Atria

Standard

Tanggal 27 November 2010 aku mengunjungi sebuah panti di daerah Kramat Jati dalam rangka kunjungan Natal kantor. Natal di bulan November? Sounds weird😀

Terus terang aku sangat jarang berkunjung ke panti asuhan atau sejenisnya, masih bisa dihitung dengan jari tangan kuantitasnya. Setiap kunjungan selalu memberikan ‘sesuatu’ bagi jiwa, dan yang pasti mengucap syukur salah satunya.

Panti Rawinala

Panti yang kami kunjungi hari itu adalah Panti Rawinala, sebuah panti yang juga sekolah untuk anak-anak yang memiliki lebih dari satu keterbatasan. Rawinala berasal dari bahasa sansekerta yang berarti Cahaya Hati. Semua anak di panti ini mengalami low vision bahkan buta ditambah dengan keterbatasan lain seperti tuna rungu, tuna wicara dan lain-lain. Informasi lebih lanjut tentang Panti Rawinala bisa diakses di http://rawinala.or.id/.

Dari awal, panitia acara sudah mengatur bahwa setiap orang akan menjadi kakak asuh bagi satu orang anak panti. Selama acara berlangsung, kami diharuskan untuk menemani anak panti yang sudah ditentukan. Kami bisa mengajak mereka ngobrol, bermain, story telling (kalo anak asuhnya di bawah 7 tahun) dan sebagainya. Aku dipasangkan dengan Aditya yang berumur 13 tahun.

Kenyataan tidak selalu sesuai dengan rencana. Aku tidak berhasil menemukan Aditya di antara anak-anak panti yang datang saat itu. Akhirnya aku memutuskan untuk duduk bersebelahan dengan Atria, seorang anak perempuan berumur 13 tahun juga.

Atria langsung terlihat berbeda dari anak-anak yang lain. Dia cukup tinggi untuk anak seusianya dan kurus. Sebuah handuk kecil dilingkarkan di lehernya untuk menampung air liur-nya yang sering keluar dari mulutnya tanpa dia sadari. Salah satu hal yang membuat Atria berbeda adalah responnya ketika mendengarkan musik. Dia akan menggerakkan tubuhnya naik turun (seperti gerakan scout jump namun dengan kecepatan pelan) sekitar 10 kali, lalu memutar posisi badannya 90 derajat dan mulai lagi dengan gerakan seperti scout jump itu. Bagitu terus sampai musik berhenti. Tanpa lelah. Well, Atria pasti punya perut yang rata dan kencang🙂

Atria memiliki kemampuan penglihatan sekitar 40% dan tuna wicara. Dia berusia 9 tahun saat diantarkan ke Panti ini dan belum bisa berjalan. Setelah dilatih terus menerus, dia mulai bisa berjalan menjelang usia 11 tahun. Atria termasuk anak yang tinggal di Panti meskipun dia masih memiliki orang tua. Beberapa kali Atria mau menggenggam tanganku, meski tidak lama. Aku senang sekali😀, mengingat dia tidak mudah untuk dekat dengan orang yang baru dia kenal.

Acara Natal diisi dengan kebaktian kecil dan anak-anak panti tersebut yang menjadi pemain musiknya. Dengan segala keterbatasan mereka yang lebih dari satu itu, mereka menampilkan harmonisasi musik yang sangat baik. Mereka memainkan piano, gitar dan drum dengan baik. Setelah kebaktian selesai, beberapa anak panti menunjukkan kebolehan mereka bernyanyi. Bahkan ada yang menjadi seperti ’worship Leader’ ketika membawakan lagu ’Dia sungguh Baik’.

Saat lagu itu dinyanyikan, hatiku menangis. Seumur hidup mungkin mereka tidak pernah melihat dunia ini dengan jelas. Tidak pernah menyaksikan indahnya pelangi di langit, tidak pernah melihat bunga yang berwarna warni. Mungkin tidak pernah. Tapi mereka tetap bilang Tuhan itu baik. Mereka tetap bernyanyi memuji kebaikan Tuhan. Saat Anton, anak yang main paino, ditanya apa tujuannya main piano, dia menjawab ’untuk memuliakan Tuhan’. Gosh.

Tuhanku, hangatkan hati mereka semua yang ada di Panti Rawinala dengan kasihMu yang lembut. Kekal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s