau mandi atau baru selesai mandi. Kadang kami ngobrol sebentar, seringnya hanya saling melempar senyum. Kami memiliki kesukaan yang sama, suka minum kopi 3 in 1😀 Tapi kami ga pernah ngopi bareng.

Satu bulan yang lalu, Ibu bilang kalau Ita sakit. Ngomongnya jadi gagu. Kami menduga Ita kena stroke. Aku sempat mengantarkan buah ke kamarnya dan melihat Ita yang bicara terpatah-patah, sangat lambat. Bukan Ita yang biasanya😦

Sehari sebelum Idul Adha, Ita masih sempat mengirimkan joke via bbm padaku tentang kambing yang akan jadi korban pada hari raya Idul Adha. Aku menanggapi dengan kata ’ha..ha..ha..’

Sabtu, 20 November 2010, Ita berangkat ke Tegal Purwokerto untuk pengobatan alternatif ditemani Ibu dan orangtuanya. Di hari itu aku baru tahu kalau ternyata Ita kena tumor otak. Tidak lama di Tegal Purwokerto, Ita pulang ke rumah ortunya di Pekalongan untuk istirahat. Aku masih sempat berbalasan pesan dengan Ita di bbm. ’Doakan aku ya Mbak’, begitu pintanya.

Seminggu di Pekalongan, Ita kembali ke Jakarta untuk mengurus perpanjangan cutinya. Dia memilih menginap di rumah kakaknya. Saat itu kondisi Ita mulai menurun. Handphone miliknya sudah dipegang oleh adiknya. Semakin parah, akhirnya Ita dilarikan ke RSAD Gatot Subroto. Perkembangan kondisi Ita di-update terus oleh adiknya kepada seorang teman kost yang lain.

Sabtu 5 Desember 2010, beberapa teman kost mengunjungi Ita di rumah sakit. Aku tidak bisa ikut karena dari siang sampai sore akan menghadiri pemberkatan teman. Dari cerita teman-teman yang mengunjunginya, kondisi Ita sudah membaik. Dia sudah bisa makan. Dia masih mengenali teman-temannya yang datang.

Senin malam dapat kabar kalau Ita masuk ICU. Kondisinya drop. Ibu kost dan beberapa teman kembali mengunjungi Ita pada hari Selasa, yang kebetulan libur 1 Muharram. Lagi aku masih belum bisa ikut menjenguk karena sudah janji dengan teman. Somehow I just feel that her time is near😦 Teman-teman mengabarkan kalo Ita sudah ga sadar, sangat kurus, tulang pipinya menonjol dan mulutnya dijejali berbagai selang.

Hari ini, 8 Desember 2010, saat menanti dimulainya Town Hall Meeting di kantor, sebuah pesan masuk di BB-ku. Dari Diana, teman kost sekaligus teman satu kantor Ita. Berita duka. Ita sudah pulang ke Penciptanya jam 11 siang tadi.

Aku bersedih. Meski aku tidak sempat melihat Ita ketika dia di rumah sakit, aku tidak menyesal. Ini berarti ingatanku tentang Ita adalah Ita yang cantik, Ita yang sehat, seperti foto di atas. Bukan Ita yang lemah, yang tak sadar atau penuh dengan selang.

Doaku semoga keluarga Ita yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan penghiburan surgawi.

Selamat jalan Ita. May your soul rest in peace.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s