Vegetarian

Standard

Salah satu kegiatan yang sangat aku tunggu saat berada di kantor adalah makan siang, hehehe.. Secara umum, ada dua kelompok makan siang di divisi-ku: 1). kelompok meja bulat (KMB), yaitu kelompok yang sering (baca: selalu) bawa bekal dari rumah dan 2). kelompok luar kantor, yaitu yang tidak (pernah) bawa bekal dari rumah. Tentu saja aku termasuk KMB ^_^

Meski setiap hari makan siang bareng di meja bulat yang cuma bisa dikelilingi maksimum delapan orang itu, namun kegiatan makan siang ini selalu diawali dengan saling melihat dan mengomentari menu masing-masing orang. Pas kemaren lagi ada satu Ibu hamil dalam KMB (baru saja satu hari yang lalu melahirkan), maka kami bisa melihat betapa ragam jenis makanan yang disiapkan oleh orang rumah untuk bumil ini. Komentar juga termasuk pertanyaan siapa yang memasak dan bagaimana cara memasak menu yang dibawa. Wanita sekaleeehh

Beberapa waktu yang lalu, seorang teman baru ikut makan bareng di meja bulat. Teman ini ternyata sudah belasan tahun jadi vegetarian, termasuk seluruh anggota keluarganya. Teman-teman KMB langsung tertarik untuk melihat menu yang dia bawa dan juga mendengar pengalamannya menjadi vege selama ini. Bahkan ada yang langsung terinspirasi memulai tahap jadi vege, meskipun sampai sekarang belum kesampaian *suer bukan aku*

Bagiku, rumit dan nelangsa banget ya jadi seorang vege. Ga boleh makan daging aja sudah bikin susah, apalagi kalo ga boleh makan ikan? Aku ngeri membayangkan diriku hanya makan ’tumbuh-tumbuhan’. Mungkin kalo dipaksakan ya ga mustahil juga sih. Tapi bukannya sesuatu yang dipaksakan itu tidak baik ya?😀

Dalam satu kesempatan, aku pernah mem-forward artikel ke milis tentang ’Fruits Week’, yaitu ajakan untuk menyantap buah setiap hari selama satu minggu. Seorang teman menanggapi bahwa memang pada awalnya manusia itu adalah vegetarian. Dia mengambil nats yang ada dalam Alkitab, yaitu ucapan Tuhan kepada manusia pertama:

Berfirmanlah Allah: “Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu”

Sepertinya sejak kejatuhan manusia dalam dosa, manusia pun mulai melebarkan pilihan makanannya tidak sebatas pada tumbuhan, namun juga hewan. Atau mungkin ini salah satu implementasi perintah Tuhan yang menyuruh manusia untuk berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi? Terus terang aku kurang paham.

Ada seorang teman yang kalo sedikit aja merasa ga enak badan, menjadikan itu alasan untuk menyantap sup b2. Menurutnya, badannya langsung segar kalau sudah menyantap b2. Aku bilang ke dia, ya masuk akal juga sih. B2 itu kan pemalas, kegiatannya hanya makan dan tidur. Jadi, selesai menyantap daging b2, ’roh’ pemalas b2 itu langsung bereaksi yang menyebabkan si pemakannya menjadi ngantuk dan tidur. Bangun tidur, jadi segaran deh, hehehe.. :p Sebaliknya, teman kantor yang vege itu, kalau sampai makan daging hewan apapun itu, meskipun ga sengaja, maka badannya langsung terasa tidak enak. Sungguh kontras.

Sepertinya, aku ga bisa deh jadi vegetarian. Untuk saat ini, aku tetap bertahan sebagai makhluk omnivora saja ^_^

–//–

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s