Guilty

Standard

Aku mendengar berita ini pertama kali pada hari sabtu, 3 hari yang lalu, dari salah satu tv swasta. Saat mendengar berita ini, hatiku sedih sekali. Seorang anak usia 11 tahun, namanya Basir, yang memiliki kerinduan teramat besar untuk sekolah, ternyata tidak sanggup menerima jawaban dari ibunya kalo dia harus menunda sekolah karena tidak ada biaya. Basir memutuskan bunuh diri dengan menggantung dirinya. Suddenly, i feel so guilty and shame on me.

Aku mendiskusikan cerita ini bersama Ibu dan teman kost saat makan malam, dan teman kost mengironikan kisah ini dengan anak-anak lain yang bisa sekolah tapi sibuk tawuran. Dalam hati dan pikiranku, aku bahkan membandingkan kisah anak ini dengan diriku. Aku yang menyia-nyiakan dua semester untuk menyelesaikan sekolah,’membuang’ uang yang mungkin bisa dipakai seorang Basir untuk sekolah bahkan sampai menamatkan SMA-nya di sekolah negeri.

Aku tidak dapat membayangkan penyesalanku, apabila aku benar-benar sampai melaksanakan niat-ku untuk DO. Maafkan aku Tuhan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s