Hutang Besar

Standard

Sudah punya NPWP pribadi? Bagus kalo sudah punya. Berarti akan berhemat 1 juta rupiah kalau ada rencana ke luar negeri tahun ini. Punya NPWP berarti bebas fiskal luar negeri, alasan nomor satu (atau satu-satunya?) ketika tahun 2008 yang lalu para pegawai kantor berbondong-bondong mendaftarkan diri untuk mendapatkan NPWP🙂

Punya NPWP berarti punya kewajiban lapor pajak tahunan. Sudah lapor SPT* belum? Kalau belum, waduhh.. siap-siap kena denda deh, karena batas waktu akhir pelaporan SPT Tahunan Orang Pribadi adalah 31 Maret. Lewat dari tanggal itu denda seratus ribu rupiah.

Aku lapor SPT tanggal 30 Maret 2010. Seharusnya bisa lebih cepat karena yang dilaporkan juga cuma SPT Nihil, yang artinya sumber penghasilanku selama tahun 2009 yang lalu hanya berasal dari kantor. Itu berarti pajak yang terutang atas penghasilanku sudah dipotong oleh kantor, sehingga tidak ada pajak yang harus aku bayarkan lagi. Salah dua informasi yang disampaikan dalam SPT adalah jumlah harta dan jumlah utang per tanggal 31 Desember 2009. Inilah yang bikin aku agak lama lapor SPT, males ngitung ada berapa banyak hutangku😀

Demi menghindari kena denda seratus ribu *dan apa juga kata dunia kalau staff @ tax division sampai telat lapor SPT* maka aku pun harus menghitung jumlah hutangku per 31 Desember 2009.

Hasilnya: ratusan juta, hikss..😦 Meski nilai asset yang dilaporkan lebih besar dari nilai utang, tetap saja tidak menghilangkan fakta bahwa aku punya asset dengan cara berhutang.

Metode pembayaran utang adalah dengan cara mencicil secara bulanan dalam jangka waktu sangat banyak bulan *hiks lagi*. Jadi, karena mencicil, aku tidak merasa punya hutang yang banyak. Namun, sesak nafas ini ketika lihat nilai totalnya.

 –//–

Tahun ini Jumat Agung dan Paskah jatuh pada awal April. Long weekend bagi sebagian orang, waktu yang panjang bagi aku sebenarnya (yang ga kemana-mana) untuk merenungi kembali pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib.

Pdt. Poltak YP Sibarani memberi ilustrasi menarik tentang penebusan. Dosa diilustrasikan sebagai hutang. Manusia berdosa kepada Tuhan, manusia berhutang kepada Tuhan. Tidak ada siapapun di dunia ini yang sanggup menebus hutang manusia kepada Tuhan, selain oleh Tuhan sendiri. Namun, penebusan itu tidak cukup hanya dengan Tuhan berkata ‘oke, utangmu lunas’. Harus ada tandanya. Harus ada darah yang tertumpah, karena tanpa darah tertumpah tidak ada penebusan.

Yesus Kristus menebus seluruh dosaku padaNya dengan nyawaNya sendiri.

Setiap hari, pasti ada dosa yang aku buat. Dengki, marah, irihati, hawa nafsu, you name it. Tapi karena dilakukannya ‘kecil-kecil’ dan tiap hari, akhirnya menjadi kebiasaan dan heyyy..aku ga sengaja. Namun ketika dosaku itu dikumpulkan, Tuhanku harus mati untuk bisa menebusku.

Seorang teman dalam status fesbuk nya membuat akuntansi dasar keselamatan.

Persamaan Akuntansi:

Aset = Modal + Hutang

Yesus adalah pemilik modal yang telah menebus dosaku dengan lunas.

Sehingga, persamaan akuntansi keselamatan:

Aset = Modal

Aku adalah aset Yesus, milikNya seutuhnya.

Aku yang kotor, penuh hutang, telah Yesus beli lunas dengan darahNya yang tak ternilai.

Kebiasaan berhutangku mungkin tak akan pernah hilang, namun bila aku berpikir pada total hutang yang akan timbul, tegakah aku menyalibkanNya lagi? Dan lagi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s