ungkapan cinta

Standard

Malam minggu kemaren, aku menghadiri kebaktian kecil di rumah Kak D. Kebaktian ini dalam rangka ucapan syukur atas kesembuhan kedua orang tua Kak D dari serangan jantung yang diderita bulan Nov-Des 2009 kemaren.

Ceritanya, pada bulan November kemaren mama kak D kena serangan jantung di Pekanbaru. Mendengar kabar itu, Kak D segera mengirimkan pesan singkat ke beberapa temannya minta dukungan doa atas kesembuhan mamanya. Kak D juga tidak bisa segera berangkat ke Pekanbaru untuk mengurusi mamanya karena dia harus menyelesaikan semua tugas kantor sebelum cuti mendadak itu. Bahkan saat teman-teman Kak D secara khusus berkumpul untuk doa bersama, Kak D tidak bisa datang karena masih harus di kantor menyelesaikan tugas-tugasnya.

Dari cerita mama Kak D, beliau hanya beberapa jam saja berada di rumah sakit, dan sudah diperbolehkan pulang keesokan harinya. Dia yakin itu terjadi karena kuasa doa yang dinaikkan baginya setelah dia menerima serangan jantung itu.Akhir tahun, tanggal 31 Desember 2009, giliran ayah Kak D yang kena serangan jantung, saat mereka sedang menikmati kebaktian akhir tahun. Keadaan semakin ribet karena ayahnya ga mau dibawa ke rumah sakit.

Prinsip ayahnya: ‘saya tidak takut mati. Bila  memang sudah saatnya, pasti akan mati. Sebaliknya, kalau belum saatnya, pasti akan tetap hidup. Ngapain juga ke rumah sakit, menghabiskan uang dan merepotkan semua orang’.

Walaupun pada akhirnya si ayah mau juga dibawa ke rumah sakit, itu karena Kak D sampai menangis meminta ayahnya mau dirawat di rumah sakit.

Saat Kak D dan kedua ortunya berbagi cerita malam itu, keharuan menyeruak di tengah kami yang mendengarkan. Kak D sebagai anak, berbahagia bisa mengetahui iman sang ayah yang tidak takut akan kematian, walaupun mungkin kak D belum siap mental untuk kehilangan. Di sisi lain, orangtuanya juga sudah melihat betapa Kak D menyayangi mereka dengan tak putus-putus menemani mereka di masa kritis itu. Keluarga ini mendapat pemulihan.

Rasanya wajar bila manusia takut mati, apapun alasannya, walaupun mengaku sebagai orang yang percaya Tuhan. Sehingga bagiku, merupakan satu hal yang ‘wah’ bila tidak memiliki ketakutan itu. Wah yang aku maksud tidak berlaku untuk mereka yang ‘berani’ bunuh diri karena tekanan hidup yang mendera ya..

Jadi ingat juga cerita seorang teman yang tahun lalu kehilangan ibunya karena kanker. Di masa ibunya masih sehat, sang Ibu pernah meminta pada anak-anaknya, bila kelak ia sakit parah yang memerlukan biaya pengobatan yang besar, anak-anaknya tidak usah mengobatinya sampai habis-habisan. Prinsip si Ibu hampir sama, kalau sudah saatnya dipanggil tidak akan ada yang dapat mencegah. Saat itu anak-anaknya setuju.

Ketika sakit itu datang, anak-anaknya seakan melupakan persetujuan mereka sebelumnya. Kata temanku ‘selama masih ada (dana), tidak mungkin seorang anak akan tega melihat orangtuanya kesakitan, meski orangtua kita juga berusaha untuk tidak menunjukkan kesakitan itu.’

Saat kita meminta orang-orang yang kita cintai untuk tidak melakukan sesuatu yang menurut kita akan merepotkan mereka, justru memenuhi permintaan kita itu lah yang menyusahkan hati mereka, karena sesungguhnya mereka juga sangat mencintai kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s