cooking & serving

Standard

Belakangan ini aku lagi senang-senangnya memasak. Sampe bela-belain beli panci segala untuk masak, karena wajan yang selama ini aku pakai juga dipakai teman kost untuk membuat roti bakar setiap pagi. Kasihan kalau temanku itu terpaksa makan roti bakar beraroma sambal, hehehe..

Selain panci, aku juga sudah beli handy mixer, mikirnya bakal segera diperlukan untuk membuat adonan roti *gara-gara sering browsing resep kue-kue yang dikukus*, meskipun terbukti tidak urgent, karena sampai sekarang tuh mixer belum pernah digunakan😀

Sudah hampir 3 minggu ini aku menyiapkan sendiri menu makan siangku. Minggu pertama cuma masak lauk, khususnya ikan. Nasi dan sayur masih ambil dari masakan Ibu. Bumbu-bumbu untuk masak ikan juga masih dirampok dari dapur Ibu, hehehe..

Mulai minggu kedua sampai sekarang, sayur termasuk yang aku masak sendiri. Yang diambil dari dapur Ibu cuma nasi plus beberapa bumbu yang aku lagi kehabisan stock-nya.

Ternyata, masak itu ga terlalu sulit kok *sombong* Sebagai pemula, aku termasuk koki yang ‘keren’ loh😉  Eitsss.. jangan mencibir dulu. Keren karena selama di dapur, BBku akan setia menemani. Bukan untuk foto-foto, tapi utk browsing. Keren kannn?  Iyaaahhh… aku masih harus mencontek resep, bahkan untuk resep yang sangat sederhana seperti brokoli saos tiram yang aku masak kemaren pagi😀

Biasanya aku menghabiskan waktu sekitar 1 jam untuk acara masak di pagi hari, untuk konsumsi 1 orang. Jadi, kebayang donk Ibu kost ku harus bangun jam berapa tiap pagi untuk menyiapkan sarapan kami, anak-anak kost-nya, yang sudah ada berangkat kerja jam 6.30 pagi? *lagi ga ada ART saat ini* Meskipun sering ada menu sisa malam sebelumnya yang dihangatkan, biasanya Ibu ‘berkreasi’ dengan menambahkan sesuatu ke dalam masakan itu. Belum lagi kalo ada permintaan khusus.

‘Bu, besok aku pengen makan sup sayur, tp maunya yang bening aja kuahnya’

‘Terong sambal yang Ibu buat 3 hari yang lalu enak deh, pedesnya mantap. Kapan lagi ya Ibu buat?’

‘Bu, besok aku request tempe goreng ya Bu..’

‘Bu, pengen krecek..’

‘Bu…’

Dan biasanya Ibu berusaha untuk memenuhi keinginan kami itu.

Ibu Kost jadi hapal si A suka banget ama tempe, kebanyakan kami doyan pedas, si D tak bisa makan pedas, si M suka banget dengan sayur, dll. Mungkin setiap hari Ibu pusing mikir harus masak apa ya biar bisa mengakomodir semua selera anak-anak kostnya ini *kami boleh makan lebih 3x sehari kalo mau dan sanggup*. Mungkin itu salah satu sebabnya kenapa Ibu suka masak dalam porsi besar, biar dia ga harus masak berulang-ulang, meski pada akhirnya sering ga habis :( Namun, Ibu kan ga harus sepanjang hari berada di dapur untuk menyediakan makanan fresh kala meal time tiba *beliau itu Ibu kost, yang empunya kost, bukan koki*

Kadang, jadi suka sedih kalo mendengar masih ada yang ‘mengeluh’ karena makanan yang tersedia ga fresh. Jeleknya lagi, pada ga berani ngeluh langsung ke Ibu. Aku termasuk yang pernah mengeluh diam-diam dengan masakan Ibu *maaf ya, Bu*, meskipun sangat jarang *aku kan pemakan segalanya*. Namun sejak aku memasak sendiri sayur dan lauk makan siangku, aku bisa merasakan kegiatan memasak itu cukup melelahkan. Aku janji tidak akan mengeluh lagi🙂

Kalo mau buat perhitungan, misal Ibu tidak menyediakan makanan dan mengurangi uang kost, tetap kami yang akan rugi. Makanan yang disediakan Ibu pasti jauh lebih higienis dan sehat bagi tubuh kami *kantong juga* Satu lagi yang terpenting,  hati Ibu yang ‘melayani’ kami melalui masakannya, nilainya jauh lebih mahal dibanding uang kost kami.

She is the best Ibu Kost I have ever met. Thank you, Ibu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s