Bengkulu – Hari Pertama

Standard

Tanggal 6 November 2010 tercatat sebagai kali pertamaku menginjakkan kaki di kota Bengkulu. My thanks goes to Mandala yang memberikan tiket sangat murah (48rb aja satu kali jalan) dan tentu saja Mak Ellen dan sekeluarga yang sudah menerima kami (aku dan Anse) sebegitu baiknya. Pokoke service-nya all out dah *empat jempol*

Pesawat Mandala yang membawa kami ke Bengkulu saat itu terasa sangat nyaman bila dibanding dengan low fare airlines lainnya yang pernah aku naiki. Jarak antar kursi cukup lapang sehingga kaki cukup leluasa ’dipanjangkan’ ke depan. Dan yang paling penting on time berangkatnya😀

Penerbangan dari Jakarta ke Bengkulu memerlukan waktu sekitar satu jam. Sayangnya, kami kurang berani untuk mengambil foto di depan nama Bandara Fatmawati Soekarno setelah keluar dari pesawat🙂

Tuan rumah sepertinya ngerti kalo kami belum sarapan, sehingga langsung membawa kami ke Warung Kopi. Menu andalan di warung ini adalah mie yang diolah menjadi banyak varian seperti mie goreng, mie tumis, mi kuah. Aku mencoba keberuntunganku dengan memesan mie tumis kuah. Rasanya lumayan enak. Porsinya cukup gede untuk ukuran menu sarapan. Kekenyangan.

Selesai sarapan, kami menuju kediaman tuan rumah untuk meletakkan tas dan menambah stok pampers Ellen. Sampai di rumah, Ellen yang masih pendiam saat bertemu kami di Bandara, langsung menjadi ceria. Ellen berusia 15 bulan, sudah bisa jalan, dan mulai senang mengoceh. Tidak perlu waktu lama bagi kami untuk bisa menggendong Ellen dan menikmati senyumnya yang manis.

Udara cukup panas hari itu, tapi tidak menghentikan kami untuk menjejakkan kaki di Benteng Marlborough. Cukup banyak foto yang aku ambil di sini. Foto benteng dari berbagai sisi, foto narsis, foto melompat, foto Ellen bersama papanya, foto kami rame-rame. Pak Ellen bisa diandalkan menjadi photographer kami.

Lelah berpanas-panas ria di Benteng Marlborough, tiba saatnya makan siang ^_^ Pak Ellen dengan sigap mengarahkan mobil ke rumah makan padang andalannya. Katanya, ikan yang disajikan di rumah makan ini enak karena ikannya pasti segar, bukan ikan sisa hari kemaren. Aku memilih ikan bakar. Daun singkong rebus-nya pun uenak, hehhe..

Selain mengunjungi Mak Ellen sekeluarga, aku juga ingin bertemu dengan Siti Aisah, teman kuliah dan teman kost di Yogya dulu. Sejak lulus kuliah, kami belum pernah bertemu lagi. Padahal dia sempat nguli di Jakarta 3 tahun lamanya. Sayangnya kami tetap tidak bisa bertemu di kota kelahirannya.

Aisah seorang dosen di Universitas Bengkulu dan saat itu lagi berada di Palembang dalam rangka tugas belajar. English course. Dia mau ambil S3 di luar Indonesia. Ternyata pertemuan yang tidak jadi ini meninggalkan rasa tidak enak di hatinya, sehingga dia menitahkan seorang mahasiswinya untuk memberikan aku sesuatu sebagai welcoming gift. Aku jadi merasa ga enak juga karena tidak membawa oleh-oleh apapun untuk dia. Kesimpulan kami sementara mungkin kami akan bertemu di Negara di mana dia akan mengambil S3-nya, hehehe..

Kediaman Soekarno - 6 Nov 2010

Selesai makan siang, kami kembali ke rumah untuk istirahat sejenak dan mengademkan diri. Setelah beristrahat ala kadarnya, kami melanjutkan perjalanan kami menuju Rumah kediaman Soekarno saat masa pengasingan dan juga rumah Ibu Fatmawati. Aku baru tahu kalo Ibu Negara pertama RI itu adalah gadis Bengkulu. Untuk memasuki rumah ini tidak dipungut biaya. Rumahnya tidak terlalu besar namun halamannya cukup luas. Ada beberapa kamar di dalam rumah. Ranjang dalam kamar tidur Soekarno boleh dinaiki. Beberapa pengunjung bahkan ada yang berbaring di atasnya dan minta dipotret. Aku sendiri merasa tidak nyaman menduduki tempat tidur itu. Ga tau kenapa😦

Puas berkeliling dan berfoto di rumah Soekarno, kami menuju rumah Ibu Fatmawati yang letaknya beda satu blok dari rumah Soekarno. Rumah panggung kecil yang sudah direnovasi. Cuma kami pengunjung saat itu, jadi kami cukup bebas untuk melihat-lihat benda yang ada di dalamnya. Ada foto-foto berbingkai yang dipajang di dinding. Kami, perempuan dewasa, sempat mengambil foto dengan memegang mesin jahit yang dipakai Bu Fatmawati untuk menjahit Sang Saka Merah Putih. Ellen bahkan sempat ganti popok di rumah itu.

Kediaman Fatmawati - 6 Nov 2010

Waktu sudah hampir jam 4 sore ketika kami melanjutkan perjalanan menuju Danau Dendam Tak Sudah. Nama yang unik. Menurut Pak Ellen, itu adalah sebuah dam (atau danau kecil) yang dibuat pada zaman penjajahan Belanda namun tidak selesai. Di sepanjang pinggir danau tersebut tersedia banyak kursi dan meja untuk bersantai sambil memancing ikan. Kami mampir sejenak. Aku memesan es kelapa. Segar.

Selanjutnya kami menuju pantai panjang. Di tengah perjalanan, kami mampir dulu di pasar untuk membeli durian..yay… Ternyata sore itu angin lumayan kencang berhembus di pinggir pantai. Ombak juga kelihatan tinggi. Tidak jadi basah-basahan. Kami menghabiskan sore dengan makan durian di pinggir pantai. Perut rasanya sangat penuh.

Menjelang jam 6 sore kami pun kembali ke rumah. Badan rasanya penat sekali dan lengket karena keringat. Sambil menanti giliran mandi, ya ngobrol-ngobrol deh. Aku bilang ke Mak Ellen dan Anse, aku membayangkan suatu saat kelak akan menjadi tuan rumah dan mengajak Modor keliling kota Medan. Tentunya dengan Pak Daniel, hihihi…

Malam minggu di Bengkulu diisi dengan makan malam keluarga di sebuah restoran *lupa namanya* andalan tuan rumah. Mak Ellen dengan tangkas menawarkan jus sayuran yang katanya sangat enak. Aku melewatkan tawaran jus sayur itu. Aku memesan sup pindang yang rasanya yummy.

Makanan yang kami konsumsi sepanjang hari itu, rasanya enak semua ^_^ Sayangnya, tak satupun di antaranya adalah makanan khas asli Bengkulu. Menurut Mak Ellen, penduduk Bengkulu yang multisuku membuat makanan yang ada di Bengkulu teradopsi dari masing-masing suku yang ada. Bahkan lapo pun mudah ditemui di kota Bengkulu.

Kami adalah pengunjung terakhir yang keluar dari restoran sekitar jam 10 malam. Sebelum kembali ke rumah, kami mampir dulu ke rumah Amang Pendeta, saudaranya Pak Ellen, yang mau memberikan persediaan lauk untuk keluarga Pak Ellen. Kami akhirnya tiba di rumah jam 11-an malam, dan langsung bersiap-siap tidur. Tak banyak obrolan menjelang tidur karena kami semua tewas kelelahan. Zzzzz…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s