Tentang Pilihan

Standard

22Nov09 Reuni angkatan ’96 di Omah Sendok. Yang datang sekitar 20-an orang, tapi jadi rame karena rata-rata membawa keluarga. Aku termasuk yang datang sendirian, sama seperti dengan enam teman lainnya yang masih nyaman dengan keadaan single kami. Eh, aku sih nyaman, ga tau kalo mereka ya, hehehe..

Yang paling nyata berubah kami semua adalah penampilan fisik, khususnya para pria yang (makin) mbulet badannya. Namun tetap ada kok yang bisa menjaga fisik mereka tetap berada di level normal, bahkan mungkin kurus. Susah emang ya, mau nduut atau kurus tetap aja jadi bahan pertanyaan😀

Ada yang sudah punya 3 anak, ada yang lagi hamil anak pertama. Sepertinya junior yang paling gede dah duduk di kelas satu SD. Wahhh.. itu berarti dah menikah at least 7 tahun yang lalu dan langsung isi🙂

Ga seperti ktemuan dengan teman-teman Kamakris, di pertemuan kali ini tak ada pertanyaan ‘kok belum merit?’. Mungkin karena semua sudah tahu itu pertanyaan yang tak penting untuk diajukan, apalagi didukung wajah para single yang cerah ceria tanpa beban. Walaupun tetap pada sesi cipika cipiki saat pamitan, ada harapan yang terucap ‘semoga dah berubah status ya saat bertemu di reunian berikutnya’. Hahahha..

Sekali waktu ngobrol dengan seorang sahabat. Menurut sahabatku ini, jangan ‘salahkan’ Tuhan bila kamu masih single hingga sekarang. Itu pilihanmu! Ketika aku ‘membela diri’ bahwa A memang bukan yang diberikan Tuhan padaku, dia bertanya ‘emang Tuhan yang membuat kalian putus?’. Enggg….*spikles*

Menikah atau tidak menikah, itu pilihan.

Berbagai peristiwa saat aku memilih untuk menolak satu jalinan hubungan berkelabat dalam ingatan. *emang berapa pria sih yang kau tolak, Nde? Cem banyak kali aja pun* Ketika si Y menawarkan dirinya untuk berbagi hidup denganku, dengan manis aku tidak menerimanya. Saat si Z terbang ribuan mil untuk menemaniku ulangtahun di Yogya, namun ada sikapnya yang membuat aku ilfil, aku langsung membangun dinding yang tinggi dengan tulisan ‘kita ga cocok’. Saat si W memberi binar-binar senyumnya saat bertemu dengan aku dan beragam perhatian khusus lainnya, aku hanya bilang pada temanku yang bertanya mengapa kami ga jadian ‘pria lain juga melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan’.

Aku memilih dengan sadar.

Malam sebelum reuni, seorang adik menelpon.

‘Ga pacaran Kak? Siapa pacar kakak sekarang? Ga ada? Masa sih ga ada.. Kakak kan cantik, baik, suka berenang pula *ga ngerti maksudnya apa*. Pasti banyak lah cowok yang mau sama Kak.’

Pertanyaan dan pernyataan standar. Hanya kali ini jawabanku beda. Aku bisa mendengar suaraku menjawab dia ‘ya.. aku memilih tidak..’

Untuk saat ini.

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s